Harga teknologi bersih terus menurun pada tahun 2025, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Harga paket baterai turun dari yang tadinya 118 Dolar As (sekitar Rp2,1 juta) per kilowatt-jam pada tahun 2024 menjadi 108 Dolar AS (sekitar Rp1,9 juta) per kWh, tetapi penurunan ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tingginya biaya bahan baku logam yang terus bertahan.
Harga panel surya juga turun dengan lebih lambat, salah satunya disebabkan oleh melonjaknya harga perak. Sementara itu, para produsen turbin angin justru sedikit menaikkan harga produk mereka untuk menutup kerugian yang mereka alami sebelumnya.
Kondisi harga yang bercampur ini mencerminkan situasi pasar yang terjebak di antara pertumbuhan pasokan barang yang sangat kuat dan meningkatnya keterbatasan bahan baku.
BloombergNEF juga menyoroti perubahan pola perdagangan di pasar panel surya dan baterai. Komponen setengah jadi seperti sel surya kini mengambil porsi yang lebih besar dalam perdagangan dunia, melonjak menjadi 44 persen pada tahun 2025 dari yang sebelumnya hanya 25 persen di tahun lalu.
Upaya India dalam mendongkrak sektor pabrik makin kuat, dan mereka berpotensi menjadi negara pengekspor besar seiring dengan langkah dunia yang terus memindahkan pusat produksinya keluar dari China. Turki juga mulai muncul sebagai pemain baru yang kompetitif.
Di sektor baterai, penggunaan untuk kendaraan listrik masih merajai jalur perdagangan. Meski begitu, baterai penyimpanan energi skala besar kini sedang berkembang sangat pesat, dan sekarang menyumbang 29 persen dari total pengiriman atau melonjak sebesar 64 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu upaya Amerika Serikat dan Eropa untuk membangun pabrik teknologi bersih di dalam negeri mereka sendiri memang sedang berjalan. Namun, BloombergNEF mencatat bahwa proyek-proyek tersebut tampaknya sulit untuk menjadi pusat ekspor yang mampu bersaing di pasar dunia.
Baca juga: Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Banyak proyek di sana yang masih fokus pada tahap akhir saja, yaitu sekadar merakit komponen bukan memproduksi seluruh bahan dari awal.
Beberapa pabrik yang sudah direncanakan juga mengalami penundaan karena sepinya permintaan pembeli dan kebijakan pemerintah yang masih belum pasti. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kemampuan mereka untuk bersaing dalam jangka panjang melawan pusat-pusat pabrik di Asia yang sudah jauh lebih mapan.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa perdagangan energi bersih sekarang makin dibentuk oleh alasan keamanan energi dan risiko bahan bakar fosil, bukan lagi sekadar karena kebijakan iklim semata.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar mungkin akan mempercepat peralihan mereka jika harga bahan bakar fosil terus-menerus mahal.
Bagi para pembuat kebijakan dan investor, pesannya sudah sangat jelas yakni rantai pasok energi bersih kini telah menjadi pilar strategi perdagangan dunia, yang berada di titik temu antara masalah ekonomi, keamanan negara, dan kebijakan industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya