Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan BNEF: Perdagangan Energi Bersih Global Tembus Rp 8.564 Triliun

Kompas.com, 29 Mei 2026, 14:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

Harga teknologi bersih terus menurun pada tahun 2025, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Harga paket baterai turun dari yang tadinya 118 Dolar As (sekitar Rp2,1 juta) per kilowatt-jam pada tahun 2024 menjadi 108 Dolar AS (sekitar Rp1,9 juta) per kWh, tetapi penurunan ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tingginya biaya bahan baku logam yang terus bertahan.

Harga panel surya juga turun dengan lebih lambat, salah satunya disebabkan oleh melonjaknya harga perak. Sementara itu, para produsen turbin angin justru sedikit menaikkan harga produk mereka untuk menutup kerugian yang mereka alami sebelumnya.

Kondisi harga yang bercampur ini mencerminkan situasi pasar yang terjebak di antara pertumbuhan pasokan barang yang sangat kuat dan meningkatnya keterbatasan bahan baku.

Pergeseran manufaktur dan penataan ulang perdagangan

BloombergNEF juga menyoroti perubahan pola perdagangan di pasar panel surya dan baterai. Komponen setengah jadi seperti sel surya kini mengambil porsi yang lebih besar dalam perdagangan dunia, melonjak menjadi 44 persen pada tahun 2025 dari yang sebelumnya hanya 25 persen di tahun lalu.

Upaya India dalam mendongkrak sektor pabrik makin kuat, dan mereka berpotensi menjadi negara pengekspor besar seiring dengan langkah dunia yang terus memindahkan pusat produksinya keluar dari China. Turki juga mulai muncul sebagai pemain baru yang kompetitif.

Di sektor baterai, penggunaan untuk kendaraan listrik masih merajai jalur perdagangan. Meski begitu, baterai penyimpanan energi skala besar kini sedang berkembang sangat pesat, dan sekarang menyumbang 29 persen dari total pengiriman atau melonjak sebesar 64 persen dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu upaya Amerika Serikat dan Eropa untuk membangun pabrik teknologi bersih di dalam negeri mereka sendiri memang sedang berjalan. Namun, BloombergNEF mencatat bahwa proyek-proyek tersebut tampaknya sulit untuk menjadi pusat ekspor yang mampu bersaing di pasar dunia.

Baca juga: Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas

Banyak proyek di sana yang masih fokus pada tahap akhir saja, yaitu sekadar merakit komponen bukan memproduksi seluruh bahan dari awal.

Beberapa pabrik yang sudah direncanakan juga mengalami penundaan karena sepinya permintaan pembeli dan kebijakan pemerintah yang masih belum pasti. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kemampuan mereka untuk bersaing dalam jangka panjang melawan pusat-pusat pabrik di Asia yang sudah jauh lebih mapan.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa perdagangan energi bersih sekarang makin dibentuk oleh alasan keamanan energi dan risiko bahan bakar fosil, bukan lagi sekadar karena kebijakan iklim semata.

Negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar mungkin akan mempercepat peralihan mereka jika harga bahan bakar fosil terus-menerus mahal.

Bagi para pembuat kebijakan dan investor, pesannya sudah sangat jelas yakni rantai pasok energi bersih kini telah menjadi pilar strategi perdagangan dunia, yang berada di titik temu antara masalah ekonomi, keamanan negara, dan kebijakan industri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau