Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain

Kompas.com, 3 Juni 2026, 14:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Radboud dan Universitas Stockholm mengungkapkan ketika aturan lingkungan menekan satu perusahaan, efeknya bisa menular ke perusahaan lain melalui hubungan dewan direksi yang saling terhubung, sehingga membuat perusahaan-perusahaan lain ikut mengurangi emisi mereka juga.

Namun, melansir Phys, Selasa (2/6/2026) studi yang dipublikasikan di jurnal Business Strategy and the Environment juga mencatat dampak positif tersebut terbatas karena perusahaan-perusahaan ternyata sering kali memindahkan kegiatan yang menghasilkan polusi ke tempat lain.

Dalam studi ini, peneliti mempelajari bagaimana hubungan antar pemimpin perusahaan dan ingin melihat apakah pembicaraan antar pemimpin ini punya pengaruh terhadap kebijakan lingkungan perusahaan mereka.

Untuk mengetahuinya, mereka menganalisis sekitar 2.000 perusahaan di seluruh dunia dengan melihat bagaimana cara perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi antara tahun 2003 dan 2020.

Baca juga: SBTi Kini Fokus Dorong Perusahaan Terapkan Target Iklim

Efek psikologis untuk jadi ramah lingkungan

Katarzyna Burzynska, seorang ahli ekonomi di Universitas Radboud dan salah satu penulis laporan tersebut menjelaskan ada efek psikologis dan persaingan di dunia bisnis.

Ketika sebuah perusahaan melihat perusahaan rekannya mulai berubah menjadi lebih ramah lingkungan, mereka akan merasa tertantang atau "malu" jika tidak ikut berubah. Fenomena ini disebut sebagai tekanan dari kelompok setara (peer pressure).

"Dan apa yang kami lihat dalam data menunjukkan bahwa banyak dari perusahaan ini memang benar-benar mengurangi total emisi mereka ketika perusahaan lain di dalam jaringan mereka menghadapi undang-undang lingkungan yang lebih ketat," katanya.

"Namun, kami juga menemukan bahwa mereka tidak mengurangi intensitas emisi mereka. Intensitas emisi adalah ukuran seberapa banyak polusi yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan ukuran bisnisnya, yang menunjukkan seberapa bersih atau ramah lingkungan cara kerja perusahaan tersebut," tambah Burzynska.

"Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan ini lebih memilih untuk menjual bagian-bagian pabrik mereka yang paling menghasilkan polusi, ketimbang menanam modal untuk teknologi yang lebih bersih atau memperbaiki cara kerja sehari-hari mereka. Polusinya tidak benar-benar berhenti melainkan hanya dipindahkan ke tempat lain," terangnya.

Memilih solusi yang lebih cepat

Menurut para peneliti, temuan ini mencerminkan peran dari sebagian besar dewan direksi. Para direktur lebih fokus pada gambaran besar perusahaan, ketimbang pada rincian teknis yang ada di dalam proses produksi pabrik.

"Tugas mereka adalah mengawasi dan membuat strategi. Oleh karena itu, ketika Anda memberi mereka target kelestarian lingkungan yang baru, mereka sering kali akan memilih solusi yang relatif cepat untuk mencapai target tersebut yaitu menjual sebagian bisnis mereka, daripada menanam modal untuk proses kerja yang lebih bersih. Hal ini terjadi karena mereka kekurangan pengetahuan untuk memeriksa proses produksi tersebut secara lebih mendalam," tulis peneliti.

Para peneliti juga menemukan bahwa dewan direksi yang memiliki banyak koneksi biasanya mendapatkan nilai lingkungan yang lebih tinggi. Nilai ini dikenal sebagai skor Environmental, Social, and Governance (ESG) yang sering digunakan oleh para investor untuk menilai seberapa ramah lingkungan sebuah perusahaan.

Baca juga: Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen

Namun Burzynska menjelaskan bahwa skor ESG ini sebagian hanya didasarkan pada apa yang dilaporkan sendiri oleh perusahaan tentang rencana dan cita-cita mereka, bukan berdasarkan jumlah polusi nyata yang mereka hasilkan.

"Jika sebuah perusahaan berjanji untuk melakukan perbaikan di masa depan, skor akan otomatis naik. Sampai pada titik tertentu, penilaian ini lebih berpatokan pada apa yang mereka katakan akan mereka lakukan, bukan pada apa yang benar-benar mereka lakukan di lapangan," paparnya.

Laporan penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan memang bereaksi ketika ditekan. Selain itu, perusahaan yang saling terhubung lewat jaringan dewan direksi juga cenderung mengambil langkah serupa saat ada aturan iklim yang menjerat perusahaan lain di dalam jaringan mereka.

"Namun, seperti yang kami lihat dalam data kami, pengurangan emisi pada satu perusahaan tidak berarti polusi itu benar-benar hilang sepenuhnya. Ini adalah tantangan besar bagi para pembuat kebijakan. Aturan yang hanya fokus pada target angka emisi justru memicu perusahaan untuk memindahkan polusi mereka, bukannya menghapusnya sama sekali. Perusahaan memang bereaksi terhadap tekanan, tetapi tidak selalu dengan cara positif yang kita harapkan," tambah peneliti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau