KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Radboud dan Universitas Stockholm mengungkapkan ketika aturan lingkungan menekan satu perusahaan, efeknya bisa menular ke perusahaan lain melalui hubungan dewan direksi yang saling terhubung, sehingga membuat perusahaan-perusahaan lain ikut mengurangi emisi mereka juga.
Namun, melansir Phys, Selasa (2/6/2026) studi yang dipublikasikan di jurnal Business Strategy and the Environment juga mencatat dampak positif tersebut terbatas karena perusahaan-perusahaan ternyata sering kali memindahkan kegiatan yang menghasilkan polusi ke tempat lain.
Dalam studi ini, peneliti mempelajari bagaimana hubungan antar pemimpin perusahaan dan ingin melihat apakah pembicaraan antar pemimpin ini punya pengaruh terhadap kebijakan lingkungan perusahaan mereka.
Untuk mengetahuinya, mereka menganalisis sekitar 2.000 perusahaan di seluruh dunia dengan melihat bagaimana cara perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi antara tahun 2003 dan 2020.
Baca juga: SBTi Kini Fokus Dorong Perusahaan Terapkan Target Iklim
Katarzyna Burzynska, seorang ahli ekonomi di Universitas Radboud dan salah satu penulis laporan tersebut menjelaskan ada efek psikologis dan persaingan di dunia bisnis.
Ketika sebuah perusahaan melihat perusahaan rekannya mulai berubah menjadi lebih ramah lingkungan, mereka akan merasa tertantang atau "malu" jika tidak ikut berubah. Fenomena ini disebut sebagai tekanan dari kelompok setara (peer pressure).
"Dan apa yang kami lihat dalam data menunjukkan bahwa banyak dari perusahaan ini memang benar-benar mengurangi total emisi mereka ketika perusahaan lain di dalam jaringan mereka menghadapi undang-undang lingkungan yang lebih ketat," katanya.
"Namun, kami juga menemukan bahwa mereka tidak mengurangi intensitas emisi mereka. Intensitas emisi adalah ukuran seberapa banyak polusi yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan ukuran bisnisnya, yang menunjukkan seberapa bersih atau ramah lingkungan cara kerja perusahaan tersebut," tambah Burzynska.
"Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan ini lebih memilih untuk menjual bagian-bagian pabrik mereka yang paling menghasilkan polusi, ketimbang menanam modal untuk teknologi yang lebih bersih atau memperbaiki cara kerja sehari-hari mereka. Polusinya tidak benar-benar berhenti melainkan hanya dipindahkan ke tempat lain," terangnya.
Menurut para peneliti, temuan ini mencerminkan peran dari sebagian besar dewan direksi. Para direktur lebih fokus pada gambaran besar perusahaan, ketimbang pada rincian teknis yang ada di dalam proses produksi pabrik.
"Tugas mereka adalah mengawasi dan membuat strategi. Oleh karena itu, ketika Anda memberi mereka target kelestarian lingkungan yang baru, mereka sering kali akan memilih solusi yang relatif cepat untuk mencapai target tersebut yaitu menjual sebagian bisnis mereka, daripada menanam modal untuk proses kerja yang lebih bersih. Hal ini terjadi karena mereka kekurangan pengetahuan untuk memeriksa proses produksi tersebut secara lebih mendalam," tulis peneliti.
Para peneliti juga menemukan bahwa dewan direksi yang memiliki banyak koneksi biasanya mendapatkan nilai lingkungan yang lebih tinggi. Nilai ini dikenal sebagai skor Environmental, Social, and Governance (ESG) yang sering digunakan oleh para investor untuk menilai seberapa ramah lingkungan sebuah perusahaan.
Baca juga: Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Namun Burzynska menjelaskan bahwa skor ESG ini sebagian hanya didasarkan pada apa yang dilaporkan sendiri oleh perusahaan tentang rencana dan cita-cita mereka, bukan berdasarkan jumlah polusi nyata yang mereka hasilkan.
"Jika sebuah perusahaan berjanji untuk melakukan perbaikan di masa depan, skor akan otomatis naik. Sampai pada titik tertentu, penilaian ini lebih berpatokan pada apa yang mereka katakan akan mereka lakukan, bukan pada apa yang benar-benar mereka lakukan di lapangan," paparnya.
Laporan penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan memang bereaksi ketika ditekan. Selain itu, perusahaan yang saling terhubung lewat jaringan dewan direksi juga cenderung mengambil langkah serupa saat ada aturan iklim yang menjerat perusahaan lain di dalam jaringan mereka.
"Namun, seperti yang kami lihat dalam data kami, pengurangan emisi pada satu perusahaan tidak berarti polusi itu benar-benar hilang sepenuhnya. Ini adalah tantangan besar bagi para pembuat kebijakan. Aturan yang hanya fokus pada target angka emisi justru memicu perusahaan untuk memindahkan polusi mereka, bukannya menghapusnya sama sekali. Perusahaan memang bereaksi terhadap tekanan, tetapi tidak selalu dengan cara positif yang kita harapkan," tambah peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya