Anak-anak dan orang-orang yang tinggal di lingkungan miskin menghadapi risiko terbesar. Hal ini mencerminkan adanya ketidakadilan yang terus terjadi dalam sistem pangan, akses layanan kesehatan, dan kebersihan lingkungan.
Dampaknya juga meluas jauh melampaui masalah kesehatan saja.
WHO memperkirakan bahwa penyakit akibat makanan menyebabkan hilangnya produktivitas sekitar 310 miliar dolar AS pada tahun 2021 karena orang-orang harus absen dari pekerjaan mereka.
Jika disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antarnegara, kerugian ekonomi tersebut melonjak hingga diperkirakan mencapai 647 miliar AS.
Baca juga: Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Laporan ini pun menurut Yuki Minato, seorang pejabat teknis WHO untuk keamanan pangan sekaligus penulis utama dari studi menjadi sebuah peringatan keras namun juga sekaligus sebagai sebuah peta jalan.
"Data menunjukkan bahwa penyakit akibat makanan tidak hanya terus terjadi, tetapi juga diperparah oleh perubahan iklim yang meningkatkan risiko pencemaran, serta oleh kekebalan kuman terhadap obat yang membuat infeksi semakin sulit diobati. Kita tidak bisa mengatasi ancaman ini sendirian," kata Minato.
WHO menyatakan bahwa temuan ini harus membantu negara-negara untuk mengarahkan bantuan dengan tepat sasaran, memperkuat pengawasan, dan meningkatkan kerja sama di berbagai sektor seperti kesehatan, pertanian, dan lingkungan.
"Menunda-nunda akan mengorbankan nyawa," peringat Minato.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet Global Health.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya