Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun

Kompas.com, 6 Juni 2026, 09:54 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Anadolu

JAKARTA, KOMPAS.com - Fitoplankton, organisme mikroskopis yang hidup di laut, memiliki peran penting dalam membantu mengurangi dampak krisis iklim dengan menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Menariknya, pertumbuhan fitoplankton turut didukung oleh kotoran paus yang kaya nutrisi.

Ilmuwan kelautan dari Universitas Stanford, Matthew Savoca, menjelaskan bahwa fitoplankton bekerja layaknya tumbuhan di daratan yang menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis.

"Fitoplankton hampir seperti rumput, hanya saja berada di lautan. Saat mereka tumbuh, mereka menyerap karbon dioksida dan memasukkannya ke dalam sel-sel mereka," ujar Savoca, dikutip dari Anadolu, Sabtu (6/6/2026).

Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun

Karbon yang tersimpan dalam tubuh fitoplankton dapat terkunci di laut dalam ketika organisme tersebut mati dan tenggelam ke dasar laut. Proses ini memungkinkan karbon tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum kembali ke atmosfer.

Peran fitoplankton tidak hanya penting bagi iklim, tetapi juga bagi keberlangsungan ekosistem laut. Organisme ini menjadi fondasi rantai makanan laut karena dimakan oleh zooplankton, seperti krill, yang kemudian menjadi makanan bagi ikan dan mamalia laut, termasuk paus.

Peran paus

Dalam siklus tersebut, paus memiliki peran yang tidak kalah penting. Hewan mamalia laut raksasa itu membantu menyuburkan fitoplankton melalui kotorannya yang kaya zat besi dan nitrogen.

Savoca mengibaratkan paus sebagai "tukang kebun" yang membantu menjaga produktivitas ekosistem laut.

"Melalui proses itu, kami memperkirakan paus dapat memberikan dampak terhadap iklim, meski jalurnya bersifat tidak langsung," kata dia.

Fenomena ini dikenal sebagai "pompa paus" (whale pump). Saat mencari makan, sejumlah spesies paus, seperti paus sperma dan paus biru, menyelam hingga kedalaman laut untuk memangsa krill atau cumi-cumi yang kaya nutrisi. Ketika kembali ke permukaan, paus mengeluarkan kotoran yang membawa nutrisi dari laut dalam ke lapisan atas laut.

Nutrisi tersebut kemudian dimanfaatkan fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan fitoplankton yang lebih besar berarti semakin banyak karbon dioksida yang dapat diserap dari atmosfer.

Baca juga: Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS

Berdasarkan penjelasan International Fund for Animal Welfare (IFAW), fitoplankton juga berperan penting dalam menghasilkan oksigen. Organisme mikroskopis ini diperkirakan menghasilkan sekitar setengah dari total oksigen yang dihirup manusia di Bumi.

Selain menopang kehidupan laut, keberadaan plankton dinilai semakin penting di tengah ancaman krisis iklim. Kenaikan suhu laut dan meningkatnya tingkat keasaman air laut diketahui dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut, termasuk terumbu karang dan berbagai spesies laut lainnya.

Ahli biologi paus sekaligus pendiri Dominica Sperm Whale Project, Shane Gero, mengatakan paus sperma yang hidup di perairan Dominika diduga memiliki kontribusi besar dalam mendukung pertumbuhan plankton karena lebih sering membuang kotoran di dekat permukaan laut.

Menurut Gero, aktivitas tersebut secara tidak langsung membantu penyerapan karbon dioksida melalui peningkatan populasi plankton.

"Dalam beberapa hal, paus sperma memerangi krisis iklim atas nama kita," ujar Gero.

Meski demikian, para ilmuwan masih terus mempelajari seberapa besar kontribusi paus terhadap siklus karbon global. Yang jelas, keberadaan paus dan plankton menunjukkan bahwa kesehatan ekosistem laut memiliki hubungan erat dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga stabilitas iklim dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau