Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI

Kompas.com, 6 Juni 2026, 19:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sampah makanan menjadi masalah menahun yang sangat membebani industri pembuatan, pengiriman, dan penjualan pangan di dunia, namun kehadiran teknologi sensor AI (kecerdasan buatan) generasi baru kini memberikan banyak solusi segar.

"Banyak contoh sensor berbasis AI yang sekarang dipakai di industri makanan untuk menjaga keamanan produk, mempertahankan kualitas, dan membuat produksi jadi jauh lebih efisien," jelas Profesor Vi-Khanh Truong dari Universitas Flinders.

"Studi ini menunjukkan besarnya potensi sistem sensor AI untuk menghemat pemakaian listrik, bahan bakar, dan mengurangi sampah makanan di sepanjang rantai pasokan," katanya lagi dikutip dari Phys, Rabu (3/6/2026).

Aplikasi AI dalam industri makanan

Sebagai contoh, sistem pengeringan pintar dibantu AI bisa mendeteksi kondisi pengolahan terbaik secara langsung, sehingga sangat menghemat pemakaian listrik yang berlebihan saat proses mengeringkan makanan.

Begitu juga dengan sistem pembaca kedaluwarsa pintar yang bisa mencegah makanan dibuang terlalu cepat, sehingga mengurangi kerugian uang sekaligus memotong polusi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah makanan.

Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan

Rantai pasokan makanan dunia sangat butuh sistem pengawasan yang tidak hanya akurat, tapi juga cepat, tidak merusak bahan makanan, dan bisa dipakai dalam skala besar.

Ini karena cara-cara lama di laboratorium untuk memeriksa kualitas dan keamanan makanan seperti uji kimia gas, pembiakan kuman, dan tes rasa manual sering kali merusak makanan, memakan waktu lama, membuat antrean produksi macet, dan butuh pekerja ahli khusus.

Para peneliti sendiri menemukan berbagai macam sistem sensor pintar yang mulai digunakan di industri makanan. Sensor-sensor tersebut meliputi kamera pemindai pintar, alat pencitraan warna super detail, hidung elektronik, lidah elektronik, sensor gelombang mikro, sensor hemat baterai berbasis internet (IoT), hingga alat pemindai cahaya dan bahan kimia canggih lainnya.

Bahkan sistem hidung elektronik dibantu AI yang mampu menebak asal daerah atau negara tempat kopi ditanam dengan tingkat keakuratan mencapai 97,5 persen serta sistem komputer pintar yang bisa meramal kapan daging, ikan, buah, dan susu akan membusuk.

Sistem komunikasi tanpa kabel (nirkabel) yang dipasang bersama kumpulan sensor pintar AI juga berhasil membuat jaringan bekerja lebih cepat, menghemat pemakaian baterai atau alat, serta meningkatkan keakuratan dalam meramal kondisi makanan.

Efisiensi produksi makanan

"Dengan kemampuan mengawasi secara langsung dan meramal kondisi ke depan, sistem pintar ini bisa mengatur proses pembuatan makanan dengan sangat pas, mengurangi kerugian akibat salah kirim atau salah simpan, menghemat setrum listrik untuk mesin pendingin, dan membuat jalur pengiriman barang menjadi jauh lebih efisien," kata Profesor Truong.

Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia

Secara keseluruhan, teknologi-teknologi ini mendukung industri makanan yang lebih ramah lingkungan dan hemat bahan baku dengan cara mengurangi jumlah sampah yang terbentuk, menurunkan pemakaian bensin dan listrik, serta menjaga kelestarian jalur pengiriman barang dari hulu ke hilir.

Lebih lanjut, Profesor Truong memprediksi bahwa ke depan akan ada lonjakan besar dalam penggunaan gabungan antara komputer pintar dan sensor di industri makanan.

Tujuannya adalah untuk membuat pemilihan jenis analisis makanan menjadi lebih tepat sasaran, serta mencapai keakuratan mutlak secara lebih cepat tanpa perlu proses belajar AI yang bertele-tele.

"Sensor makanan saat ini sudah banyak dibuat menggunakan bahan partikel super kecil karena kemampuan hantaran listriknya yang sangat bagus. Namun, kami yakin pemilihan sensor-sensor ini masih bisa ditingkatkan lagi agar mampu mendeteksi lebih banyak jenis zat. Hal ini akan membuat sistem sensor kita bisa diisi oleh beberapa model AI sekaligus untuk melacak berbagai macam racun atau kotoran berbahaya di dalam bahan makanan," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau