KOMPAS.com-Industri pencucian bahan denim terus menunjukkan kemajuan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa industri ini belum bisa 100 persen disebut ramah lingkungan.
Masalah utamanya masih ada penggunaan bahan kimia sehingga menjadi beban berat bagi nilai kelestarian lingkungan industri ini.
Melansir Know ESG, Senin (8/6/2026) menurut laporan tahun 2025 dari platform Pengukuran Dampak Lingkungan (EIM) yang diterbitkan pada 5 Juni yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sektor ini membaik di beberapa bidang, tetapi kemajuannya belum merata.
Kemajuan industri denim menjaga lingkungan
Hasil disimpulkan setelah studi memeriksa 100.280 proses akhir pembuatan tekstil dari 359 pabrik sepanjang tahun 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa 66 persen dari proses pembuatan denim masuk dalam kategori berdampak rendah terhadap lingkungan, yang mencerminkan adanya perbaikan bertahap pada sistem produksi.
Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Sementara proses yang berdampak sedang berjumlah 30 persen, sementara proses yang berdampak tinggi alias sangat merusak lingkungan telah turun hingga tinggal 4 persen saja.
Laporan ini mengaitkan perubahan positif tersebut dengan penggunaan teknologi yang lebih baik dan produksi yang lebih efisien di berbagai pabrik.
Di antara semua penilaian ramah lingkungan, penghematan energi menjadi bidang dengan hasil yang paling memuaskan. Sekitar 85 persen dari proses pencucian denim kini dianggap berdampak rendah dalam hal penggunaan energi, dan rata-rata pemakaian listrik telah turun hampir 7 persen menjadi 1,09 kilowatt-jam per helai pakaian.
Laporan ini juga menunjukkan dampak positif bagi kesehatan para pekerja, di mana 68 persen dari kegiatan pabrik menunjukkan risiko kesehatan yang rendah.
Namun, tidak semua bidang mengalami kemajuan yang sama cepatnya. Pengelolaan air dalam proses akhir pembuatan tekstil terlihat mulai melambat setelah bertahun-tahun mengalami perbaikan bertahap.
Meskipun 69 persen proses dinilai berdampak rendah untuk penggunaan air, rata-rata konsumsi air tetap bertahan di angka sekitar 30 liter per helai pakaian. Laporan EIM mencatat bahwa penghematan air yang lebih besar di masa depan akan sangat bergantung pada sistem daur ulang dan pengolahan air yang canggih, yang membutuhkan perombakan besar pada fasilitas yang ada dalam rantai bisnis tekstil ramah lingkungan.
Dampak penggunaan bahan kimia bagi lingkungan
Meskipun sudah ada berbagai perbaikan, dampak penggunaan bahan kimia dalam industri pencucian denim tetap menjadi tantangan yang paling sulit. Hanya 28 persen dari proses pencucian yang masuk kategori berdampak rendah di bidang ini, sementara 46 persen masuk kategori sedang, dan 27 persen masih berdampak tinggi atau merusak.
Menurut laporan Pengukuran Dampak Lingkungan (EIM), terus digunakannya bahan kimia komersial biasa dan campuran zat yang tidak jelas kandungannya menjadi penyebab utama di balik buruknya hasil tersebut.
Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Cara-cara lama yang masih dipertahankan juga terus memperlambat kemajuan. Penggunaan batu apung, meski sudah sedikit berkurang, ternyata masih dipakai di 14 persen aktivitas pabrik dan otomatis membuat nilai kerusakan kimianya menjadi yang paling buruk.
Begitu pula dengan semprotan kalium permanganat yang masih digunakan di 15 persen proses pencucian, di mana zat ini terbukti memberikan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan maupun kesehatan para pekerja.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun industri pencucian denim telah mengalami kemajuan yang berarti dalam hal penghematan energi, pembuatan pakaian, dan perbaikan sistem produksi secara keseluruhan, tahapan ramah lingkungan berikutnya akan sangat bergantung pada penghapusan total cara-cara lama yang menggunakan banyak bahan kimia berbahaya.
Tanpa adanya perubahan ini, dampak buruk dari zat kimia dalam proses akhir pembuatan tekstil kemungkinan besar akan tetap menjadi penghambat terbesar yang paling sulit diatasi bagi perubahan industri denim menuju arah yang benar-benar ramah lingkungan.
sumber https://knowesg.com/climate-environment/denim-washing-industry-sustainability-efforts-stall-on-chemical-impact-issues
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya