Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia

Kompas.com, 9 Juni 2026, 15:09 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com-Industri pencucian bahan denim terus menunjukkan kemajuan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa industri ini belum bisa 100 persen disebut ramah lingkungan.

Masalah utamanya masih ada penggunaan bahan kimia sehingga menjadi beban berat bagi nilai kelestarian lingkungan industri ini.

Melansir Know ESG, Senin (8/6/2026) menurut laporan tahun 2025 dari platform Pengukuran Dampak Lingkungan (EIM) yang diterbitkan pada 5 Juni yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sektor ini membaik di beberapa bidang, tetapi kemajuannya belum merata.

Kemajuan industri denim menjaga lingkungan

Hasil disimpulkan setelah studi memeriksa 100.280 proses akhir pembuatan tekstil dari 359 pabrik sepanjang tahun 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa 66 persen dari proses pembuatan denim masuk dalam kategori berdampak rendah terhadap lingkungan, yang mencerminkan adanya perbaikan bertahap pada sistem produksi.

Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...

Sementara proses yang berdampak sedang berjumlah 30 persen, sementara proses yang berdampak tinggi alias sangat merusak lingkungan telah turun hingga tinggal 4 persen saja.

Laporan ini mengaitkan perubahan positif tersebut dengan penggunaan teknologi yang lebih baik dan produksi yang lebih efisien di berbagai pabrik.

Di antara semua penilaian ramah lingkungan, penghematan energi menjadi bidang dengan hasil yang paling memuaskan. Sekitar 85 persen dari proses pencucian denim kini dianggap berdampak rendah dalam hal penggunaan energi, dan rata-rata pemakaian listrik telah turun hampir 7 persen menjadi 1,09 kilowatt-jam per helai pakaian.

Laporan ini juga menunjukkan dampak positif bagi kesehatan para pekerja, di mana 68 persen dari kegiatan pabrik menunjukkan risiko kesehatan yang rendah.

Namun, tidak semua bidang mengalami kemajuan yang sama cepatnya. Pengelolaan air dalam proses akhir pembuatan tekstil terlihat mulai melambat setelah bertahun-tahun mengalami perbaikan bertahap.

Meskipun 69 persen proses dinilai berdampak rendah untuk penggunaan air, rata-rata konsumsi air tetap bertahan di angka sekitar 30 liter per helai pakaian. Laporan EIM mencatat bahwa penghematan air yang lebih besar di masa depan akan sangat bergantung pada sistem daur ulang dan pengolahan air yang canggih, yang membutuhkan perombakan besar pada fasilitas yang ada dalam rantai bisnis tekstil ramah lingkungan.

Dampak penggunaan bahan kimia bagi lingkungan

Meskipun sudah ada berbagai perbaikan, dampak penggunaan bahan kimia dalam industri pencucian denim tetap menjadi tantangan yang paling sulit. Hanya 28 persen dari proses pencucian yang masuk kategori berdampak rendah di bidang ini, sementara 46 persen masuk kategori sedang, dan 27 persen masih berdampak tinggi atau merusak.

Menurut laporan Pengukuran Dampak Lingkungan (EIM), terus digunakannya bahan kimia komersial biasa dan campuran zat yang tidak jelas kandungannya menjadi penyebab utama di balik buruknya hasil tersebut.

Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya

Cara-cara lama yang masih dipertahankan juga terus memperlambat kemajuan. Penggunaan batu apung, meski sudah sedikit berkurang, ternyata masih dipakai di 14 persen aktivitas pabrik dan otomatis membuat nilai kerusakan kimianya menjadi yang paling buruk.

Begitu pula dengan semprotan kalium permanganat yang masih digunakan di 15 persen proses pencucian, di mana zat ini terbukti memberikan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan maupun kesehatan para pekerja.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun industri pencucian denim telah mengalami kemajuan yang berarti dalam hal penghematan energi, pembuatan pakaian, dan perbaikan sistem produksi secara keseluruhan, tahapan ramah lingkungan berikutnya akan sangat bergantung pada penghapusan total cara-cara lama yang menggunakan banyak bahan kimia berbahaya.

Tanpa adanya perubahan ini, dampak buruk dari zat kimia dalam proses akhir pembuatan tekstil kemungkinan besar akan tetap menjadi penghambat terbesar yang paling sulit diatasi bagi perubahan industri denim menuju arah yang benar-benar ramah lingkungan.

sumber https://knowesg.com/climate-environment/denim-washing-industry-sustainability-efforts-stall-on-chemical-impact-issues

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau