JAKARTA, KOMPAS.com - Selama terjadi El Nino, suhu laut di sejumlah perairan Indonesia akan cenderung menurun akibat perpindahan massa air hangat ke arah timur untuk bergerak menuju Samudra Pasifik.
Menurut Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi, perpindahan massa air hangat tersebut akan diiringi pergeseran ikan, seperti tuna dan cakalang.
"Yang biasanya di Indonesia itu airnya hangat, itu kalau terjadi El Nino nanti kondisinya malah turun suhunya. Nah, turun suhunya itu malah ada dampak positif juga sebenarnya bagi laut Indonesia, di mana ikan-ikan ikut bergeser mengikuti laut yang hangat," ujar A'an kepada Kompas.com usai acara Memperingati Hari Laut 2026; Sustainable Marine Resource for Our Blue Planet di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ketika El Nino berkembang, nelayan akan lebih mudah menangkap ikan tuna karena perubahan kondisi oseanografi yang menyebabkan kedalaman termoklin menjadi lebih dangkal. Imbasnya, ikan tuna berada lebih dekat ke permukaan laut di beberapa daerah di Indonesia.
Termoklin adalah lapisan pembatas antara air hangat di permukaan dan air dingin di bawah.
"Nah, itu (termoklin) semakin naik. Nah, ketika termoklinnya semakin naik, maka beberapa daerah itu justru tuna-tuna semakin banyak muncul ke permukaan, ada cakalang dan ikan lainnya itu kan ingin air yang hangat. Ikan-ikan itu bergeser ke (Samudra) Pasifik, mengikuti massa air hangat," tutur A'an.
Kendati mayoritas bergerak ke timur menuju Samudera Pasifik, kata dia, ikan tuna yang tetap tinggal atau tidak mengikuti massa air hangat kemungkinan masih ada dalam jumlah lebih sedikit.
Ikan-ikan tuna yang tetap tinggal di perairan laut Indonesia bagian barat itu juga justru lebih mudah ditangkap nelayan karena berada lebih dekat ke permukaan laut.
"Sebenarnya El Nino itu kan menggeser tuna, cuma karena lapisan termoklinnya naik, tunanya ikut naik, yang sedikit itu naik jadi seolah-olah kita dapatnya lebih banyak," ucapnya.
Di sisi lain, perairan laut Indonesia bagian timur kemungkinan akan kedatangan banyak ikan tuna yang mengikuti massa air hangat.
"(Akan lebih banyak ikan tuna) di laut Banda, di laut Sulawesi, dan daerah Halmahera, itu kemungkinannya," ujar Aan.
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Zona perairan di laut Indonesia bagian timur akan merespons dampak El Nino secara berbeda dengan wilayah barat yang utara maupun selatan. Namun, secara keseluruhan, tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra pasifik.
Tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia juga ditentukan oleh interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Ketika El Nino kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, tingkat keparahan dampaknya akan semakin kuat atau bisa terjadi El Nino Godzilla.
Kata dia, sebagian besar permodelan memprediksi El Nino pada 2026 cenderung berada pada kategori sedang hingga kuat.
"Nah, dari semua sistem model atau prediksi itu, itu memang kecenderungan untuk nanti menjadi moderate ke strong itu lebih besar peluangnya. Meskipun, kita tidak bisa memprediksi, "Oh
nanti jadi 'El Niño Godzilla' atau apa gitu ya. Tapi kita melihat masih dalam proses pemantauan nih, salah satunya oleh NOAA (milik Amerika Serikat / AS)," ujar A'an.
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Ia mengungkapkan, tingkat keparahan dampak El Nino di Sumatera dan Jawa sangat tergantung pada IOD, apakah interaksinya akan berakhir menguatkan atau saling melemahkan. Dalam mempertimbangkan tingkat keparahan dampak El Nino, Indonesia masih berkiblat ke AS, yang mana kawasannya sangat terdampak, termasuk terkait pemutihan karang.
Padahal, dampak El Nino di Indonesia kemungkinan bisa berbeda, seperti pemutihan karang tidak akan terjadi di Indonesia yang mana El Nino justru menyebabkan air laut semakin dingin.
"Sudah banyak penelitian, menggunaakan data-data untuk memprediksi, membandingkan antara kondisi El Niño, kondisi La Niña, kondisi IOD positif atau IOD negatif, itu kemudian dikomparasi dengan aspek klorofilnya, aspek ikannya, aspek produksi perikanan dan sebagainya itu sudah banyak penelitiannya. Yang belum ada itu adalah prediksi prediksi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) dan IOD dari data Indonesia. Itu yang belum ada," tutur A'an.
Kini, Indonesia masih menunggu hasil prediksi dari stasiun pemantauan El Nino di AS. Namun, jika memiliki stasiun pemantauan, mengutip presentasi profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, A'an menyebut, Indonesia berpotensi justru bisa memprediksi lebih awal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya