Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi

Kompas.com, 9 Juni 2026, 19:11 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama terjadi El Nino, suhu laut di sejumlah perairan Indonesia akan cenderung menurun akibat perpindahan massa air hangat ke arah timur untuk bergerak menuju Samudra Pasifik.

Menurut Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi, perpindahan massa air hangat tersebut akan diiringi pergeseran ikan, seperti tuna dan cakalang.

"Yang biasanya di Indonesia itu airnya hangat, itu kalau terjadi El Nino nanti kondisinya malah turun suhunya. Nah, turun suhunya itu malah ada dampak positif juga sebenarnya bagi laut Indonesia, di mana ikan-ikan ikut bergeser mengikuti laut yang hangat," ujar A'an kepada Kompas.com usai acara Memperingati Hari Laut 2026; Sustainable Marine Resource for Our Blue Planet di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah

Ketika El Nino berkembang, nelayan akan lebih mudah menangkap ikan tuna karena perubahan kondisi oseanografi yang menyebabkan kedalaman termoklin menjadi lebih dangkal. Imbasnya, ikan tuna berada lebih dekat ke permukaan laut di beberapa daerah di Indonesia.

Termoklin adalah lapisan pembatas antara air hangat di permukaan dan air dingin di bawah.

"Nah, itu (termoklin) semakin naik. Nah, ketika termoklinnya semakin naik, maka beberapa daerah itu justru tuna-tuna semakin banyak muncul ke permukaan, ada cakalang dan ikan lainnya itu kan ingin air yang hangat. Ikan-ikan itu bergeser ke (Samudra) Pasifik, mengikuti massa air hangat," tutur A'an.

Mudahkan nelayan

Kendati mayoritas bergerak ke timur menuju Samudera Pasifik, kata dia, ikan tuna yang tetap tinggal atau tidak mengikuti massa air hangat kemungkinan masih ada dalam jumlah lebih sedikit.

Ikan-ikan tuna yang tetap tinggal di perairan laut Indonesia bagian barat itu juga justru lebih mudah ditangkap nelayan karena berada lebih dekat ke permukaan laut.

"Sebenarnya El Nino itu kan menggeser tuna, cuma karena lapisan termoklinnya naik, tunanya ikut naik, yang sedikit itu naik jadi seolah-olah kita dapatnya lebih banyak," ucapnya.

Di sisi lain, perairan laut Indonesia bagian timur kemungkinan akan kedatangan banyak ikan tuna yang mengikuti massa air hangat.

"(Akan lebih banyak ikan tuna) di laut Banda, di laut Sulawesi, dan daerah Halmahera, itu kemungkinannya," ujar Aan.

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Bisa prediksi lebih awal

Zona perairan di laut Indonesia bagian timur akan merespons dampak El Nino secara berbeda dengan wilayah barat yang utara maupun selatan. Namun, secara keseluruhan, tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra pasifik.

Tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia juga ditentukan oleh interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Ketika El Nino kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, tingkat keparahan dampaknya akan semakin kuat atau bisa terjadi El Nino Godzilla.

Kata dia, sebagian besar permodelan memprediksi El Nino pada 2026 cenderung berada pada kategori sedang hingga kuat.

"Nah, dari semua sistem model atau prediksi itu, itu memang kecenderungan untuk nanti menjadi moderate ke strong itu lebih besar peluangnya. Meskipun, kita tidak bisa memprediksi, "Oh
nanti jadi 'El Niño Godzilla' atau apa gitu ya. Tapi kita melihat masih dalam proses pemantauan nih, salah satunya oleh NOAA (milik Amerika Serikat / AS)," ujar A'an.

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Ia mengungkapkan, tingkat keparahan dampak El Nino di Sumatera dan Jawa sangat tergantung pada IOD, apakah interaksinya akan berakhir menguatkan atau saling melemahkan. Dalam mempertimbangkan tingkat keparahan dampak El Nino, Indonesia masih berkiblat ke AS, yang mana kawasannya sangat terdampak, termasuk terkait pemutihan karang.

Padahal, dampak El Nino di Indonesia kemungkinan bisa berbeda, seperti pemutihan karang tidak akan terjadi di Indonesia yang mana El Nino justru menyebabkan air laut semakin dingin.

"Sudah banyak penelitian, menggunaakan data-data untuk memprediksi, membandingkan antara kondisi El Niño, kondisi La Niña, kondisi IOD positif atau IOD negatif, itu kemudian dikomparasi dengan aspek klorofilnya, aspek ikannya, aspek produksi perikanan dan sebagainya itu sudah banyak penelitiannya. Yang belum ada itu adalah prediksi prediksi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) dan IOD dari data Indonesia. Itu yang belum ada," tutur A'an.

Kini, Indonesia masih menunggu hasil prediksi dari stasiun pemantauan El Nino di AS. Namun, jika memiliki stasiun pemantauan, mengutip presentasi profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, A'an menyebut, Indonesia berpotensi justru bisa memprediksi lebih awal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau