Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Kompas.com, 10 Juni 2026, 16:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Di sektor padi, kekeringan ekstrem menunda jadwal musim tanam kedua yang seharusnya dimulai April lalu.

Waduk-waduk utama penyokong irigasi teknis di Jawa Barat dan Jawa Timur mengalami penyusutan debit air di bawah batas kritis, meningkatkan ancaman puso di lahan tadah hujan.

Di tengah ancaman penurunan produksi, muncul paradoks Nilai Tukar Petani nasional yang pada Mei 2026 menyentuh angka 127,73.

Angka ini dijadikan klaim keberhasilan bahwa kesejahteraan petani melonjak akibat harga jual komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah naik tajam. Namun, analisis mikro menunjukkan kenaikan ini adalah fatamorgana.

Sebagian besar petani padi di wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur justru mencatatkan Nilai Tukar Petani di bawah angka psikologis 100, tepatnya pada posisi 99,86.

Pendapatan mereka dari hasil panen yang merosot tidak mampu menutup tingginya biaya konsumsi rumah tangga dan input pertanian yang tertekan inflasi kurs.

Kenaikan harga pangan di pasar ritel sebenarnya menjadi beban ganda bagi para petani kecil yang juga bertindak sebagai konsumen pangan bersih di pedesaan.

Kerentanan petani diperparah oleh tidak efektifnya instrumen perlindungan seperti Asuransi Usaha Tani Padi yang dikelola BUMN PT Jasindo.

Skema ini menjanjikan ganti rugi enam juta rupiah per hektare bagi lahan yang puso minimal 75 persen, dengan premi disubsidi negara. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menjadi hambatan birokrasi.

Sebagai contoh, ketika cuaca ekstrem memicu puso seluas 35,85 hektare milik petani di Bojonegoro, verifikasi fisik yang berbelit-belit justru memangkas klaim yang disetujui menjadi hanya 5,18 hektare.

Keterlambatan pencairan dana hingga berbulan-bulan merusak siklus modal petani gurem, memaksa mereka mencari pinjaman informal yang menjerat guna menyambung hidup dan membeli pupuk subsidi untuk musim berikutnya.

Sebagai jawaban instan atas ancaman krisis pangan, pemerintah meluncurkan megaproyek cetak sawah baru seluas satu juta hektare di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Pemerintah mengklaim proyek strategis nasional ini berhasil meningkatkan produksi beras lokal secara signifikan dan menurunkan harga eceran beras di Merauke dari Rp 30.000 menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Namun, pendekatan ekspansionis ini melahirkan benturan sosial-ekologis yang sangat mendalam.

Puluhan perwakilan masyarakat adat dari Suku Malind, Maklew, Khimaima, dan Yei secara tegas menolak proyek tersebut karena berjalan tanpa adanya kesepakatan bebas dan tanpa paksaan, serta merampas hutan adat mereka.

Kehadiran aparat militer dalam mengawal proyek fisik serta gugatan hukum yang dilayangkan oleh Solidaritas Merauke di pengadilan mempertegas adanya represi struktural atas nama ketahanan pangan.

Secara ekologis, konversi hutan primer Papua untuk sawah industri dan perkebunan tebu skala luas memicu kritik tajam, yang diamplifikasi oleh viralnya film dokumenter investigatif berjudul "Pesta Babi" yang ditonton belasan juta kali di platform digital.

Upaya mengejar swasembada pangan yang dipaksakan secara monokultur tanpa memperhatikan keberlanjutan lokal dan tata kelola iklim adalah jalan pintas yang berbahaya.

Kesenjangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menerjemahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 membuat penanganan dampak El Niño berjalan sporadis dan tidak tersinkronisasi.

Pemerintah terlalu terpaku pada peningkatan produksi beras secara masif, sementara mengabaikan diversifikasi pangan lokal berbasis umbi-umbian atau sagu yang secara ekologis jauh lebih tangguh menghadapi kekeringan ekstrem.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Negara Miskin Berisiko Jadi yang Terakhir Rasakan Manfaat Target Net-Zero Global
Negara Miskin Berisiko Jadi yang Terakhir Rasakan Manfaat Target Net-Zero Global
Pemerintah
Puncak El Nino hingga Februari: Risiko Kematian Capai Setengah Juta Jiwa
Puncak El Nino hingga Februari: Risiko Kematian Capai Setengah Juta Jiwa
Pemerintah
Kerusakan Bumi Memburuk, 7 dari 9 Batas Aman Planet Resmi Terlampaui
Kerusakan Bumi Memburuk, 7 dari 9 Batas Aman Planet Resmi Terlampaui
Pemerintah
Aturan Pembelian Hambat Perusahaan Capai Target Energi Bersih
Aturan Pembelian Hambat Perusahaan Capai Target Energi Bersih
Pemerintah
Ini Efek Domino dari Penambangan Pasir Laut
Ini Efek Domino dari Penambangan Pasir Laut
LSM/Figur
Ancam Dunia Usaha, Biaya Risiko Krisis Air Capai Rp 7.158 Triliun
Ancam Dunia Usaha, Biaya Risiko Krisis Air Capai Rp 7.158 Triliun
Pemerintah
Biaya 'Siluman' Sisa Makanan Berkuah
Biaya 'Siluman' Sisa Makanan Berkuah
Swasta
Apresiasi Pengabdian untuk Masjid, AQUA bersama DMI dan BPMI Berangkatkan 26 Marbot dan Pengurus Masjid ke Tanah Suci
Apresiasi Pengabdian untuk Masjid, AQUA bersama DMI dan BPMI Berangkatkan 26 Marbot dan Pengurus Masjid ke Tanah Suci
Pemerintah
Langkah Membumi 2026, Persempit Jarak Kepedulian dan Aksi Anak Muda
Langkah Membumi 2026, Persempit Jarak Kepedulian dan Aksi Anak Muda
Swasta
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Swasta
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
Pemerintah
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau