Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Kompas.com, 10 Juni 2026, 16:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi yang taktis, rasional, dan berorientasi pada keadilan ekologis.

Perlu ditekankan lagi di sini bahwa fenomena El Niño "Godzilla" yang diprediksi membawa anomali iklim ekstrem memberikan ancaman serius terhadap stabilitas produksi pangan nasional.

Data Kerangka Sampel Area (KSA) BPS per April 2026 menunjukkan bahwa produksi beras nasional untuk periode Januari–Juli 2026 diproyeksikan sebesar 21,95 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 0,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ketersediaan air irigasi yang berisiko merosot hingga 33 persen, ditambah dengan peningkatan risiko serangan hama tanaman yang berkembang pesat dalam kondisi panas ekstrem, dipastikan akan membuat produktivitas lahan menurun drastis dan mengganggu siklus tanam yang selama ini menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan beras nasional.

Selain sektor tanaman pangan, sektor hortikultura dan komoditas perkebunan juga terancam mengalami tekanan produksi yang cukup berat, dengan potensi penurunan pendapatan petani di wilayah terdampak mencapai kisaran 9-25 persen.

Kenaikan suhu permukaan yang ekstrem dapat menyebabkan gagal panen pada komoditas sensitif iklim, yang pada gilirannya akan memicu ketidakseimbangan pasokan di tingkat pasar dan memicu lonjakan harga komoditas pangan pokok.

Jika tidak diantisipasi dengan manajemen sumber daya air yang efisien, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta dukungan logistik yang kuat, penurunan produksi ini dikhawatirkan dapat melemahkan ketahanan pangan nasional dan meningkatkan ketergantungan terhadap impor pangan di tengah situasi pasar global yang sedang tidak menentu.

Oleh karena itu, untuk memitigasi dampak negatif dari El Nino Godzila ini, langkah pertama yang krusial bagi pemerintah adalah optimalisasi anggaran darurat sektoral sebesar Rp 12 triliun yang dialokasikan Kementerian Pertanian.

Dana tersebut harus disalurkan tepat sasaran untuk penyediaan benih unggul tahan kekeringan serta pembangunan infrastruktur irigasi darurat seperti pompanisasi di wilayah-wilayah kritis.

Kedua, skema asuransi pertanian harus direformasi secara total. PT Jasindo harus beralih ke asuransi berbasis indeks iklim menggunakan data satelit cuaca resolusi tinggi.

Dengan sistem ini, klaim asuransi dapat dicairkan secara otomatis ketika curah hujan berada di bawah batas minimum selama periode tertentu, tanpa perlu menunggu verifikasi fisik manual yang lambat dan rentan distorsi.

Ketiga, megaproyek cetak sawah di Merauke harus segera direstrukturisasi dengan menerapkan kesepakatan bebas tanpa paksaan yang tulus dari masyarakat adat.

Masyarakat adat Papua harus diintegrasikan sebagai mitra pengelola utama melalui lembaga koperasi adat yang adil, diiringi audit lingkungan ketat untuk menghentikan deforestasi hutan primer.

Keempat, untuk meredam inflasi impor akibat pelemahan rupiah, Bank Indonesia harus bersinergi dengan otoritas fiskal guna menstabilkan kurs serta menyediakan fasilitas lindung nilai bagi importir input pertanian non-subsidi.

Terakhir, diversifikasi pangan lokal non-beras harus dijadikan gerakan nasional yang didukung anggaran daerah yang nyata.

Swasembada pangan sejati tidak akan pernah tercapai jika dibangun di atas landasan yang mengorbankan kesejahteraan petani kecil, mengabaikan hukum adat, dan menutup mata dari kenyataan perubahan iklim global.

Saatnya menggeser paradigma ketahanan pangan dari sekadar mengejar angka produksi menuju kedaulatan pangan yang berkeadilan, tangguh, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
LSM/Figur
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Pemerintah
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Pemerintah
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Swasta
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
LSM/Figur
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
LSM/Figur
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
LSM/Figur
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Pemerintah
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
BUMN
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Pemerintah
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Pemerintah
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
Pemerintah
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
Pemerintah
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau