KOMPAS.com - Laporan terbaru Banking on Climate Chaos mengungkap bank-bank terbesar di dunia mengucurkan dana sebesar 906 miliar dolar AS untuk membiayai industri bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara.
Melansir ESG Dive, Selasa (9/6/2026) laporan tersebut mencatat bahwa bank-bank raksasa ini meningkatkan pendanaan mereka untuk perusahaan dan proyek bahan bakar fosil sebesar 8 persen pada tahun 2025.
Ini menjadi tahun kedua secara berturut-turut di mana nilai pendanaan mereka malah semakin membesar. Laporan edisi ke-17 yang dirilis Senin, (8/6/2026) ini juga menunjukkan bahwa dana khusus untuk ekspansi ladang fosil baru melonjak drastis hingga 27 persen.
Laporan yang mencatat komitmen bahan bakar fosil ini menemukan bahwa 65 bank terbesar di dunia menyumbang dana sebesar 906 miliar dolar AS pada tahun 2025, naik dari yang sebelumnya sebesar 842,6 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Bank-bank yang berbasis di Amerika Serikat bertanggung jawab atas hampir sepertiga (32,2 persen) dari total pendanaan bahan bakar fosil tahun lalu. Menurut laporan yang disusun oleh Rainforest Action Network, Sierra Club, Reclaim Finance, dan lembaga lainnya ini, Amerika Serikat menunjukkan peningkatan dana terbesar dibandingkan wilayah lain yang dipantau, dengan menyumbang dana 35 miliar dolar AS lebih banyak daripada tahun 2024.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
"Besarnya skala dana yang masih mengalir ke bahan bakar fosil terutama untuk perluasan ladang fosil baru menunjukkan betapa kuatnya bank-bank besar ini terikat pada model bisnis yang merusak iklim bumi," kata Lucie Pinson, Direktur dan Pendiri Reclaim Finance..
Namun, ketika bank-bank di Amerika Serikat dan Jepang terus mengucurkan dana miliaran dolar ke sektor batu bara, minyak, dan gas demi mengejar keuntungan jangka pendek beberapa bank di Eropa justru sudah mulai mengambil tindakan untuk membatasi pemberian dana bagi perluasan ladang minyak dan gas baru.
JPMorgan Chase menjadi bank nomor satu yang paling banyak memberikan dana untuk bahan bakar fosil selama tiga tahun berturut-turut, dan untuk keempat kalinya dalam lima tahun terakhir, menurut laporan tahunan tersebut.
Bank ini meningkatkan pendanaannya untuk perusahaan bahan bakar fosil sebesar 12,5 persen dari tahun 2024, dengan menyumbang dana sebesar 58,2 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Bank of America menempati posisi kedua sebagai bank yang memberikan dana terbesar untuk perusahaan bahan bakar fosil selama dua tahun berturut-turut, dengan total dana mencapai 47,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Namun, dua bank asal Jepang yaitu Mitsubishi UFJ Financial dan Mizuho Financial berhasil menggeser posisi Citigroup dari peringkat tiga besar karena mereka meningkatkan modalnya secara besar-besaran untuk perusahaan bahan bakar fosil.
Mitsubishi UFJ menambah kucuran dananya sebesar 8,2 miliar dolar AS menjadi total 47 miliar dolar AS tahun lalu. Ini merupakan lonjakan dana terbesar dalam satu tahun dari segi jumlah uang.
Sementara itu, Mizuho memberikan dana sebesar 46,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, atau naik 12,8 persen dari tahun 2024. Citigroup berada di posisi kelima, dengan total pendanaan yang tercatat sebesar 45,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Kenaikan dana untuk industri fosil dan proyek perluasannya ini terjadi di tengah runtuhnya Net-Zero Banking Alliance yang didukung oleh PBB. Setelah bank-bank asal Amerika Utara keluar secara massal pasca-pelantikan Presiden AS Donald Trump, koalisi iklim tersebut akhirnya menghapus sistem keanggotaan sepenuhnya karena gelombang mundurnya bank-bank lain terus terjadi dan meluas.
Para peneliti laporan ini menyatakan bahwa akibat hilangnya komitmen sukarela ditambah adanya tekanan politik anti-iklim yang sangat kuat di AS membuat bank-bank mulai melonggarkan aturan dan kebijakan keuangan mereka terkait bahan bakar fosil, atau bahkan menghapus target iklim mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya