Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik

Kompas.com, 13 Juni 2026, 10:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan iklim dan lingkungan yang dirancang secara terpisah-pisah atau parsial berpotensi saling bertentangan, memboroskan anggaran publik, serta menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem.

Temuan tersebut disampaikan dalam laporan terbaru berjudul "The Risk of Climate-Nature Silos" yang disusun oleh Zoological Society of London (ZSL) bersama para ilmuwan dari 13 negara.

Laporan itu menilai pendekatan kebijakan yang berjalan dalam "silo" atau terfragmentasi tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan yang saling berkaitan, seperti krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan.

Baca juga: Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan

"Pendekatan yang terfragmentasi tidak dapat menandingi skala atau kecepatan krisis iklim, keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan, yang saling memperkuat dan membutuhkan solusi terintegrasi," demikian isi laporan tersebut dikutip Jumat (12/6/2026).

Para peneliti merekomendasikan agar kebijakan iklim dan lingkungan dikelola dalam satu kerangka "sistem alam-iklim" yang terintegrasi. Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat manfaat kebijakan, mengurangi dampak negatif yang tidak diinginkan, menekan biaya, serta mempercepat pencapaian target lingkungan global.

Laporan itu menyoroti sejumlah contoh kebijakan yang awalnya ditujukan untuk mendukung lingkungan, tetapi justru menimbulkan konsekuensi baru karena dirancang secara sempit.

Salah satunya adalah kebijakan subsidi bahan bakar nabati (BBN), seperti biodiesel dan etanol. Dukungan terhadap produksi BBN dinilai dapat mendorong konversi lahan dan mengancam keanekaragaman hayati apabila tidak disertai perlindungan ekosistem yang memadai.

Baca juga: Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah

Contoh lain adalah pengembangan tanaman bioenergi untuk penyerapan karbon yang berpotensi mengabaikan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, maupun kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Rentan sebabkan kebakaran

Laporan tersebut juga menyoroti praktik penanaman monokultur yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas atau mengurangi risiko penyakit tanaman.

Meski memiliki tujuan tertentu, pendekatan tersebut dinilai dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan kebakaran, yang pada akhirnya memicu peningkatan emisi gas rumah kaca serta mengurangi manfaat adaptasi berbasis alam.

Direktur York Environmental Sustainability Institute di Universitas York, Lindsay Stringer, mengatakan berbagai krisis lingkungan saat ini tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang terpisah.

Baca juga: Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun

"Laporan ini menambah bukti yang menunjukkan bahwa kita perlu memikirkan kembali bagaimana kita mengatur beberapa isu lingkungan paling mendesak di zaman kita. Alam beroperasi dalam sistem, bukan dalam silo. Kita perlu belajar dari alam," ujar Stringer, seperti dikutip Phys.org.

Menurut dia, pendekatan berbasis sistem tidak hanya berpotensi meningkatkan efektivitas kebijakan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui penggunaan anggaran yang lebih efisien.

Stringer mencontohkan, pembangunan infrastruktur energi terbarukan perlu mempertimbangkan lokasi yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi atau lahan pertanian produktif agar tidak menimbulkan dampak lingkungan baru.

Ia juga menilai integrasi kebijakan perlu dilakukan pada tingkat global. Saat ini terdapat tiga perjanjian internasional yang menangani isu iklim, keanekaragaman hayati, serta degradasi lahan dan kekeringan. Namun, pelaksanaan dan evaluasi masing-masing perjanjian masih berjalan secara terpisah.

Baca juga: Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa

"Cara kita memantau, mengevaluasi, dan mempelajari kemajuan menuju tujuan setiap perjanjian perlu lebih terintegrasi untuk memastikan upaya di bawah satu perjanjian tidak melemahkan upaya di perjanjian lain atau menciptakan risiko baru," kata Stringer.

Laporan tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam merumuskan solusi lingkungan. Menurut para peneliti, tantangan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan ekologi atau geografi, tetapi juga menyangkut tata kelola, kebijakan publik, serta sistem ekonomi yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan.

Karena itu, upaya mengatasi krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi agar berbagai target lingkungan dapat dicapai secara bersamaan tanpa menimbulkan dampak negatif baru.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau