Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan

Kompas.com, 24 Juni 2026, 14:21 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Laporan terbaru dari lembaga konsultan KPMG mengungkapkan hanya satu dari lima perusahaan yang disurvei bisa menghitung bagaimana program ramah lingkungan memengaruhi keuntungan, perputaran uang, atau nilai perusahaan mereka.

Banyak dari mereka juga bingung bagaimana cara mencatat pengaruh rencana lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ini ke dalam pembukuan keuangan bulanan maupun aset perusahaan.

Melansir ESG Dive, Selasa (23/6/2026) kondisi tersebut pun bisa menciptakan masalah yang tidak terlihat. Perusahaan tahu bahwa isu lingkungan itu penting, tetapi mereka tidak tahu cara menghitung dampak keuangannya.

Akibatnya, mereka bisa kehilangan peluang bisnis yang bagus atau justru salah mengambil keputusan karena tidak memperhitungkan risiko keuangan yang ada.

Baca juga: Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh

"Meskipun ilmu sains dan penentuan target ramah lingkungan sudah makin maju, alat hitung dan metode keuangan kita masih tertinggal jauh. Sering kali, masalah lingkungan ini masih dibahas secara teori saja atau hanya dianggap sebagai formalitas aturan, bukannya dihitung bersamaan dengan pembagian modal, penilaian investasi, dan manajemen risiko perusahaan," sebut laporan tersebut.

Dalam riset ini, KPMG menyurvei perusahaan-perusahaan besar dengan pendapatan tahunan di atas 100 juta dolar AS di 19 negara, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Asia.

Survei ini sendiri dilakukan terhadap 2.024 pemimpin perusahaan besar antara November 2025 hingga Mei 2026.

Lemahnya aturan ramah lingkungan

Laporan KPMG mengakui bahwa aturan pemerintah sangat memengaruhi seberapa peduli para bos perusahaan terhadap isu lingkungan.

Survei ini mencatat bahwa perusahaan-perusahaan di luar Amerika Serikat tampak lebih fokus pada program ramah lingkungan (ESG). Sebagai contoh, isu lingkungan telah menjadi faktor strategi utama di 67 persen perusahaan di Afrika Selatan, 58 persen di Jerman, tetapi hanya 34 persen di Amerika Serikat.

Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi

Sementara itu aturan pemerintah Amerika Serikat dalam mendukung gerakan ramah lingkungan justru melemah. Bulan lalu, lembaga pengawas pasar modal AS (SEC) mengusulkan aturan baru untuk membatalkan kewajiban bagi perusahaan untuk melaporkan risiko iklim mereka, yang sebelumnya sempat disahkan pada tahun 2024.

Laporan KPMG menemukan adanya perbedaan cara dalam menghitung dampak keuangan dan potensi keuntungan di setiap sektor industri.

Dari semua industri yang disurvei, hanya 19 persen perusahaan yang menggunakan model hitungan keuangan canggih seperti digital twins atau simulasi Monte Carlo saat mengukur perkiraan biaya dan keuntungan dari program ramah lingkungan mereka.

Perusahaan di sektor perbankan (33 persen dari yang disurvei) menjadi yang paling sering menggunakan metode hitungan canggih tersebut. Di posisi berikutnya ada perusahaan energi dan sumber daya alam (31 persen), serta perusahaan otomotif (27 persen).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Swasta
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Revisi UU Sisdiknas, Jangan Sekadar Ganti Aturan
Revisi UU Sisdiknas, Jangan Sekadar Ganti Aturan
LSM/Figur
3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup
3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Sepekan ke Depan
Pemerintah
Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit
Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit
LSM/Figur
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Pemerintah
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau