KOMPAS.com - Laporan terbaru dari lembaga konsultan KPMG mengungkapkan hanya satu dari lima perusahaan yang disurvei bisa menghitung bagaimana program ramah lingkungan memengaruhi keuntungan, perputaran uang, atau nilai perusahaan mereka.
Banyak dari mereka juga bingung bagaimana cara mencatat pengaruh rencana lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ini ke dalam pembukuan keuangan bulanan maupun aset perusahaan.
Melansir ESG Dive, Selasa (23/6/2026) kondisi tersebut pun bisa menciptakan masalah yang tidak terlihat. Perusahaan tahu bahwa isu lingkungan itu penting, tetapi mereka tidak tahu cara menghitung dampak keuangannya.
Akibatnya, mereka bisa kehilangan peluang bisnis yang bagus atau justru salah mengambil keputusan karena tidak memperhitungkan risiko keuangan yang ada.
Baca juga: Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
"Meskipun ilmu sains dan penentuan target ramah lingkungan sudah makin maju, alat hitung dan metode keuangan kita masih tertinggal jauh. Sering kali, masalah lingkungan ini masih dibahas secara teori saja atau hanya dianggap sebagai formalitas aturan, bukannya dihitung bersamaan dengan pembagian modal, penilaian investasi, dan manajemen risiko perusahaan," sebut laporan tersebut.
Dalam riset ini, KPMG menyurvei perusahaan-perusahaan besar dengan pendapatan tahunan di atas 100 juta dolar AS di 19 negara, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Asia.
Survei ini sendiri dilakukan terhadap 2.024 pemimpin perusahaan besar antara November 2025 hingga Mei 2026.
Laporan KPMG mengakui bahwa aturan pemerintah sangat memengaruhi seberapa peduli para bos perusahaan terhadap isu lingkungan.
Survei ini mencatat bahwa perusahaan-perusahaan di luar Amerika Serikat tampak lebih fokus pada program ramah lingkungan (ESG). Sebagai contoh, isu lingkungan telah menjadi faktor strategi utama di 67 persen perusahaan di Afrika Selatan, 58 persen di Jerman, tetapi hanya 34 persen di Amerika Serikat.
Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Sementara itu aturan pemerintah Amerika Serikat dalam mendukung gerakan ramah lingkungan justru melemah. Bulan lalu, lembaga pengawas pasar modal AS (SEC) mengusulkan aturan baru untuk membatalkan kewajiban bagi perusahaan untuk melaporkan risiko iklim mereka, yang sebelumnya sempat disahkan pada tahun 2024.
Laporan KPMG menemukan adanya perbedaan cara dalam menghitung dampak keuangan dan potensi keuntungan di setiap sektor industri.
Dari semua industri yang disurvei, hanya 19 persen perusahaan yang menggunakan model hitungan keuangan canggih seperti digital twins atau simulasi Monte Carlo saat mengukur perkiraan biaya dan keuntungan dari program ramah lingkungan mereka.
Perusahaan di sektor perbankan (33 persen dari yang disurvei) menjadi yang paling sering menggunakan metode hitungan canggih tersebut. Di posisi berikutnya ada perusahaan energi dan sumber daya alam (31 persen), serta perusahaan otomotif (27 persen).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya