KOMPAS.com — “Pendidikan adalah kunci dari suatu kebangkitan bangsa. Hanya melalui pendidikan kita bisa menjadi negara yang berhasil.”
Begitu ujar Presiden Prabowo saat menghadiri agenda peluncuran Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas di SMP Negeri 4 Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/11/2025).
Pemerintah menempatkan pendidikan sebagai salah satu agenda prioritas yang diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan bagi kelompok rentan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Namun, pemerataan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan oleh Indonesia.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (8/4/2026), anak dari keluarga miskin masih menghadapi risiko lebih besar untuk berhenti sekolah.
Pada kelompok pengeluaran terbawah, angka anak tidak sekolah di jenjang SMA dan sederajat mencapai 30,66 persen. Tingkat penyelesaian pendidikan SMA dan sederajat di kelompok tersebut pun hanya 52,41 persen.
Ketimpangan semakin lebar di jenjang perguruan tinggi. BPS mencatat, Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi pada 2025 hanya 17,30 persen untuk kelompok pengeluaran terbawah, berbanding kontras dengan kelompok pengeluaran teratas yang mencapai 55,37 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa peluang anak untuk melanjutkan pendidikan turut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati, menuturkan bahwa sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, akses pendidikan di sejumlah wilayah masih perlu terus diperkuat.
“Di beberapa wilayah tersebut, anak-anak masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan serta akses terhadap media pembelajaran yang beragam,” ujarnya dalam agenda konferensi pers di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan membutuhkan dukungan yang lebih luas dan berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan satuan pendidikan, masyarakat, lembaga sosial, hingga badan usaha.
Salah satu dukungan terhadap upaya pemerataan akses pendidikan datang dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melalui program BNI Berbagi.
Sepanjang 2025 hingga April 2026, perseroan telah menyalurkan beasiswa kepada lebih dari 1.000 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, penyaluran beasiswa tersebut merupakan wujud dukungan perseroan terhadap upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan di Indonesia.
Dukungan itu, kata dia, diarahkan untuk membantu peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan.
“BNI terus berkomitmen hadir dan berkontribusi nyata dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia," kata Okki dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (8/5/2026).
Seremoni penyerahan beasiswa BNI yang dihadiri Prof (HC) Dr Ir H Eddy Soeryanto Soegoto, MT, Area Head 3 Bandung Raya PT BNI (Persero) Tbk Kinkin Sakinah, serta perwakilan penerima beasiswa di Smart Building Unikom, Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/6/2026)Universitas Komputer Indonesia (Unikom) menjadi salah satu universitas yang menerima bantuan beasiswa dari BNI.
BNI menyalurkan beasiswa senilai total Rp 327 juta untuk 109 mahasiswa berprestasi Unikom pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026.
Rektor Unikom Prof (HC) Dr Ir H Eddy Soeryanto Soegoto, MT, mengapresiasi BNI atas dukungan yang diberikan kepada mahasiswa Unikom.
Ia menilai, program beasiswa tersebut merupakan bukti nyata kolaborasi dunia pendidikan dan industri dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap bersaing di kancah global.
“Program ini merupakan bentuk kepedulian yang sangat luar biasa dari BNI dalam mendukung keberlangsungan studi mahasiswa. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BNI beserta seluruh jajaran yang telah berkenan memberikan beasiswa kepada mahasiswa Unikom,” ujar Prof Eddy dalam seremoni penyerahan beasiswa di Smart Building Unikom, Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/6/2026).
Selain melalui penyaluran beasiswa, BNI juga berpartisipasi dalam program Sekolah Rakyat, salah satu program prioritas pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.
Seperti diketahui, Sekolah Rakyat adalah program pendidikan gratis berkonsep sekolah berasrama yang digagas Presiden Prabowo untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026), Presiden Prabowo menyebut Sekolah Rakyat sebagai bagian dari upaya negara memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang paling membutuhkan, khususnya kelompok rentan.
Presiden Prabowo Subianto memeluk salah seorang siswa SRMP 17 Tabanan, Bali, Gede Bagus Abimanyu saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, pada Minggu (7/6/2026)Dalam program tersebut, BNI mendukung penguatan ekosistem layanan keuangan inklusif dan tata kelola administrasi sekolah berbasis digital.
Dukungan itu mencakup penyediaan Agen46 Mini Bank, pembukaan rekening siswa, serta Kartu Siswa untuk absensi elektronik.
BNI juga menyiapkan sistem pengelolaan penyaluran dana dari Kementerian Sosial ke sekolah, gaji guru, transaksi mitra sekolah, seperti katering dan binatu, serta dasbor monitoring keuangan sekolah.
Adapun seluruh layanan tersebut akan difasilitasi secara nontunai melalui QRIS dan BNIdirect.
Direktur Kelembagaan BNI Eko Setyo Nugroho mengatakan, keterlibatan BNI dalam program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya perseroan dalam mendukung pemerataan pendidikan melalui layanan keuangan yang inklusif.
“BNI ingin memastikan pengelolaan administrasi pendidikan di Sekolah Rakyat berjalan modern, transparan, dan efisien,” ujar Eko.
Melalui beasiswa dan keterlibatan dalam program Sekolah Rakyat, perseroan berupaya membantu pemerataan pendidikan agar menjangkau lebih banyak anak di berbagai wilayah Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya