Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga

Kompas.com, 24 Juni 2026, 19:41 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tumpukan botol plastik, kardus bekas, hingga ember pecah yang dulu berakhir di tempat sampah kini memiliki nilai baru bagi Nita Putrini.

Guru taman kanak-kanak (TK) yang tinggal di RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mulai rutin memilah sampah rumah tangga dalam dua tahun terakhir.

Perubahan kebiasaan tersebut berawal dari program pengelolaan sampah yang digagas Ketua RT setempat, Taufiq Supriadi.

Baca juga: Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah

Melalui edukasi dan pendampingan bank sampah, warga diperkenalkan pada konsep ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.

"Dulu saya pikir percuma memilah sampah karena akhirnya dicampur lagi. Setelah ada edukasi bank sampah, ternyata sampah punya nilai ekonomi," kata Nita kepada Kompas.com, Sabtu (13/6/2026).

Dari hasil mengumpulkan sampah plastik, kertas, kemasan multilayer, hingga barang elektronik rusak selama setahun, Nita memperoleh sekitar Rp 130.000. Nilainya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa sampah yang dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat tambahan bagi keluarga.

Tidak hanya sampah anorganik, sampah organik di rumahnya juga diolah menjadi kompos untuk tanaman hias dan pohon alpukat yang tumbuh di depan rumah. Saat musim libur Lebaran ketika petugas pengangkut sampah tidak beroperasi selama beberapa hari, manfaat kebiasaan baru itu semakin terasa.

"Kalau dulu sampah menumpuk dan bau sekali. Sekarang hampir tidak ada sampah yang tersisa di rumah," ujarnya.

Isu lingkungan

Di balik perubahan tersebut, ada peran Taufiq Supriadi, seorang aparatur sipil negara (ASN) yang sehari-hari bekerja sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sejak terpilih menjadi Ketua RT pada 2023, Taufiq menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu fokus utama pembangunan wilayahnya.

Sekitar 80 persen program kerja yang ia usung berorientasi pada pengelolaan lingkungan dan penguatan ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim. Sisanya difokuskan pada digitalisasi pelayanan warga dan transparansi tata kelola RT.

Bagi Taufiq, pengelolaan sampah bukan tujuan akhir. Ia melihat sampah sebagai pintu masuk untuk membangun sistem ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

Di lingkungan RT 08, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang beroperasi setiap pekan. Sementara sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang digunakan sebagai pakan ikan dan ayam.

Hasilnya tidak hanya mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga melahirkan berbagai usaha kecil yang dijalankan warga.

Baca juga: Dulu Penuh Sampah, Lahan di Jaktim Ini Disulap Jadi Urban Farming dan Sarana Edukasi

Mulai dari penjualan kompos, pupuk organik cair, perlengkapan urban farming, hingga produk makanan olahan berbasis hasil budidaya lokal tumbuh dari ekosistem ekonomi yang dibangun di lingkungan tersebut.

"Jika RT kuat, maka negara akan hebat. Kami ingin menunjukkan bahwa dari gang sempit, bisa lahir solusi besar bagi dunia," ujar Taufiq.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau