JAKARTA, KOMPAS.com - Tumpukan botol plastik, kardus bekas, hingga ember pecah yang dulu berakhir di tempat sampah kini memiliki nilai baru bagi Nita Putrini.
Guru taman kanak-kanak (TK) yang tinggal di RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mulai rutin memilah sampah rumah tangga dalam dua tahun terakhir.
Perubahan kebiasaan tersebut berawal dari program pengelolaan sampah yang digagas Ketua RT setempat, Taufiq Supriadi.
Baca juga: Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Melalui edukasi dan pendampingan bank sampah, warga diperkenalkan pada konsep ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
"Dulu saya pikir percuma memilah sampah karena akhirnya dicampur lagi. Setelah ada edukasi bank sampah, ternyata sampah punya nilai ekonomi," kata Nita kepada Kompas.com, Sabtu (13/6/2026).
Dari hasil mengumpulkan sampah plastik, kertas, kemasan multilayer, hingga barang elektronik rusak selama setahun, Nita memperoleh sekitar Rp 130.000. Nilainya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa sampah yang dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat tambahan bagi keluarga.
Tidak hanya sampah anorganik, sampah organik di rumahnya juga diolah menjadi kompos untuk tanaman hias dan pohon alpukat yang tumbuh di depan rumah. Saat musim libur Lebaran ketika petugas pengangkut sampah tidak beroperasi selama beberapa hari, manfaat kebiasaan baru itu semakin terasa.
"Kalau dulu sampah menumpuk dan bau sekali. Sekarang hampir tidak ada sampah yang tersisa di rumah," ujarnya.
Di balik perubahan tersebut, ada peran Taufiq Supriadi, seorang aparatur sipil negara (ASN) yang sehari-hari bekerja sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sejak terpilih menjadi Ketua RT pada 2023, Taufiq menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu fokus utama pembangunan wilayahnya.
Sekitar 80 persen program kerja yang ia usung berorientasi pada pengelolaan lingkungan dan penguatan ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim. Sisanya difokuskan pada digitalisasi pelayanan warga dan transparansi tata kelola RT.
Bagi Taufiq, pengelolaan sampah bukan tujuan akhir. Ia melihat sampah sebagai pintu masuk untuk membangun sistem ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga.
Di lingkungan RT 08, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang beroperasi setiap pekan. Sementara sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang digunakan sebagai pakan ikan dan ayam.
Hasilnya tidak hanya mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga melahirkan berbagai usaha kecil yang dijalankan warga.
Baca juga: Dulu Penuh Sampah, Lahan di Jaktim Ini Disulap Jadi Urban Farming dan Sarana Edukasi
Mulai dari penjualan kompos, pupuk organik cair, perlengkapan urban farming, hingga produk makanan olahan berbasis hasil budidaya lokal tumbuh dari ekosistem ekonomi yang dibangun di lingkungan tersebut.
"Jika RT kuat, maka negara akan hebat. Kami ingin menunjukkan bahwa dari gang sempit, bisa lahir solusi besar bagi dunia," ujar Taufiq.
Upaya tersebut perlahan mengubah wajah kawasan yang sebelumnya identik dengan permukiman padat perkotaan. Gang-gang sempit kini dipenuhi tanaman, kebun sayur, serta kolam ikan yang dibangun di atas saluran drainase.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah sistem kolam ikan bertingkat yang dibangun di atas saluran air. Bagian bawah tetap berfungsi sebagai drainase, sedangkan bagian atas dimanfaatkan untuk budidaya lele, nila, dan bawal.
Hasil panen ikan tidak seluruhnya dijual. Sebagian didistribusikan kepada lansia, ibu hamil, dan balita sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat dan pencegahan stunting.
Menurut pengurus RT setempat, program bantuan pangan tersebut telah berjalan lebih dari dua tahun dan menyasar puluhan warga secara berkala.
Transformasi lingkungan dan ekonomi yang dilakukan Taufiq bahkan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk akademisi dan peneliti dari luar negeri. Konsep yang ia sebut sebagai "Survival Architecture Indonesia" kerap menjadi bahan diskusi dalam berbagai forum internasional terkait aksi iklim berbasis komunitas.
Baca juga: Cerita Urban Farming Dinas Ketahanan Pangan Kota Cirebon, 17 Ayam Petelur Diberi Nama Unik
Bagi Taufiq, keberhasilan membangun ekonomi sirkular tidak hanya bergantung pada teknologi atau pendanaan, tetapi juga pada keterlibatan warga dalam mengubah kebiasaan sehari-hari.
Dari memilah sampah, membuat kompos, menanam pohon, hingga mengelola usaha kecil berbasis lingkungan, perubahan itu dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama-sama.
Di tengah berbagai tantangan perkotaan, RT kecil di sudut Jakarta Timur tersebut menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dan kesejahteraan bisa lahir dari tingkat komunitas. Bahkan, dari sebuah gang sempit yang dulu dipenuhi sampah, kini tumbuh model ekonomi sirkular yang menghidupi warga sekaligus menjaga lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya