Editor
BOGOR, KOMPAS.com – Pemerintah dan penganut ekonomi arus utama dinilai masih terlalu berfokus pada indikator kuantitatif seperti pertumbuhan ekonomi, efisiensi, dan berbagai capaian statistik.
Di sisi lain, aspek moral, tata kelola, kepercayaan, dan realitas sosial masyarakat kerap luput dari perhatian dalam perumusan kebijakan ekonomi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Budi Purwanto, mengatakan pendekatan ekonomi yang hanya bertumpu pada angka berisiko menghasilkan kebijakan yang tidak sepenuhnya mampu menjawab persoalan riil di masyarakat.
Baca juga: PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Menurut dia, aktivitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor material dan perhitungan biaya, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai moral, tata kelola, serta hubungan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Selama ini ekonomi lebih banyak dilihat dari sisi angka, biaya, efisiensi, dan pertumbuhan. Padahal ada nilai lain yang juga menentukan, yaitu nilai moral dan sosial yang memengaruhi perilaku ekonomi,” ujarnya diskusi yang diselenggarakan oleh FEM IPB, Rabu (24/6/2026).
Budi menjelaskan, pendekatan yang ia sebut sebagai "Marketomics" berupaya menawarkan cara pandang yang lebih luas dalam memahami fenomena ekonomi.
Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan teori ekonomi yang sudah ada, melainkan melengkapi analisis ekonomi dengan memasukkan dimensi moral, sosial, dan kelembagaan.
Ia menilai terdapat kecenderungan ilmu ekonomi berkembang semakin jauh dari realitas perekonomian yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Akibatnya, banyak persoalan seperti kesenjangan akses pasar, lemahnya tata kelola, hingga fragmentasi ekonomi lokal belum sepenuhnya terjawab melalui pendekatan ekonomi konvensional.
“Ilmu ekonomi dan perekonomian seharusnya terus berdialog. Jangan sampai teorinya berkembang ke satu arah, sementara praktik ekonomi masyarakat berjalan di arah yang berbeda,” kata Budi.
Dalam diskusi yang dipandu dosen FEM IPB Eko Ruddy Cahyadi tersebut, Budi juga menyoroti bahwa berbagai hambatan ekonomi sering kali bukan disebabkan oleh keterbatasan sumber daya, melainkan persoalan tata kelola dan fragmentasi pasar yang membuat potensi ekonomi sulit berkembang secara optimal.
Baca juga: Krisis Ekologi Sumatra: Sebuah Utopia Pembangunan Berkelanjutan
Karena itu, menurut Budi, diperlukan pendekatan yang mampu melihat keterkaitan antara faktor ekonomi, kelembagaan, dan perilaku sosial secara lebih utuh.
Dalam diskusi tersebut, hadir sejumlah penanggap, yakni Prof Dedi Budiman Hakim,
Prof Yusman Syaukat, Dr Suharno, dan Dr. Ranti Wiliasih, S.P., M.Si.
Salah satu penanggap diskusi, Yusman Syaukat menyatakan bahwa gagasan "Marketomics" masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, terutama dalam bentuk model empiris yang dapat diuji secara ilmiah.
"Pengembangan tersebut mencakup penyusunan indikator, metode pengukuran, hingga pembuktian statistik yang mampu menjelaskan hubungan antara nilai moral, tata kelola, dan kinerja ekonomi," jelasnya.
Baca juga: IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
Untuk itu, Budi berharap kolaborasi lintas disiplin ilmu dapat mendorong lahirnya model ekonomi yang tidak hanya menjelaskan pertumbuhan dan efisiensi, tetapi juga mampu mengukur kontribusi aspek moral dan sosial terhadap pembangunan.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak cukup diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan sistem ekonomi menciptakan kesejahteraan yang lebih merata, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya