KOMPAS.com - Australia mengonfirmasi kasus ketiga flu burung H5 pada seekor burung migran petrel raksasa di Knights Beach, Semenanjung Fleurieu.
"Kami merespons dengan cepat dan memungkinkan serta memfasilitasi pengujian aktif terhadap unggas-unggas tersebut untuk flu burung H5. Kami menerima hasil tersebut dan mereka mengkonfirmasi bahwa salah satu burung itu negatif dan yang lainnya positif," ujar Perdana Menteri Australia Selatan, Peter Malinauskas, dilansir dari ABC, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: Kasus Flu Burung H5N1 Terdeteksi di Australia, Menandai Penyebaran Virus di Seluruh Benua
Ia mendesak orang-orang menghindari, mencatat, serta melaporkan jika melihat burung-burung migran yang sakit atau mati. Ia menyebut, para sukarelawan yang menangani burung-burung migran akan diberikan obat antivirus jika diperlukan.
Pekan lalu, seekor burung migran liar Skua mati akibat virus H5 di Australia Barat. Seekor petrel raksasa yang sakit ditemukan di dekatnya dalam keadaan terinfeksi virus H5. Serangkaian kasus tersebut mengakhiri status Australia sebagai benua yang bebas flu burung H5 yang sangat patogenik atau gampang menular dan menginfeksi hingga menyebabkan kematian pada hewan.
Ahli epidemiologi veteriner di Universitas Charles Sturt, Ariful Islam mengatakan, virus H5 merupakan panzootik, yang berarti telah menyebar ke berbagai benua dan memengaruhi banyak spesies. Virus H5 telah menginfeksi jutaan burung liar, termasuk spesies yang terancam punah, dan berdampak yang menghancurkan pada industri perternakan unggas.
Ia menggarisbawahi pentingnya pengambilan sampel dan pemantauan lingkungan lebih lanjut untuk menentukan sejauh mana wabah tersebut.
“Kita perlu mengetahui spektrum lengkap ekologi penyakit, serta dinamika dan pola penularan di wilayah Australia Barat tersebut,” tutur Islam, dilansir dari The Guardian.
Flu burung H5 telah membunuh jutaan burung dan ribuan mamalia laut sejak mulai menyebar ke seluruh dunia pada tahun 2021. Strain flu burung yang mematikan (H5N1 clade 2.3.4.4b) bermula di Asia. Strain flu telah menyebar secara global di seluruh Eropa dan Amerika sejak 2021, serta tiba di Antartika selama musim panas tahun 2023-2024.
Menteri Pertanian federal, Julie Collins mengatakan, belum diketahui apakah virus tersebut telah menyebar lebih luas. Hingga saat ini belum ada bukti kematian massal atau infeksi pada unggas. Namun, respons terkoordinasi secara nasional awalnya akan berfokus pada penentuan apakah penyakit tersebut telah menyebar ke satwa liar lainnya.
"Kemungkinan besar akan diketahui dalam beberapa hari apakah penyakit tersebut telah memengaruhi populasi satwa liar setempat," ucapnya.
Komisioner spesies terancam punah Australia, Fiona Fraser mengatakan, jika flu burung H5 menyebar di satwa liar, hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk menghentikan penyebarannya. Pemerintah telah menganalisis burung dan mamalia paling berisiko, termasuk setan Tasmania, burung beo perut oranye yang terancam punah, dan anjing laut berbulu Australia.
Baca juga: AS Laporkan Penularan Flu Burung H5N1 dari Kucing ke Manusia, Seperti Apa Temuannya?
Pemerintah telah mengembangkan lebih dari 100 rencana penanggulangan untuk hewan yang berisiko punah dan situs alam penting, seperti lahan basah dan pulau-pulau Ramsar. “Kami telah mempertimbangkan apakah mereka sudah terancam punah, tetapi juga ciri-ciri alami lainnya, seperti apakah mereka burung air, apakah mereka spesies laut, apakah mereka berkumpul, untuk memahami spesies mana yang paling rentan,” ujar Fraser.
Kepala eksekutif di Invasive Species Council, Jack Gough mengatakan, jika virus H5 mulai beredar di antara burung-burung asli, maka dapat menyebabkan penurunan besar-besaran pada beberapa spesies dan mendorong spesies lain semakin dekat dengan kepunahan.
“Ada kemungkinan besar bahwa dampak terhadap satwa liar asli Australia akan jauh lebih buruk daripada di belahan bumi utara,” katanya. Ini adalah keadaan darurat satwa liar yang sesungguhnya, dan harus ditangani dengan pendanaan darurat untuk meningkatkan upaya melindungi populasi satwa liar," ucapnya
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya