Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes

Kompas.com, 24 Juni 2026, 21:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Presiden FIFA, Gianni Infantino mendapatkan kritik dari para aktivis lingkungan karena dianggap acuh terhadap masalah perubahan iklim.

Sebagai petinggi FIFA, Infantino tentu punya jadwal bepergian yang padat. Namun para aktivis menyebut bahwa ia punya ambisi menggebu untuk menonton pertandingan sebanyak mungkin dengan menggunakan jet pribadinya.

Mulai dari Meksiko, Guadalajara, Los Angeles, San Francisco, Vancouver, Seattle, Kansas City, Houston, dia telah berulang kali menerbangkan jet pribadinya demi bisa mendatangi stadion sebanyak 10 kali hanya dalam waktu tujuh hari.

Melansir CNA, Minggu (21/6/2026) Kebiasaan buruknya yang terus-menerus menggunakan jet pribadi Qatar Airways sebenarnya bukan hal baru.

Pada September 2024, media investigasi Josimar membongkar fakta bahwa ia telah menggunakan pesawat tersebut untuk menempuh jarak total 600.000 kilometer selama tiga tahun terakhir.

Namun, Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya digelar dengan 48 tim dengan total 104 laga yang diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membuat dampak dari kebiasaan terbang Infantino menjadi berkali-kali lipat lebih buruk.

Baca juga: Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon

"Hanya satu jam terbang dengan pesawat, polusi yang dihasilkan sudah setara dengan seluruh polusi yang dihasilkan oleh satu orang manusia biasa selama satu tahun penuh," kata Greenly, sebuah perusahaan Prancis yang ahli dalam menghitung jejak karbon.

Kontradiksi ramah lingkungan

Jika Infantino terus mendatangi dua kota dalam sehari sampai babak 16 besar selesai, lalu menonton delapan pertandingan terakhir, Greenly memperkirakan bahwa pesawatnya saja akan menghasilkan sekitar 300 hingga 500 ton polusi CO2 selama turnamen berlangsung.

Mereka mengatakan jumlah tersebut setara dengan total polusi yang dihasilkan oleh sekitar 35 hingga 55 orang warga Prancis selama satu tahun penuh.

FIFA membela perjalanan sang presiden dengan menegaskan bahwa para pimpinannya memilih antara penerbangan komersial atau jet pribadi berdasarkan mana yang paling efisien dan hemat biaya dan dalam semua situasi, pihak FIFA yang menanggung seluruh biaya perjalanan tersebut.

David Gogishvili, seorang pakar geografi dari University of Lausanne, mengatakan bahwa FIFA telah menciptakan kontradiksi ramah lingkungan.

"Dengan menggunakan kembali stadion-stadion NFL yang sudah ada tetapi letaknya sangat berjauhan di seluruh benua, FIFA telah membuat sebuah sistem yang sejak awal sangat bergantung pada perjalanan pesawat yang tinggi polusi," katanya.

"Ketika para pemimpinnya malah memberikan contoh dengan terbang ke sana kemari menggunakan jet pribadi hanya untuk menonton pertandingan, hal itu mencerminkan dengan sangat jelas masalah besar yang salah dalam sistem mereka," papar Gogishvili.

Cara FIFA mengatur Piala Dunia ini membuat kebiasaan sering terbang berpindah-pindah tempat dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, tindakan ini malah membebankan biaya transportasi dan polusi karbon yang besar kepada wilayah tuan rumah dan para penggemar.

John Hocevar, Direktur Kampanye Laut dari Greenpeace USA, juga memberikan kritik yang sama tajamnya terkait kebiasaan Infantino yang terus terbang berpindah-pindah stadion.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau