KOMPAS.com - Laporan terbaru dari lembaga The Nature Conservancy dan Forest Trends mengungkapkan investasi tahunan dari perusahaan swasta untuk menjaga alam telah melonjak dari 2,8 miliar dolar AS menjadi lebih dari 14 miliar dolar AS dalam 10 tahun terakhir.
Sektor pertanian menjadi bidang yang paling banyak menarik kucuran dana baru-baru ini.
Melansir Edie, Selasa (23/6/2026) analisis tersebut mencatat bahwa sepanjang tahun 2016 hingga 2025, modal swasta yang disalurkan untuk proyek-proyek pelestarian alam di seluruh dunia sudah menembus angka lebih dari 60 miliar dolar AS.
Perkiraan data ini didasarkan pada 1.731 transaksi bisnis yang terjadi selama periode tersebut, serta hasil survei terhadap 70 lembaga keuangan besar yang total nilai kekayaan gabungannya mencapai lebih dari 207 triliun dolar AS.
Selain itu, dana segar sebesar lebih dari 180 miliar dolar AS dilaporkan sudah direncanakan untuk digelontorkan pada tahun-tahun mendatang.
“Jumlah modal yang tercatat dalam temuan ini sangatlah besar. Namun, yang tidak kalah penting adalah jenis investor yang sekarang mulai masuk ke bidang ini,” kata Michael Jenkins, CEO Forest Trends.
“Kita melihat kehadiran yang makin kuat dari lembaga-lembaga keuangan besar. Mereka sadar bahwa merawat alam dan mendatangkan keuntungan finansial ternyata bisa berjalan beriringan. Sepuluh tahun yang lalu, bisnis seperti ini masih dianggap sebagai bidang kecil yang jarang diminati," terangnya.
Baca juga: Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Hari ini, sudah jauh lebih banyak jenis kegiatan pelestarian alam yang dinilai menjanjikan dan mampu menarik modal secara terus-menerus. Ke depannya, arah bisnis ini akan membawa isu alam masuk sepenuhnya ke dalam arus utama dunia keuangan. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya alam demi menjaga ekonomi global tetap tahan banting.
Tren investasi ramah lingkungan
Sejak awal abad ke-21, jenis-jenis proyek alam yang berhasil mendapatkan suntikan dana modal sudah makin beragam. Dari tahun 2004 hingga 2015, pasar investasi ini didominasi oleh proyek pertanian ramah lingkungan, pengolahan hutan berkelanjutan, serta pemulihan dan pelestarian ekosistem alam.
Selama 10 tahun terakhir, teknologi pendukung perdagangan dan solusi iklim berbasis alam juga mulai menarik banyak perhatian investor.
Meskipun demikian, proyek pertanian ramah lingkungan tetap menjadi bidang yang menyedot modal paling besar. Sektor ini berhasil menarik dana sebesar 32,8 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, sektor pengolahan hutan berkelanjutan juga terus mendapatkan investasi yang stabil selama beberapa dekade terakhir.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena sektor kehutanan dan pertanian adalah jenis bisnis yang sudah sangat dikenal oleh para investor. Selain itu, kedua sektor ini bisa menjadi pelindung modal mereka dari risiko naik-turunnya kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu.
Para penulis laporan juga mencatat bahwa lonjakan dana untuk pertanian ramah lingkungan didorong oleh makin ketatnya syarat lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang diminta oleh perusahaan-perusahaan besar pembeli hasil tani.
Faktor pendorong lainnya adalah adanya kebutuhan yang mendesak untuk membangun rantai pasokan yang lebih kuat dan sistem pangan yang lebih tahan banting terhadap perubahan cuaca.
“Tidak heran jika para investor masuk ke peluang bisnis ini melalui sektor dan pasar yang sudah mereka pahami. Memang begitulah cara sebuah bidang bisnis baru berkembang,” kata Jennifer Morris, CEO dari lembaga The Nature Conservancy.
“Kami juga melihat munculnya cara-cara dan sistem baru untuk memenuhi keinginan para investor yang kemudian berubah menjadi aksi investasi yang nyata. Untuk memperbesar skala bisnis ini, kita butuh dukungan aturan hukum yang lebih tegas dari pemerintah serta permintaan pasar yang lebih kuat terhadap produk-produk ramah lingkungan, seperti sertifikat karbon berkualitas tinggi dan bahan pangan yang diproduksi secara berkelanjutan,” tambahnya.
Wilayah yang tarik investasi terbanyak
Dari segi lokasi, wilayah Benua Amerika masih menjadi tempat yang paling banyak menarik modal swasta. Wilayah Amerika Latin sendiri berhasil menarik dana lebih dari 15 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun terakhir.
Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sebaliknya, laporan tersebut menyoroti bahwa wilayah Asia dan Afrika masih sangat kekurangan dana bantuan, padahal kedua wilayah ini memiliki peran alam yang sangat penting bagi bumi. Afrika, misalnya, hanya berhasil menarik dana sebesar 2,3 miliar dolar AS dalam 10 tahun terakhir.
Menurut laporan itu, ketimpangan dana ini tetap terjadi meskipun Afrika menghadapi risiko kerusakan alam yang sangat parah. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa takut dari investor terkait risiko kerugian bisnis, masih minimnya infrastruktur pendukung, serta sedikitnya jumlah pengelola investasi berpengalaman yang bisa mengurusi proyek langsung di lapangan.
Selain mendukung wilayah-wilayah yang masih kekurangan dana, investasi untuk alam harus terus dipercepat secara lebih luas demi mencapai target penyelamatan keanekaragaman hayati.
Hal ini mencakup modal dari perusahaan swasta, sumbangan pemerintah, hingga dana dari lembaga amal.
Menurut penilaian dari lembaga Indufor, untuk mencapai target alam bernama "30 by 30" yaitu melindungi minimal 30 persen lahan dan lautan di bumi pada tahun 2030, dunia membutuhkan dana gabungan dari pemerintah dan lembaga amal sebesar 6 miliar dolar AS setiap tahunnya menjelang 2030.
Sayangnya, dengan kecepatan pemberian dana saat ini, dunia diperkirakan hanya mampu mengumpulkan sekitar 4 miliar dolar AS saja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya