Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga

Kompas.com, 25 Juni 2026, 19:12 WIB
Ni Luh Made Pertiwi F.

Editor

KOMPAS.com - Risiko tinggi terjadinya insiden kabut asap lintas batas yang parah diprediksi akan berdampak pada Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura sepanjang sisa tahun 2026.

Hal ini tercermin dari laporan Prospek Kabut Asap 2026 yang dikeluarkan Singapore Institute of International Affairs (SIIA).

Laporan tersebut mengidentifikasi Agustus hingga September sebagai periode puncak bahaya, yang didorong oleh fenomena cuaca El Niño dan Indian Ocean Dipole.

Baca juga: Greenpeace: KTT ke-27 ASEAN Jadi Momentum Hentikan Kabut Asap Lintas Batas

"Prakiraan memperingatkan akan adanya musim kemarau yang parah, tetapi kita tidak boleh fatalistik. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hal terburuk dan memperkuat ketahanan iklim, energi dan ketahanan pangan, serta kerja sama regional," ungkap Ketua SIIA Simon Tay.

Dalam laporan itu, teridentifikasi konvergensi faktor cuaca, kebijakan, dan pasar yang dapat meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap di seluruh kawasan.

Ini adalah peringkat risiko Merah (risiko tinggi) kedua yang diterbitkan sejak SIIA meluncurkan Prospek Kabut Asap pada tahun 2019. Penilaian risiko Merah sebelumnya diterbitkan pada tahun 2023, saat insiden kabut asap yang signifikan terjadi di kawasan ini.

Cuaca meningkatkan risiko kebakaran

Laporan tersebut menyoroti kekhawatiran yang berkembang atas kembalinya kondisi El Niño pada tahun 2026 dan kemungkinan musim kemarau yang lebih kuat dan lebih lama.

Beberapa ahli meteorologi juga telah memperingatkan adanya potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat semakin mengintensifkan kondisi cuaca panas dan kering serta meningkatkan risiko kebakaran di seluruh Asia Tenggara.

Baca juga: Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah

Pemerintah bakal hadapi ujian berat

Di luar kondisi cuaca, laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menghadapi ujian berat yang signifikan dalam mempertahankan upaya pencegahan kebakaran dan pengelolaan lahan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan anggaran.

Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan komoditas pertanian dan biofuel dapat memberikan tekanan tambahan pada sektor penggunaan lahan jika tidak dikelola secara berkelanjutan.

Kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan. Meskipun kesiapsiagaan telah meningkat secara signifikan sejak krisis kabut asap sebelumnya, tahun 2026 akan menjadi ujian utama apakah pemerintah, bisnis, dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mencegah kebakaran dan melindungi mata pencaharian. "

"Tantangannya adalah memastikan bahwa praktik berkelanjutan dipertahankan di seluruh rantai pasokan, termasuk oleh usaha kecil dan menengah yang mungkin beroperasi di bawah tekanan ekonomi yang lebih ketat," kata Simon.

Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global

Laporan tersebut mencatat bahwa Indonesia telah memperkuat respons kelembagaannya terhadap kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan-perusahaan besar juga telah memperluas langkah-langkah pencegahan kebakaran dan komitmen keberlanjutan dalam beberapa tahun terakhir.

"Risiko kabut asap utama tahun ini berasal dari cuaca. Secara historis, kabut asap yang paling parah terjadi pada tahun-tahun dengan El Niño yang kuat dan IOD 'positif', seperti pada tahun 1997 dan 2015," kata Direktur Asisten Senior, Proyek Khusus dan Keberlanjutan, SIIA Aaron Choo.

Ia menuturkan kabut asap tahun 1997 hingga 1998 menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 9,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 27,4 triliun dengan kurs pada tahun 1997) di seluruh Asia Tenggara, sementara kabut asap tahun 2015 mengakibatkan kerugian sekitar 16,1 miliar dollar AS (setara Rp 214,9 triliun dengan kurs pada tahun 2015) di Indonesia saja.

Temuan utama dalam laporan itu antara lain:

  • Peringkat risiko merah untuk insiden kabut asap lintas batas yang parah pada tahun 2026
  • El Niño dan kemungkinan Indian Ocean Dipole positif dapat membawa kondisi yang lebih panas dan kering
  • Upaya pencegahan kebakaran dan pengelolaan lahan menghadapi ujian berat
  • Meningkatnya permintaan komoditas pertanian dan biofuel dapat meningkatkan tekanan penggunaan lahan
  • Kerja sama ASEAN dan pengelolaan lahan berkelanjutan akan sangat penting untuk mengurangi risiko
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau