Editor
KOMPAS.com - Risiko tinggi terjadinya insiden kabut asap lintas batas yang parah diprediksi akan berdampak pada Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura sepanjang sisa tahun 2026.
Hal ini tercermin dari laporan Prospek Kabut Asap 2026 yang dikeluarkan Singapore Institute of International Affairs (SIIA).
Laporan tersebut mengidentifikasi Agustus hingga September sebagai periode puncak bahaya, yang didorong oleh fenomena cuaca El Niño dan Indian Ocean Dipole.
Baca juga: Greenpeace: KTT ke-27 ASEAN Jadi Momentum Hentikan Kabut Asap Lintas Batas
"Prakiraan memperingatkan akan adanya musim kemarau yang parah, tetapi kita tidak boleh fatalistik. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hal terburuk dan memperkuat ketahanan iklim, energi dan ketahanan pangan, serta kerja sama regional," ungkap Ketua SIIA Simon Tay.
Dalam laporan itu, teridentifikasi konvergensi faktor cuaca, kebijakan, dan pasar yang dapat meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap di seluruh kawasan.
Ini adalah peringkat risiko Merah (risiko tinggi) kedua yang diterbitkan sejak SIIA meluncurkan Prospek Kabut Asap pada tahun 2019. Penilaian risiko Merah sebelumnya diterbitkan pada tahun 2023, saat insiden kabut asap yang signifikan terjadi di kawasan ini.
Laporan tersebut menyoroti kekhawatiran yang berkembang atas kembalinya kondisi El Niño pada tahun 2026 dan kemungkinan musim kemarau yang lebih kuat dan lebih lama.
Beberapa ahli meteorologi juga telah memperingatkan adanya potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat semakin mengintensifkan kondisi cuaca panas dan kering serta meningkatkan risiko kebakaran di seluruh Asia Tenggara.
Baca juga: Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Di luar kondisi cuaca, laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menghadapi ujian berat yang signifikan dalam mempertahankan upaya pencegahan kebakaran dan pengelolaan lahan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan anggaran.
Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan komoditas pertanian dan biofuel dapat memberikan tekanan tambahan pada sektor penggunaan lahan jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
Kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan. Meskipun kesiapsiagaan telah meningkat secara signifikan sejak krisis kabut asap sebelumnya, tahun 2026 akan menjadi ujian utama apakah pemerintah, bisnis, dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mencegah kebakaran dan melindungi mata pencaharian. "
"Tantangannya adalah memastikan bahwa praktik berkelanjutan dipertahankan di seluruh rantai pasokan, termasuk oleh usaha kecil dan menengah yang mungkin beroperasi di bawah tekanan ekonomi yang lebih ketat," kata Simon.
Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Laporan tersebut mencatat bahwa Indonesia telah memperkuat respons kelembagaannya terhadap kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan-perusahaan besar juga telah memperluas langkah-langkah pencegahan kebakaran dan komitmen keberlanjutan dalam beberapa tahun terakhir.
"Risiko kabut asap utama tahun ini berasal dari cuaca. Secara historis, kabut asap yang paling parah terjadi pada tahun-tahun dengan El Niño yang kuat dan IOD 'positif', seperti pada tahun 1997 dan 2015," kata Direktur Asisten Senior, Proyek Khusus dan Keberlanjutan, SIIA Aaron Choo.
Ia menuturkan kabut asap tahun 1997 hingga 1998 menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 9,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 27,4 triliun dengan kurs pada tahun 1997) di seluruh Asia Tenggara, sementara kabut asap tahun 2015 mengakibatkan kerugian sekitar 16,1 miliar dollar AS (setara Rp 214,9 triliun dengan kurs pada tahun 2015) di Indonesia saja.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya