Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino

Kompas.com, 25 Juni 2026, 16:03 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Luh Made Pertiwi F.

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pulau Sumatera mengalami pemadaman listrik massal (blackout) pada 22-24 Mei dan berulang awal Juni 2026. Hasil investigasi awal menyebutkan blackout dipicu cuaca ekstrem.

Dugaan awal penyebab pemadaman listrik yang dikaitkan dengan hujan lebat dan angin kecang menunjukkan urgensi pembangunan infrastruktur tahan cuaca ekstrem.

Baca juga: PLN Buka Suara soal Listrik Padam di Sejumlah Wilayah, Tegaskan Bukan Blackout

Direktur Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo mengatakan, cuaca ekstrem akan terus meningkat dari segi frekuensi maupun intensitasnya seiring pemanasan global.

"Frekuensi maupun intensitas cuaca ekstrem akan terus meningkat berkali-kali lipat seiring dengan kenaikan suhu global. Kalau melewati 1,5 derajat Celcius, naiknya 2-3 kali lipat. Jika nanti naik sampai 2 derajat Celcius, intensitas dan frekuensinya akan naik lebih eksponensial, bahkan bisa sampai 8-10 kali lipat dibandingkan kondisi jika tidak melewati 1,5 derajat Celcius. Nah, implikasi cuaca ekstrem ini memang real pada sistem kelistrikan," ujar Deon dalam webinar, Kamis (25/6/2026).

Sebagai gambaran, pemanasan global saat ini sudah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celcius, sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Bahkan, berdasarkan data World Meteorological Organization (WMO), periode 2023–2025 tercatat sebagai tiga tahun berturut-turut terpanas dalam sejarah.

Pentingnya ketahanan infrastruktur fisik

Menurut Deon, pemadaman listrik berulang di Sumatera menjadi peringatan bagi keandalan sistem ketenagalistrikan Indonesia.

Oleh karena itu, lanjutnya, sudah sepatutnya sistem ketenagalistrikan diukur bukan hanya dari keandalan dalam aspek penyediaan energi secara terus-menerus dan keterjangkauan biayanya saja.

Baca juga: Blackout Berulang Jadi Pertanda Bahaya Sistem Listrik yang Terpusat

Namun, lanjut Deon, ketahanan infrastruktur fisik terhadap ancaman cuaca ekstrem (grid resilience) yang semakin parah juga perlu mulai dipertimbangkan dalam sistem ketenagalistrikan di Indonesia.

Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam lima tahun terakhir, bencana alam didominasi oleh fenomena hidrometeorologi, di mana cuaca ekstrem menjadi salah satu penyumbang frekuensi kejadian tertinggi.

"Nah, di (tahun) 2026 ini sendiri tentunya melihat tren tersebut bisa jadi frekuensi dan intensitasnya akan terus meningkat. Apalagi, di (tahun) 2026 juga ada risiko aspek El Nino juga yang perlu dipertimbangkan," tutur Deon.

Pemadaman listrik di Amerika Serikat dan Perancis

Berkaca dari pengalaman Amerika Serikat, kata dia, rata-rata pemadaman listrik di Amerika Serikat yang dipicu cuaca ekstrem meningkat dengan 124 kali kejadian pada periode 2020-2023, hampir dua kali lipat dibandingkan 10 tahun lalu atau 70 kali kejadian.

Cuaca ekstrem berdampak terhadap kerusakan infrastruktur fisik, serta performa sistem kelistrikan untuk beroperasi dan menyalurkan energi ke konsumen.

Cuaca panas berlebihan dapat mengurangi efisiensi dari berbagai pembangkit dan alat elektro lainnya.

Baca juga: Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah

"Ada heatwave di Perancis yang juga menyebabkan baru kemarin terjadi pemadaman dan membuat ada sekitar 70.000 rumah di Perancis yang tidak dapat akses ke listrik. Investigasi awalnya diberitakan bahwa ini penyebabnya cuaca suhu yang mencapai 40 derajat di Perancis yang membuat memicu kegagalan di salah satu trafo ya yang menyebabkan pemadaman tersebut," ucapnya.

Blackout tidak hanya karena cuaca buruk semata

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, tower transmisi dirancang untuk menghadapi hujan lebat, petir, dan angin kencang yang lazim terjadi di Indonesia. Apalagi, ada sejumlah standar-standar internasional yang diterapkan dalam infrastruktur transmisi.

Baca juga: Pemadaman Listrik Berulang di Sumut, IESR Desak Evaluasi Ketahanan Transmisi Nasional

"Oleh karena itu, penyebab utama kejadian ini tidak boleh langsung disimpulkan sebagai cuaca buruk semata. Yang harus dijawab adalah mengapa infrastruktur yang relatif baru dapat mengalami kerusakan beruntun ketika menghadapi kondisi cuaca tersebut," ujar Fabby dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau