Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota

Kompas.com, 26 Juni 2026, 15:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di sebuah gang sempit di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, deretan kolam ikan berjejer rapi menghiasi lingkungan RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, yang asri.

Di dalam kolam-kolam ini, ikan hias, lele, dan nila berkembang biak dengan perawatan ekstra. Setiap kali masa panen tiba, ikan-ikan segar tersebut justru dibagikan secara gratis kepada kelompok warga yang paling membutuhkan, yaitu, para lansia, ibu hamil, dan balita, dengan total 26 orang dalam pembagian terakhir kali.

"Namanya 'kolam gizi', bukan sekadar kolam ikan. Karena hasilnya memang didedikasikan sepenuhnya untuk gizi warga kami," ujar Waluyo, pengurus sarana dan prasarana lingkungan setempat saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/6/2026).

Baca juga: Kelompok Tani Kampung Bayam Olah Gulma dan Sampah Pasar Jadi Pupuk untuk Urban Farming

Daun pepaya yang dipetik dari urban farming warga, dicampur dengan pakan lele sebagai zat aditif untuk meningkat pertumbuhan bobot ikan dan mencegah angka kanibalisme.

Daun pepaya akan diberikan ketika ikan lele mulai agresif sebagai pertanda akan menunjukkan sifat kanibalnya. Dalam sehari, pakan diberikan kepada ikan pada pagi dan malam.

"Jadi, kami (saat) malam harus kasih makan itu, kami mencari daun pepaya, kami tebar saja di situ untuk makan," tutur Waluyo.

Kalau lele dan nila untuk dikonsumsi sebagai bagian dari ketahanan pangan di tingkat RT, sebuah akuarium ikan koi di sebelah 'kolam gizi' hanya untuk hiasan belaka. Namun, harga pakan ikan hias per kilonya lebih mahal tiga kali lipat dibandingkan lele dan nila.

Di tengah permukiman padat dalam gang, Waluyo membersihkan kolam-kolam ikan pada malam hari agar tidak mengangu kenyamanan warga sekitar.

Ia tidak sepenuhnya menguras kolam-kolam ikan dan menyisakan sejengkal saat membersihkan kacanya, sebelum keran pembuangan ditutup dan airnya diisi ulang.

"Jadi, kalau kami menguras itu bukan berarti ikan dipindahkan. Tetap saja di situ ikannya, airnya kami kuras pelan-pelan. Kalau menguras kondisinya (tengah) malam. Portal sudah ditutup, tidak ada motor lewat, jadi tidak mengganggu jalan," ucapnya.

Di sisi lain, budi daya ikan dalam gang juga dilakukan pada selokan dengan sistem bertingkat (double decker). Bagian bawah tetap berfungsi sebagai saluran drainase air hujan (U-Ditch). Sedangkan bagian atas disulap menjadi konsumsi, seperti lele, nila, serta bawal.

Budi daya pada selokan yang memanjang dari depan rumah Ketua RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, ditujukan untuk dijual.

Ini termasuk diolah dalam berbagai produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dikembangkan para ibu di sana, seperti lele marinasi. Operasional kolam-kolam ikan yang harus menyala 24 jam menyedot konsumsi listrik dalam jumlah besar.

Baca juga: Dari IT ke Urban Farming, Kisah Dewi Menata Hidup di Cibinong lewat Sayur dan Ternak Ayam

Untuk meminimalisir pengeluaran biaya energi, pengurus RT memanfatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) on grid, yang terhubung dengan jaringan PLN.

"Untungnya sekarang ada PLTS. Jadi kalau siang kami pakai tenaga surya, baru kalau malam beralih ke listrik PLN. Ini sangat membantu menekan pengeluaran kas RT," ujar Waluyo.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau