Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni

Kompas.com, 1 Juli 2026, 20:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Para ilmuwan mengumumkan bahwa lautan di dunia baru saja melewati rekor terpanas sepanjang sejarah pada bulan Juni ini. Suhu laut bahkan diperkirakan bisa mencetak rekor baru lagi dalam beberapa bulan ke depan akibat kombinasi fenomena El Niño dan perubahan iklim.

Menurut data dari Copernicus Marine Service milik Uni Eropa, rata-rata suhu permukaan laut global pada bulan Juni mencapai 20,98 derajat C, mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya yang terjadi pada tahun 2023 dan 2024.

Melansir Phys, Rabu (1/7/2026) lembaga tersebut menambahkan bahwa rekor ini menggenapi masa-masa penuh gelombang panas laut yang berkepanjangan selama enam bulan pertama di tahun 2026.

Rata-rata suhu laut pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar 20,04 derajat C, sedikit di bawah rekor tertinggi yang pernah terjadi pada periode yang sama di tahun 2024.

Para ilmuwan mengatakan bahwa kemunculan pola cuaca El Niño yang berpotensi kuat dapat membuat suhu lautan dan atmosfer global menjadi jauh lebih panas di sepanjang tahun 2026 hingga tahun depan.

"Kondisi saat ini bisa menjadi tanda dimulainya fase baru, yang sekali lagi, membawa kita ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Carlo Buontempo, direktur Copernicus Climate Change Service.

Baca juga: Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global

"Dengan suhu lautan setinggi ini dan El Niño yang mulai membayangi, kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak rekor suhu terpanas yang pecah dalam bulan-bulan mendatang," tambah Buontempo.

El Niño ditandai dengan memanasnya suhu air laut di sebagian Samudra Pasifik secara tidak biasa. Hal ini melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer, yang kemudian memengaruhi pola angin, awan, dan cuaca di seluruh dunia.

Fenomena ini bisa meningkatkan risiko cuaca ekstrem, mulai dari banjir besar di Peru, kekeringan di beberapa wilayah Afrika, hingga kebakaran hutan di Australia.

Picu lonjakan suhu

Selain itu, El Niño juga dapat memicu lonjakan suhu global untuk sementara waktu, yang memperparah pemanasan jangka panjang akibat ulah manusia yang membakar bahan bakar fosil.

Suhu di daratan dan lautan sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2024 lalu, yang dipicu oleh akhir dari fenomena El Niño sebelumnya.

"Dengan datang dan dimulainya kembali tahun El Niño saat ini kita bisa memperkirakan bahwa tahun 2026 akan menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah," ujar Simon Van Gennip, pakar kelautan utama di Copernicus Marine Service.

"Hal ini terjadi karena pengaruh El Niño tetapi juga akibat pemanasan dari emisi gas rumah kaca yang terus-menerus kita buang ke atmosfer," paparnya lagi.

Laporan ini sendiri merupakan kelanjutan dari peringatan PBB bulan lalu yang menyatakan bahwa lautan dunia sedang dalam krisis yang makin parah karena suhu air laut semakin panas dan permukaan air laut naik lebih cepat.

Lautan memiliki peran kunci dalam menjaga kestabilan iklim Bumi karena lautan menyerap sekitar 90 persen panas berlebih yang dihasilkan oleh emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau