Suhu laut yang lebih hangat membuat atmosfer menjadi lebih lembap. Hal ini menjadi bahan bakar bagi badai tropis serta curah hujan ekstrem yang sering kali merusak.
Lautan yang lebih panas juga berkontribusi langsung pada naiknya permukaan air laut karena air akan memuai saat suhunya memanas. Selain itu, kondisi ini menciptakan lingkungan yang mematikan bagi terumbu karang tropis, di mana karang bisa mengalami pemutihan dan mati akibat gelombang panas laut yang terjadi terus-menerus.
Menurut Copernicus Marine Service, enam bulan pertama tahun ini ditandai dengan gelombang panas laut meluas yang melanda sekitar 82 persen wilayah lautan dunia. Ini adalah cakupan terluas kedua dalam sejarah setelah tahun 2024 lalu.
Baca juga: Mengenal Cemara Laut, Sang Penjaga Pantai yang Kerap Terlupakan
Gelombang panas laut yaitu kondisi ketika suhu air laut sangat tinggi dalam jangka waktu lama bisa merusak cuaca, memicu pemutihan karang, dan berakibat fatal bagi hewan-hewan laut.
Menurut Mercator Ocean International, suhu permukaan laut global mengalami naik-turun pada paruh pertama tahun ini.
Laut Mediterania memecahkan rekor bulan Juni terpanas dengan suhu mencapai 24,3 derajat C, mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya pada tahun 2023 dan 2025. Gelombang panas laut bahkan telah melanda 98 persen wilayah perairan Mediterania selama enam bulan pertama tahun ini.
Sebuah lembaga iklim di Spanyol menyatakan bahwa gelombang panas laut yang melanda wilayah barat laut Mediterania mencetak rekor keandalan suhu terekstrem pada hari Senin kemarin, setelah dalam sepekan terakhir suhu panas ekstrem terus melanda wilayah Eropa.
Wilayah tropis Samudra Pasifik juga mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah dengan suhu mencapai 27,26 derajat C.
Suhu di wilayah tersebut menyamai rekor tahun 2016 untuk periode Januari hingga Juni. Gelombang panas yang paling kuat dan paling lama terjadi di bagian barat Pasifik khatulistiwa serta di lepas pantai Peru dan California.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya