Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global

Kompas.com, 30 Juni 2026, 08:25 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Ekosistem laut yang sehat sangat penting untuk mendukung keanekaragaman hayati, sektor perikanan, pariwisata, dan perkembangan ekonomi di seluruh dunia.

Namun, selama ini para ilmuwan belum memiliki gambaran menyeluruh tentang bagaimana kehidupan laut merespons kenaikan suhu air laut ketika pemanasan global melewati ambang batas 1,5 derajat C.

Itu merupakan sebuah batasan penting dalam Perjanjian Paris untuk mencegah dampak perubahan iklim yang paling parah.

Namun melansir Phys, Jumat (26/6/2026) kini peneliti dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) meneliti bagaimana ekosistem laut bereaksi ketika suhu Bumi melewati batas 1,5 derajat C di atas tingkat masa pra-industri.

Studi ini menganalisis 201 kejadian dampak lingkungan di samudra seluruh dunia. Para peneliti mengumpulkan data dari berbagai jurnal ilmiah, program pemantauan, dan catatan pengamatan global untuk membuat salah satu kumpulan catatan terbesar dan paling lengkap tentang dampak pemanasan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

Diterbitkan dalam jurnal One Earth, studi tersebut mencatat berbagai dampak buruk, mulai dari pemutihan terumbu karang dan ledakan alga beracun, hingga kematian massal makhluk laut, kerusakan habitat, serta gangguan pada sektor perikanan.

Kerusakan terjadi di luar musim panas

Studi ini menemukan bahwa dampak buruk pemanasan laut tidak hanya terjadi saat puncak gelombang panas di musim panas saja. Meski banyak kejadian berlangsung di bulan-bulan yang hangat, para peneliti menemukan kerusakan lingkungan yang meluas sepanjang tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemantauan dan persiapan yang ada saat ini mungkin melewatkan risiko penting yang terjadi di luar musim panas.

"Studi ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana ekosistem laut bereaksi selama periode pemanasan laut yang luar biasa," kata Dr. Shannon Klein, penulis utama dan ilmuwan peneliti di KAUST.

"Salah satu temuan paling jelas adalah bahwa dampak buruk tidak hanya terbatas pada puncak gelombang panas di musim panas. Kami menemukan bukti adanya kerusakan lingkungan di berbagai musim, yang berarti upaya memahami dan menangani pemanasan laut membutuhkan pemantauan dan penilaian sepanjang tahun," terangnya.

Para peneliti menemukan bahwa 98 persen dari dampak lingkungan yang tercatat berhubungan dengan suhu air laut yang sangat panas. Banyak dari kejadian tersebut membawa dampak buruk yang besar bagi makhluk laut, habitat, dan ekosistem.

Meskipun suhu panas yang tidak biasa menjadi penyebab utama dari hampir semua dampak yang tercatat, studi ini juga menemukan penyebab lain, termasuk badai besar dan cuaca ekstrem lainnya.

Temuan ini menunjukkan bagaimana berbagai tekanan lingkungan saling berkaitan dalam memengaruhi kesehatan dan daya tahan ekosistem laut.

Tempat di mana risiko bisa meningkat

Melalui studi ini, para peneliti menemukan pola di mana ekosistem dan wilayah tertentu menjadi lebih rapuh dan rentan terkena dampak. Meskipun penelitian ini tidak dirancang untuk meramal masa depan, para penulis mencatat bahwa pola-pola ini bisa membantu para ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk lebih memahami di mana risiko lingkungan serta ekonomi masyarakat akan meningkat, jika pemanasan global tetap berada di tingkat saat ini atau terus bertambah parah.

Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat

"Ekosistem laut dipengaruhi oleh gabungan berbagai faktor, termasuk pemanasan laut dan peristiwa cuaca ekstrem. Penelitian seperti ini membantu kita memahami hubungan tersebut dalam skala global, sekaligus memberikan pengetahuan yang dapat mendukung upaya pemantauan, pelestarian, dan pemulihan di wilayah-wilayah seperti Laut Merah," kata Carlos Duarte, Profesor Kehormatan Ilmu Kelautan di KAUST sekaligus penulis senior dalam studi ini.

Para peneliti menekankan pula bahwa studi ini dirancang sebagai penilaian cepat terhadap dampak lingkungan selama masa pemanasan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena itu, pembuktian lebih lanjut masih diperlukan seiring dampak yang terus terjadi. Mereka berharap temuan bisa membantu memperbaiki sistem pemantauan di masa depan, rencana kesiapsiagaan, serta upaya pelestarian laut.

Hasil penelitian juga menegaskan betapa pentingnya memantau kondisi laut sepanjang tahun. Hal ini diperlukan agar kita bisa memahami lebih baik bagaimana ekosistem bereaksi terhadap perubahan laut, sekaligus mendukung upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan di masa depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau