Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerugian Ekonomi Akibat Makanan Tak Aman Masih Tinggi, BPOM Gandeng IPB Jalankan KKN Tematik

Kompas.com, 4 Juli 2026, 21:33 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

BOGOR, KOMPAS.com – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan, persoalan keamanan pangan masih menjadi tantangan serius di Indonesia.

Kerugian akibat penyakit yang dipicu makanan tidak aman diperkirakan mencapai Rp 229 triliun setiap tahun, sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekaligus perekonomian nasional.

"Di Indonesia, masalah kesehatan akibat makanan menyebabkan kerugian mencapai Rp 229 triliun setiap tahun. Dampaknya bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga ekonomi," ujar Taruna dalam kuliah umum pada pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IPB University di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu (4/7/2026).

Baca juga: Program SNI Goes to Campus Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional

Menurut Taruna, besarnya dampak tersebut menjadi alasan pentingnya pelaksanaan KKN tematik yang berfokus pada keamanan pangan.

Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai agen edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pangan yang aman.

Ia menjelaskan, terdapat empat aspek utama yang perlu diperkuat untuk membangun sistem keamanan pangan di Indonesia.

Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan pangan. Kedua, pengawasan terhadap sumber produksi pangan yang menjadi tanggung jawab BPOM.

Selanjutnya, pengelolaan proses pengolahan pangan agar memenuhi standar keamanan dan mutu. Aspek terakhir adalah pelibatan mahasiswa sebagai kader yang dapat membantu menyebarluaskan edukasi keamanan pangan di tengah masyarakat.

"Mahasiswa harus menjadi kader yang mampu mendukung upaya peningkatan keamanan pangan di masyarakat," kata Taruna.

Ia menekankan bahwa keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kualitas makanan yang dikonsumsi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah persoalan kesehatan yang lebih luas.

Karena itu, Taruna berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat budaya keamanan pangan hingga tingkat keluarga dan komunitas.

Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global

"Kita harus membangun kesadaran bersama agar keamanan pangan menjadi perhatian semua pihak. Dengan begitu, berbagai persoalan kesehatan yang ditimbulkan oleh pangan tidak aman dapat dicegah sejak awal," ujarnya.

Gandeng IPB untuk KKN Tematik

Dalam kesempatan itu, Taruna Ikrar menyatakan bahwa pihaknya menggandeng IPB University untuk pelaksanaan program KKN dengan fokus mendorong pemanfaatan inovasi serta penguatan keamanan pangan di tingkat masyarakat.

Dalam program ini, IPB memberangkatkan sebanyak 3.679 mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi periode Juli–Agustus 2026.

Program pengabdian masyarakat tersebut mengusung tema "Pengembangan Berkelanjutan Masyarakat Agromaritim untuk Mencapai Socio-Resilience"

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau