Penelitian di jurnal Nature Climate Change memang tidak memeriksa seluruh faktor yang disebabkan manusia secara satu per satu.
Namun Sönke Dangendorf, kepala penulis riset tersebut mencatat bahwa gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara adalah penyebab yang paling utama.
Baca juga: BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
"Sejak tahun 1970-an, faktor ini menjadi penyebab yang paling mendominasi, dan ini tentu saja bukan kabar yang baik," kata Dangendorf, yang juga seorang profesor di Universitas Tulane.
Ia mengatakan bahwa ancaman ini terus membesar, dan masyarakat harus melakukan persiapan yang lebih matang.
Jeff Williams, seorang pensiunan ahli kelautan dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat yang tidak terlibat dalam kedua penelitian tersebut, mengatakan bahwa riset ini menunjukkan para perencana pembangunan harus memperhitungkan ancaman yang terus membesar ini.
Mereka juga harus memikirkan seberapa besar biaya yang dibutuhkan untuk memperkuat perlindungan di kawasan pesisir, dan menentukan siapa yang akan membayar biayanya.
Kabar baiknya, negara-negara di seluruh dunia kini makin banyak menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Tahun lalu, jumlah pembangkitan listrik bersih ini berhasil melewati angka pertumbuhan kebutuhan listrik dunia, dan untuk pertama kalinya, porsi energi terbarukan menyumbang lebih dari sepertiga dari total pasokan listrik di seluruh dunia.
Karena hal tersebut, para ilmuwan baru-baru ini menyatakan bahwa dunia tidak lagi berada di jalur menuju skenario terburuk pemanasan global, meski begitu dunia juga belum berada di jalur menuju skenario terbaik.
"Masih ada titik terang karena kita memegang kendali atas seberapa banyak polusi yang kita buang. Jadi kita bisa menghentikan pemburukan situasi tersebut, setidaknya sampai batas tertentu," kata Dangendorf.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya