Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 Juli 2026, 12:04 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, Kabupaten Morowali telah menjelma sebagai simbol keberhasilan hilirisasi nikel di Indonesia.

Perekonomian kabupaten ini tumbuh signifikan. Hal ini terlihat dari Produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) yang melonjak hampir 25 kali lipat, dari Rp 7,55 triliun pada 2014 menjadi Rp 188,86 triliun pada 2025.

Dengan rerata PDRB 21,36 persen, Morowali menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Kendati demikian, penurunan kemiskinan tidak terjadi secepat dan sebesar kenaikan rerata PDRB tersebut. Tingkat partisipasi angkatan kerja, khususnya perempuan, juga masih menjadi yang terendah di provinsi tersebut.

Memang tidak bisa dimungkiri, Morowali mengalami transformasi ekonomi besar-besaran. Sebelum “booming” nikel, kabupaten di pesisir timur Sulawesi Tengah ini bertumpu pada sektor primer, seperti pertanian, perikanan, dan kehutanan.

Kini, sektor industri pengolahan dan pertambangan menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. Pada 2025, industri pengolahan menyumbang 73,5 persen terhadap total PDRB Morowali.

Pendapatan per kapita juga terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2010 Kabupaten Morowali naik 9,06 persen pada 2025 dengan nilai Rp 621,817 juta.

Sejumlah indikator sosial juga menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 73,12 menjadi 74,70 dan penduduk miskin turun dari 13,75 persen menjadi 10,38 persen. Kemudian, tingkat pengangguran terbuka (TPK) menyusut dari 5,08 persen menjadi 2,81 persen pada periode yang sama.

Baca juga: APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang

Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf mengatakan, hilirisasi nikel memberikan manfaat nyata bagi daerahnya. Aktivitas ekonomi masyarakat bergeliat serta pendapatan asli daerah (PAD) meningkat, dari Rp 394,95 miliar pada 2022 menjadi Rp 913,81 miliar pada 2025.

“Dampaknya sangat terasa. Perputaran ekonomi meningkat, UMKM ikut tumbuh, dan PAD bertambah sehingga pemerintah daerah memiliki ruang fiskal untuk membangun berbagai fasilitas pelayanan masyarakat. Perusahaan juga berkontribusi membangun infrastruktur yang belum dapat dibiayai pemerintah daerah,” kata Iksan saat ditemui Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Iksan melanjutkan, peningkatan PAD memungkinkan pembangunan di wilayahnya lebih merata. Sebagai contoh, pendapatan dari Kecamatan Bahodopi, pusat aktivitas hilirisasi melalui kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), dapat digunakan untuk mendukung pembangunan di wilayah lain melalui mekanisme pemerataan anggaran pemerintah daerah.

Dampak serupa juga dirasakan masyarakat Bahodopi. Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Bahodopi Ibansi mengatakan, keberadaan kawasan industri membuka peluang kerja yang sebelumnya terbatas bagi masyarakat setempat.

“Dari segi ekonomi, masyarakat itu ada perubahan, ada kenaikan. Kemudian dari segi lapangan kerja, yang tadinya lapangan kerja di sini terbatas, dengan adanya kawasan industri, masyarakat sudah bisa mendapat lapangan pekerjaan di perusahaan,” kata Ibansi kepada Kompas.com.

Selain bekerja di perusahaan, sebagian warga juga memanfaatkan keberadaan kawasan industri dengan membuka rumah kos, ruko, penginapan, hingga usaha perdagangan.

Perusahaan, lanjutnya, juga turut menjalankan program CSR berupa pembangunan sarana-prasarana, bantuan pendidikan, serta dukungan dana bagi pembangunan infrastruktur desa.

Baca juga: Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel

Pertumbuhan tinggi, pemerataan masih tertinggal

Jika dilihat dari sejumlah indikator sosial dan ekonomi, manfaat hilirisasi nikel memang sudah terasa di Morowali. Namun, manfaat tersebut belum sepenuhnya inklusif.

Dalam periode 2023-2025, Morowali mencatat rata-rata pertumbuhan ekonomi 15,91 persen per tahun. Namun, tingkat kemiskinan hanya turun dari 12,31 persen menjadi 10,38 persen. Di sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Tengah yang hanya tumbuh sekitar 3-4 persen per tahun, penurunan kemiskinan yang terjadi relatif setara.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya terkonversi menjadi pengurangan kemiskinan secara proporsional.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah Prof Ahlis Djirimu mengatakan, fenomena tersebut berkaitan dengan paradigma pembangunan yang masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, belum sepenuhnya bergeser menuju pertumbuhan yang berkeadilan.

“Fenomena ini dapat menggerus tatanan hidup masyarakat apabila strategi pembangunan yang diterapkan belum menyentuh akar masalah sosial ekonomi masyarakat,” jelas Ahlis lewat jawaban tertulis kepada Kompas.com, Senin (6/7/2026).

Baca juga: Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau