JAKARTA, KOMPAS.com – Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) memperkirakan suhu udara di sejumlah wilayah Malaysia dapat mencapai 39-40 derajat Celsius pada awal 2027 seiring menguatnya fenomena El Nino yang diprediksi berkembang menjadi El Nino ekstrem atau Godzilla.
Wakil Direktur Jenderal Operasi MetMalaysia Ambun Dindang mengatakan, fase El Nino yang lebih kuat diperkirakan mencapai puncaknya pada periode November 2026 hingga Januari 2027, sehingga berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Malaysia.
"Wilayah utara dan tengah Semenanjung Malaysia berpotensi mencatat suhu antara 39 derajat Celsius hingga 40 derajat Celsius jika kondisi ini berlanjut hingga awal 2027," ujar Ambun dalam konferensi pers, seperti dikutip The Straits Times, Kamis (9/7/2026).
Baca juga: PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
Menurut Ambun, pola cuaca tersebut memiliki kemiripan dengan peristiwa El Nino 1997-1998 yang memicu kabut asap parah, kekeringan, gangguan pasokan air, hingga terganggunya operasional bandara di Asia Tenggara.
Malaysia sendiri pernah mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 40,1 derajat Celsius di Cuping, Perlis, pada 9 April 1998.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, pemerintah Malaysia mulai memperkuat langkah mitigasi untuk mengurangi risiko kebakaran hutan, krisis air, gangguan kesehatan, hingga dampaknya terhadap sektor pendidikan.
MetMalaysia meningkatkan pemantauan melalui pembaruan bulanan kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO), penerbitan peringatan cuaca panas, serta pemberitahuan kepada instansi terkait apabila suatu wilayah mengalami tujuh hari berturut-turut tanpa hujan.
Lembaga tersebut juga memanfaatkan Fire Danger Rating System dan Community Multiscale Air Quality untuk memprediksi risiko kebakaran hutan dan kabut asap. Selain itu, MetMalaysia menyatakan siap mendukung operasi modifikasi cuaca atau penyemaian awan apabila diperlukan.
Direktur Jenderal MetMalaysia Mohd Hisham Mohd Anip mengatakan, gelombang panas berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, ketersediaan air, pertanian, produksi energi, hingga lingkungan.
Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
"Risiko penyakit yang berhubungan dengan panas seperti kram panas, kelelahan akibat panas, dan serangan panas diperkirakan akan meningkat, terutama di kalangan lansia, anak-anak, penderita penyakit kronis, dan mereka yang bekerja di luar ruangan," ujar Hisham, dikutip dari New Straits Times.
Ia menambahkan, cuaca panas juga meningkatkan risiko dehidrasi, rawat inap, hingga kematian akibat paparan suhu ekstrem.
Sementara itu, Direktur Pusat Iklim Nasional MetMalaysia Ahmad Fairudz Jamaluddin mengatakan, kondisi El Nino lemah yang mulai berkembang saat ini berpotensi meningkat menjadi El Nino ekstrem pada akhir tahun.
Karena itu, masyarakat diminta mulai bersiap menghadapi kemungkinan gelombang panas yang lebih panjang serta meningkatnya penyakit terkait suhu tinggi.
Kelompok yang dinilai paling rentan adalah anak-anak, terutama yang berusia di bawah 12 tahun. Para ahli menjelaskan bahwa tubuh anak lebih cepat menyerap panas dan lebih lambat melepaskannya dibandingkan orang dewasa.
Konsultan spesialis anak di Sunway Medical Centre, dr. Ch'ng Tong Wooi, mengingatkan bahwa paparan suhu tinggi secara berulang sejak usia dini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk kerusakan ginjal akibat dehidrasi kronis.
Baca juga: Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Ia menjelaskan, masyarakat perlu mengenali tiga kondisi penyakit akibat panas.
Kram panas merupakan kondisi paling ringan yang ditandai kejang otot setelah aktivitas fisik di cuaca panas. Tingkat berikutnya adalah kelelahan akibat panas, yang ditandai tubuh sangat lemas, denyut jantung meningkat, mual, sakit kepala, pusing, dan berkeringat berlebihan.
Sementara itu, serangan panas (heat stroke) merupakan kondisi paling berbahaya yang memerlukan penanganan medis segera.
"Serangan panas terjadi ketika suhu inti tubuh melebihi 40 derajat Celsius dan disertai gejala neurologis seperti kebingungan, disorientasi, kejang, kehilangan kesadaran, atau bahkan koma. Pendinginan segera dan perawatan medis darurat sangat penting karena keterlambatan dapat menyebabkan kerusakan organ permanen atau kematian," ujar Ch'ng.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya