Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia

Kompas.com, 10 Juli 2026, 14:57 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Perusahaan penyerapan karbon berbasis alam, Thryve.Earth, mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pembeli resmi pertama dari kalangan perusahaan besar.

Perjanjian pembelian secara terpisah ini disepakati bersama Google, McKinsey & Company --melalui kelompok Symbiosis Coalition, serta Tencent. Lewat kerja sama ini, mereka berkomitmen untuk menyerap 650.000 ton karbon.

Melansir ESG Dive, Kamis (9/7/2026) menurut laporan resmi pada 8 Juli, Google dan McKinsey secara bersama-sama akan membeli kuota penyerapan sebesar 335.000 ton karbon sebagai sesama anggota Symbiosis Coalition.

Kelompok tersebut merupakan perkumpulan para pembeli besar yang telah berjanji sejak awal untuk membeli total 20 juta ton kredit penyerapan karbon berbasis alam hingga tahun 2030 nanti.

Sementara Tencent, perusahaan besar di bidang teknologi dan hiburan, secara terpisah akan membeli kuota penyerapan sebesar 300.000 ton karbon. Tencent menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan pembelian kredit karbon pertama mereka yang dilakukan di luar negara China.

Baca juga: RI Luncurkan Sistem Registri Unit Karbon Nasional, Empat Proyek Mulai Diperdagangkan

Pemulihan hutan di Sulawesi

Thryve, perusahaan yang memiliki proyek utama penyerapan karbon di India dan Indonesia, menjelaskan bahwa kredit karbon ini akan dihasilkan dari proyek mereka dalam memulihkan hutan hujan di Sulawesi. Kedua kesepakatan tersebut baik dengan Google dan McKinsey, maupun dengan Tencent akan berjalan selama jangka waktu 10 tahun.

Perusahaan penyerapan karbon tersebut mengatakan bahwa bantuan dana dari penjualan karbon ini sangat penting agar proyek bisa berkembang besar.

Komitmen pembelian dari perusahaan-perusahaan raksasa tersebut memberikan kepastian jumlah dan harga yang sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan modal, sehingga proyek ini bisa diperluas hingga mencakup ribuan hektar lahan.

Lebih lanjut, Thryve menjelaskan dalam laporannya bahwa proyek ini bertujuan untuk memulihkan 6.000 hektar ekosistem. Caranya adalah dengan menggunakan sistem pertanian tumpang sari yang bisa menyerap karbon, menyuburkan kembali tanah, mengurangi risiko kebakaran, serta meningkatkan keanekaragaman hayati dan pendapatan bagi petani lokal.

Sistem pertanian yang digunakan dalam proyek ini akan membuat lapisan-lapisan tanaman dan pelindung untuk memberikan berbagai macam sumber penghasilan bagi petani, di luar penghasilan dari penjualan karbon.

Lapisan paling atas hutan akan diisi oleh pohon aren dan pohon kayu, lapisan tengah akan ditanami pepaya, alpukat, kopi, dan pisang, sedangkan di lapisan paling bawah akan ditanami cabai dan jagung. Thryve menjelaskan bahwa pohon buah dan pohon kayu yang ditanam ini akan menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Direktur Eksekutif Symbiosis Coalition, Julia Strong, mengatakan bahwa perjanjian pembelian ini memberikan kepastian bagi Thryve untuk membangun proyek dalam skala besar. Menurutnya, hal ini adalah tanda yang tepat untuk membuka dampak nyata dari pasar karbon dan proyek seperti Thryve bagi masyarakat serta bumi.

"Proyek Thryve membuktikanbahwa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan bukan sekadar bonus sampingan dari proyek yang jujur, melainkan faktor utama yang mendorong keberhasilan proyek tersebut,” kata Strong.

Target lingkungan perusahaan

Symbiosis Coalition diluncurkan pada tahun 2024 oleh Google, Meta, Microsoft, McKinsey, dan Salesforce. Perusahaan Bain & Co. dan REI juga ikut bergabung menjadi anggota kelompok ini setelah peluncurannya.

Baca juga: Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi

Selain berjanji sejak awal untuk membeli kredit dari proyek penghijauan kembali, Symbiosis juga berharap kerja keras mereka bisa membantu mengatasi masalah biaya proyek yang mahal, kurangnya minat investor, atau menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap dampak sosial dan lingkungan dari proyek berbasis alam.

Kesepakatan dengan Thryve ini menjadi kontrak pembelian ketiga yang diumumkan oleh Symbiosis Coalition. Sebelumnya, pada bulan November, Google dan McKinsey sebagai anggota kelompok membeli kuota penyerapan sebesar 215.000 ton karbon dari perusahaan Mombak di Brasil.

Kemudian pada bulan Maret, kelompok ini mengumumkan bahwa Google, McKinsey, dan Meta telah mengikat kontrak untuk menyerap lebih dari 130.000 ton karbon bersama Living Carbon, sebuah perusahaan yang mengurus penghijauan kembali di wilayah pegunungan Appalachia, Amerika Serikat.

Sementara itu, Tencent memiliki target untuk mencapai bebas polusi di seluruh operasional dan jaringan bisnisnya, serta menggunakan 100 persen listrik ramah lingkungan pada tahun 2030.

Menurut situs resminya, strategi bebas emisi Tencent berfokus pada penghematan energi, penggunaan energi terbarukan, dan dukungan terhadap teknologi baru untuk menebus polusi karbon.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau