Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 10 Juli 2026, 14:01 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

BOYOLALI, KOMPAS.com – Di ketinggian 1.130 meter di atas permukaan laut (MDPL), dinginnya embusan angin pegunungan menusuk kulit di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Di lereng Gunung Merapi yang subur ini, tanaman mawar merah dan putih menyembul memamerkan kemolekannya. 

Bagi warga setempat, keindahan kelopak mawar bukan sekadar pemandangan alam. Mawar menjadi urat nadi perekonomian yang berkelindan dengan sejarah tanah leluhur mereka.

Mawar adalah komoditas magis di tanah Jawa. Permintaannya nyaris tidak pernah surut karena didorong oleh tradisi nyekar, tabur bunga saat ziarah makam.

Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim

Di dekat mulut pintu rimba Taman Nasional Gunung Merapi, mata Marwoto memandang hamparan mawar di depannya. Budidaya mawar telah digelutinya secara turun-temurun dan dipraktikkan secara tumpang sari dengan tembakau.

Bagi Marwoto, mawar menjadi penopang hidup keluarganya, di samping tembakau yang dia tanam.

"Dua hari sekali bisa panen. Mawar ini jadi (penghasilan) harian-lah isitilahnya," kata Marwoto kepada Kompas.com, Selasa (7/7/2026).

Mawar memberikan kepastian arus kas harian di saat tembakau belum memasuki musim petik. Walau harganya kerap berfluktuasi, bagi Marwoto, mawar adalah penyelamat.

Namun, di balik wanginya mawar dan tembakau, kedua komoditas tersebut menuntut pembukaan lahan yang cukup ekstensif. Dorongan ekonomi membuat vegetasi hutan penyangga di lereng Merapi tersebut perlahan berganti menjadi petak-petak pertanian. Tak jarang, ladang-ladang dibuka di lereng curam tanpa.

Joko Susanto, tokoh masyarakat Desa Mriyan sekaligus organisator Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (PAKEM), menyaksikan langsung perubahan lanskap di sana. 

Baca juga: ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti

Sebagai insan yang lahir dan tumbuh besar di sana, Joko mengingat betul bagaimana hutan yang dulunya lebat dan dipenuhi pepohonan berakar dalam, berangsur-angsur rata menjadi  ladang.

"Dahulu, ladang dibuka di lereng-lereng tanpa adanya terasering," ujar Joko yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Karya Muda.

Ketidakberlanjutan itu akhirnya dibayar mahal. Pada 2010, longsor besar mengguncang Desa Mriyan. Material tanah menutup total akses jalan utama dan memutus mobilitas menuju desa tetangga.

Bencana tersebut menjadi bukti bahwa kerusakan ekologis menimbulkan dampak yang nyata bagi mereka yang tinggal di sana. 

Baca juga: Rahasia Microsoft Capai Target Penghematan Air 4 Tahun Lebih Awal

Berkaca dari bencana tersebut, kesadaran kolektif warga perlahan mulai bangkit. Joko bersama Kelompok Karya Muda mulai mengedukasi warga untuk mengubah metode berladang. Secara bertahap, mereka mengubah ladang di lereng-lereng curam menjadi tangga-tangga terasering.

"Sekarang dengan adanya terasering, masyarakat mulai percaya dan menggunakannya untuk mencegah longsor," papar Joko.

Bagi Joko, mengubah kebiasaan petani tidak bisa dilakukan dengan pemaksaan, melainkan dengan pendekatan yang perlahan dan memperhatikan perekonomian mereka. 

Menurutnya, konservasi yang ideal harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat di sekitar Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur tersebut. 

Joko menambahkan, menjaga lingkungan juga harus berbanding lurus dengan menjaga perekonomian petani. Prinsip inilah yang kemudian membuka jalan bagi program konservasi yang lebih besar.

Baca juga: Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau