Penulis
KLATEN, KOMPAS.com - Selama ini banyak orangtua mengira, mencegah anemia pada anak cukup dengan memberikan makanan yang kaya zat besi.
Namun menurut pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga Sekretaris Ikatan Ahli Gizi Indonesia (INA), Dian Novita Chandra, anggapan itu belum lengkap.
"Yang paling penting tentunya makanan. Tetapi tidak cukup hanya makan makanan yang kaya zat besi. Kita juga harus perhatikan apakah makanan ini diserap tubuh dengan baik," kata Dian di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Jus Jambu Biji Efektif Membantu Redakan Gejala Anemia
Menurut Dian, banyak faktor yang menentukan apakah zat besi dari makanan benar-benar bisa diserap dan dimanfaatkan tubuh, bukan sekadar melewati saluran cerna begitu saja.
Faktor-faktor inilah yang menurutnya kerap luput dari perhatian, padahal berperan besar dalam mencegah anemia defisiensi besi atau Iron Deficiency Anemia (IDA).
IDA saat ini masih mengintai Indonesia, dialami sekitar 1 dari 4 anak balita dan ibu hamil di Indonesia.
Salah satu penghambat penyerapan zat besi yang paling umum ditemukan dalam pola makan masyarakat Indonesia adalah fitat.
Baca juga: Anemia Berat, Jemaah Haji Kloter 13 Embarkasi Padang Batal Berangkat
Senyawa ini banyak terkandung dalam nasi dan kacang-kacangan atau legum, dua jenis makanan yang menjadi santapan sehari-hari.
"Fitat ini adalah inhibitor atau penghambat untuk penyerapan zat besi. Dan ini banyak di nasi, banyak di legum, yang merupakan makanan sehari-hari di Indonesia," ujar Dian.
Menurut Dian, persoalan lainnya adalah cara mengolah dan mengombinasikannya agar zat besi di dalamnya, maupun dari sumber makanan lain, tetap bisa diserap optimal oleh tubuh.
Salah satu solusi yang disebut Dian justru sudah lama dikenal dalam kuliner Nusantara, yaitu fermentasi.
Baca juga: Dubes Kanada Tinjau Program Cegah Anemia Remaja Putri di SMPN 43 Bandung
Proses fermentasi pada bahan pangan berbasis kacang-kacangan terbukti mampu menurunkan kadar fitat, sehingga penyerapan zat besi menjadi lebih baik.
"Untuk legum bisa ada dengan fermentasi, jadi misalnya makanan khas Indonesia seperti tahu dan tempe itu juga sudah menurunkan kadar fitat," kata Dian.
Selain fermentasi, Dian juga menekankan pentingnya variasi asupan, yakni tidak hanya mengandalkan satu jenis sumber makanan.
Dengan mengombinasikan sumber pangan hewani dan nabati, faktor penghambat dari satu jenis makanan berpotensi diimbangi oleh faktor peningkat penyerapan dari makanan lain yang dikonsumsi bersamaan.
Baca juga: Rentan Anemia, Pasien Penyakit Ginjal Kronik Perlu Cek Hemoglobin
Dian menjelaskan, zat besi dalam makanan terbagi menjadi dua jenis, yaitu zat besi heme yang berasal dari sumber hewani seperti daging dan ikan, serta zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati seperti sayur dan kacang-kacangan.
Zat besi heme pada dasarnya jauh lebih mudah diserap tubuh dibanding non-heme.
Akan tetapi, persoalan selanjutnya adalah, asupan protein hewani pada anak-anak Indonesia masih tergolong rendah.
Di sinilah pentingnya strategi tambahan untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi non-heme dari sumber nabati, mengingat pangan nabati masih menjadi andalan utama pola makan sebagian besar masyarakat.
Baca juga: Guru MAN di Jakarta Barat Ini Buat Inovasi Kudapan Pencegah Anemia Bagi Remaja Putri
Salah satu enhancer atau peningkat penyerapan zat besi yang paling signifikan, menurut Dian, adalah vitamin C. Kandungan ini dapat mengubah bentuk zat besi non-heme agar lebih mudah diserap usus.
"Vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi, terutama jenis non-heme dari nabati, dengan cara mereduksi zat besi dari bentuk ferri yang sulit diserap menjadi bentuk ferro yang lebih mudah diserap oleh usus," jelas Dian.
Karena itu, Dian menyarankan agar asupan zat besi, baik dari makanan sehari-hari maupun dari produk fortifikasi, selalu dikombinasikan dengan sumber vitamin C.
Dia juga mengingatkan agar metode memasak tidak sampai merusak kandungan vitamin C dalam bahan makanan, mengingat vitamin ini mudah rusak akibat panas berlebihan atau proses pemasakan yang terlalu lama.
"Bila makanan tidak cukup, maka bisa diberikan fortifikasi. Tetapi untuk fortifikasi, tidak hanya fortifikasi dari zat besi, lebih baik fortifikasinya juga dikombinasikan dengan vitamin C," kata Dian.
Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu, Ini Tips Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clement memberikan pemaparan di di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).Vice President Danone Research & Innovation Southeast Asia, Laurent Clement, menjelaskan bahwa inovasi pada produk fortifikasi saat ini dituntut untuk bergerak lebih maju.
"Zat besi memang harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana tubuh dapat menyerapnya dengan baik," ujar Laurent.
Laurent mengatakan, formula fortifikasi terbaru kini tidak hanya mengandalkan zat besi tunggal.
Pendekatan yang lebih mutakhir adalah mengombinasikan zat besi, vitamin C, dan serat prebiotik dalam satu formulasi tunggal.
Kombinasi ini dirancang agar tidak hanya meningkatkan jumlah zat besi yang dikonsumsi, tetapi juga membantu proses penyerapan sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna.
Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter
Dalam mekanisme ini, vitamin C bertindak sebagai enhancer yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama jenis zat besi non-heme yang berasal dari pangan nabati maupun produk fortifikasi.
Dengan penyerapan yang lebih baik, tubuh dapat memanfaatkannya secara maksimal untuk membentuk hemoglobin, sehingga efektif mencegah anemia defisiensi besi.
Peran vitamin C tersebut kemudian dilengkapi oleh serat prebiotik. Serat ini berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi bakteri baik di dalam tubuh, khususnya Bifidobacteria, yang bertugas menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Mikrobiota yang sehat berperan penting dalam mempertahankan fungsi pelindung saluran cerna sekaligus menekan pertumbuhan bakteri penyebab penyakit yang memicu risiko infeksi.
Selain menjaga ekosistem bakteri, serat prebiotik juga berkontribusi langsung pada penyerapan zat besi lewat proses fermentasi.
Baca juga: Anemia Bisa Ganggu Saraf dan Otak Anak, Orang Tua Perlu Kenali Gejalanya
Lebih lanjut, Laurent memaparkan bahwa zat besi yang gagal terserap dengan baik akan tetap berada di dalam saluran cerna. Jika jumlah sisa zat besi ini berlebihan, dampaknya justru dapat merusak komposisi mikrobiota usus.
Kondisi tersebut memicu pertumbuhan bakteri patogen dan mengikis populasi bakteri baik, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko gangguan hingga infeksi saluran cerna.
"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan penyerapan zat besi, tetapi juga melindungi kesehatan saluran cerna melalui keseimbangan mikrobiota usus," kata Laurent.
Oleh karena itu, perpaduan zat besi, vitamin C, dan serat prebiotik dinilai sebagai salah satu solusi paling strategis saat ini.
Ketiganya bekerja saling melengkapi: zat besi menyediakan nutrisi inti, vitamin C mengoptimalkan penyerapan, dan serat prebiotik menjaga benteng pertahanan pencernaan.
Baca juga: Anemia Defisiensi Besi Turunkan Kecerdasan Anak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya