KOMPAS.com - Perusahaan jasa profesional global, Deloitte, meluncurkan "Sustainability Fusion".
Ini adalah sebuah sistem dan alat baru yang dirancang untuk membantu perusahaan mengukur dan menunjukkan keuntungan finansial dari investasi ramah lingkungan mereka.
Melansir ESG Today, Selasa (14/7/2026) Deloitte menyebut alat baru ini dibuat karena banyak perusahaan kesulitan menyelaraskan target ramah lingkungan mereka dengan keuntungan bisnis.
Mereka sering bingung bagaimana cara mengubah dampak lingkungan menjadi angka keuangan yang jelas. Padahal, saat ini ada tuntutan besar bagi perusahaan untuk membuktikan bahwa program ramah lingkungan mereka benar-benar bisa mengurangi risiko, menghemat biaya, dan membawa keuntungan bisnis jangka panjang.
Baca juga: Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Deloitte juga mencatat bahwa selama ini investasi ramah lingkungan biasanya hanya dinilai dari sisi kepatuhan aturan dan pembuatan laporan formal saja.
Padahal, laporan-laporan tersebut tidak dirancang untuk mengukur nilai bisnis atau keuntungan dari uang yang sudah diinvestasikan.
"Perusahaan membutuhkan sistem ini sekarang lebih dari sebelumnya. Saat ini, para pemimpin bagian keuangan dan bagian lingkungan dituntut untuk bisa menghitung nilai nyata dari investasi ramah lingkungan mereka," ungkap Bill Marquard, salah satu pemimpin proyek Sustainability Fusion di Deloitte Consulting LLP.
Selain sistem dan layanan baru ini, Deloitte juga meluncurkan alat penilai berbasis web yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI). Alat ini berfungsi untuk memetakan program ramah lingkungan perusahaan ke dalam angka-angka keuntungan keuangan, cukup dengan memasukkan data proyek yang mereka miliki.
Beberapa kemampuan utama dari alat baru Deloitte ini meliputi menilai investasi hijau dengan standar keuangan biasa, mengubah perkiraan keberlanjutan menjadi aliran kas nyata, dan membuat metode yang bisa dipakai berulang kali oleh seluruh bagian perusahaan untuk membandingkan dan memilih proyek mana yang harus didahulukan.
"Ketika perusahaan bisa menjelaskan dengan jelas keuntungan finansial dari investasi ramah lingkungan mereka, mereka bisa mengambil keputusan dengan lebih mantap, bergerak lebih cepat untuk urusan yang penting, dan menjadi lebih unggul dibanding pesaing di dunia bisnis yang berubah dengan cepat ini," terang Laura Bryce, salah satu pemimpin proyek Sustainability Fusion di Deloitte Consulting LLP.
Baca juga: Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Deloitte mengatakan bahwa alat baru ini dibuat bersama lembaga nirlaba global bernama Aspen Institute. Pembuatannya dilakukan melalui serangkaian lokakarya yang diadakan oleh Aspen Institute, dengan melibatkan lebih dari 25 pemimpin dari berbagai perusahaan besar, LSM, dan penasihat independen.
"Sebagai lembaga yang menyatukan para pemimpin dari berbagai sektor, Aspen Institute berada di posisi yang tepat untuk menjembatani sudut pandang antara bagian lingkungan dan bagian keuangan," tambah Felicia Davis, pemimpin program keberlanjutan di Aspen Institute.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya