Sebagai contoh, di Amerika Serikat, produk pangan dengan manfaat kesehatan sekaligus diproduksi secara berkelanjutan dapat dipertimbangkan masuk dalam program bantuan gizi, seperti Women, Infants, and Children (WIC).
Secara global, sektor pertanian menyumbang sekitar 17 persen emisi gas rumah kaca. Salah satu sumber emisi terbesar berasal dari pupuk nitrogen yang menghasilkan dinitrogen oksida (N?O), gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global sekitar 300 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO?).
Baca juga: Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara
Menurut Niles, emisi tersebut dapat dikurangi melalui metode tanpa olah tanah (no-till farming). Teknik ini tidak lagi membajak seluruh lahan, melainkan hanya membuat lubang kecil untuk menanam benih sehingga pelepasan nitrogen oksida dari tanah dapat ditekan.
Selain itu, sawah yang terus digenangi air juga menjadi sumber emisi metana karena aktivitas mikroorganisme di dalam tanah. Dengan menerapkan sistem pengeringan dan pembasahan bergantian, emisi metana dari budidaya padi dapat berkurang hingga sekitar 50 persen.
"Ini contoh yang baik. Kita memang perlu mempromosikan beras yang ramah iklim, tetapi kita juga perlu menjelaskan bahwa praktik tersebut bermanfaat bagi kesehatan manusia karena berpotensi mengurangi kandungan logam berat dalam beras," kata Niles.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya