Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter

Kompas.com, 16 Juli 2026, 20:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Polusi plastik telah menjadi krisis lingkungan global, di mana sekitar 11 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahunnya.

Sampah plastik besar hancur menjadi serpihan sangat kecil ini saat terbawa oleh arus laut ke seluruh ekosistem laut bisa mengancam kehidupan makhluk laut dan akhirnya masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Melansir Phys, Rabu (15/7/2026) meskipun sudah banyak penelitian yang mencatat pencemaran mikroplastik di pantai dan permukaan laut, belum banyak yang diketahui tentang keberadaannya di laut dalam, padahal laut dalam mencakup hampir 90 persen dari total lingkungan laut dunia.

Secara khusus, hampir belum pernah dilakukan studi mikroplastik di ekosistem ventilasi hidrotermal. Ekosistem ini merupakan habitat unik di laut dalam yang menjadi tempat tinggal berbagai makhluk hidup meskipun tidak ada cahaya matahari.

Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Se-Joo Kim dan Dr. Jinyoung Jeong dari Institut Riset Biosains dan Bioteknologi Korea (KRIBB), bekerja sama dengan Institut Sains dan Teknologi Laut Korea (KIOST), telah melakukan penelitian perbandingan pertama di dunia untuk mengungkap bagaimana mikroplastik menumpuk di tubuh hewan yang hidup di ventilasi hidrotermal pada dua samudra yang berbeda.

Para peneliti mengamati siput dan kerang laut dalam yang dikumpulkan di kedalaman lebih dari 2.000 meter.

Lokasi pengambilan sampel berada di Cekungan Fiji Utara di Samudra Pasifik barat daya dan Punggung Bukit Hindia Tengah di Samudra Hindia.

Peneliti KRIBB kemudian melakukan analisis mendalam terhadap mikroplastik dan dampak lingkungan pada hewan-hewan yang dikumpulkan tersebut.

Mikroplastik di hewan laut dalam

Penelitian ini menemukan mikroplastik pada 92 persen hewan yang diperiksa, dengan rata-rata 3,42 serpihan plastik di setiap tubuh hewan.

Hal ini membuktikan bahwa lingkungan laut dalam yang sangat jauh pun sudah tercemar oleh polusi plastik. Dari berbagai jenis plastik yang ditemukan, polistirena—jenis plastik yang banyak digunakan untuk kemasan produk dan pembungkus adalah yang paling banyak jumlahnya.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa cara makan hewan sangat menentukan di bagian tubuh mana mikroplastik tersebut menumpuk.

Pada siput yang makan dengan cara mengikis lapisan bakteri di dasar laut, mikroplastik sebagian besar menumpuk di organ pencernaan mereka.

Sebaliknya, pada kerang yang makan dengan cara menyaring air, mikroplastik tersebar cukup rata di seluruh jaringan tubuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa cara hidup dan sifat fisik hewan sangat memengaruhi bagaimana mikroplastik masuk dan menumpuk di dalam tubuh mereka.

Perbedaan di antara dua samudra

Perbandingan antara dua wilayah samudra ini juga menunjukkan perbedaan wilayah yang sangat besar.

Hewan-hewan yang diambil dari Samudra Hindia memiliki kandungan mikroplastik yang jauh lebih tinggi daripada hewan dari Samudra Pasifik barat daya.

Setelah disesuaikan dengan berat tubuhnya, hewan dari Samudra Hindia mengandung mikroplastik hingga 14,7 kali lipat lebih banyak.

Para peneliti menduga bahwa perbedaan aktivitas manusia di sekitar lokasi, jumlah sampah plastik yang terbawa dari sungai, serta pola arus laut yang besar menjadi penyebab perbedaan ini.

Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air

Temuan ini memberikan bukti ilmiah pertama bahwa polusi plastik yang berasal dari permukaan laut bisa terbawa hingga ribuan meter ke bawah, sampai ke salah satu ekosistem laut paling terpencil dan ekstrem di bumi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sifat fisik hewan seperti cara mereka makan memengaruhi cara mikroplastik menumpuk di dalam tubuh, sementara kondisi lingkungan di wilayah tersebut menentukan seberapa parah tingkat pencemarannya.

Temuan-temuan ini diharapkan dapat membantu pengawasan lingkungan laut dalam di masa depan, penilaian dampak lingkungan untuk penambangan mineral di laut dalam, serta rencana penyelamatan jangka panjang bagi ekosistem laut dalam.

"Polusi plastik sekarang bahkan telah menyebar ke ekosistem ventilasi bawah laut yang dulu dianggap sebagai salah satu lingkungan paling terpencil di bumi," kata Kim, salah satu penulis utama penelitian ini.

"Temuan kami memberikan bukti ilmiah yang penting untuk membuat sistem pengawasan lingkungan dan kebijakan penyelamatan laut dalam di masa depan," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
BrandzView
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Swasta
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau