KOMPAS.com - Polusi plastik telah menjadi krisis lingkungan global, di mana sekitar 11 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahunnya.
Sampah plastik besar hancur menjadi serpihan sangat kecil ini saat terbawa oleh arus laut ke seluruh ekosistem laut bisa mengancam kehidupan makhluk laut dan akhirnya masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Melansir Phys, Rabu (15/7/2026) meskipun sudah banyak penelitian yang mencatat pencemaran mikroplastik di pantai dan permukaan laut, belum banyak yang diketahui tentang keberadaannya di laut dalam, padahal laut dalam mencakup hampir 90 persen dari total lingkungan laut dunia.
Secara khusus, hampir belum pernah dilakukan studi mikroplastik di ekosistem ventilasi hidrotermal. Ekosistem ini merupakan habitat unik di laut dalam yang menjadi tempat tinggal berbagai makhluk hidup meskipun tidak ada cahaya matahari.
Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Se-Joo Kim dan Dr. Jinyoung Jeong dari Institut Riset Biosains dan Bioteknologi Korea (KRIBB), bekerja sama dengan Institut Sains dan Teknologi Laut Korea (KIOST), telah melakukan penelitian perbandingan pertama di dunia untuk mengungkap bagaimana mikroplastik menumpuk di tubuh hewan yang hidup di ventilasi hidrotermal pada dua samudra yang berbeda.
Para peneliti mengamati siput dan kerang laut dalam yang dikumpulkan di kedalaman lebih dari 2.000 meter.
Lokasi pengambilan sampel berada di Cekungan Fiji Utara di Samudra Pasifik barat daya dan Punggung Bukit Hindia Tengah di Samudra Hindia.
Peneliti KRIBB kemudian melakukan analisis mendalam terhadap mikroplastik dan dampak lingkungan pada hewan-hewan yang dikumpulkan tersebut.
Penelitian ini menemukan mikroplastik pada 92 persen hewan yang diperiksa, dengan rata-rata 3,42 serpihan plastik di setiap tubuh hewan.
Hal ini membuktikan bahwa lingkungan laut dalam yang sangat jauh pun sudah tercemar oleh polusi plastik. Dari berbagai jenis plastik yang ditemukan, polistirena—jenis plastik yang banyak digunakan untuk kemasan produk dan pembungkus adalah yang paling banyak jumlahnya.
Selain itu, para peneliti menemukan bahwa cara makan hewan sangat menentukan di bagian tubuh mana mikroplastik tersebut menumpuk.
Pada siput yang makan dengan cara mengikis lapisan bakteri di dasar laut, mikroplastik sebagian besar menumpuk di organ pencernaan mereka.
Sebaliknya, pada kerang yang makan dengan cara menyaring air, mikroplastik tersebar cukup rata di seluruh jaringan tubuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa cara hidup dan sifat fisik hewan sangat memengaruhi bagaimana mikroplastik masuk dan menumpuk di dalam tubuh mereka.
Perbandingan antara dua wilayah samudra ini juga menunjukkan perbedaan wilayah yang sangat besar.
Hewan-hewan yang diambil dari Samudra Hindia memiliki kandungan mikroplastik yang jauh lebih tinggi daripada hewan dari Samudra Pasifik barat daya.
Setelah disesuaikan dengan berat tubuhnya, hewan dari Samudra Hindia mengandung mikroplastik hingga 14,7 kali lipat lebih banyak.
Para peneliti menduga bahwa perbedaan aktivitas manusia di sekitar lokasi, jumlah sampah plastik yang terbawa dari sungai, serta pola arus laut yang besar menjadi penyebab perbedaan ini.
Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Temuan ini memberikan bukti ilmiah pertama bahwa polusi plastik yang berasal dari permukaan laut bisa terbawa hingga ribuan meter ke bawah, sampai ke salah satu ekosistem laut paling terpencil dan ekstrem di bumi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sifat fisik hewan seperti cara mereka makan memengaruhi cara mikroplastik menumpuk di dalam tubuh, sementara kondisi lingkungan di wilayah tersebut menentukan seberapa parah tingkat pencemarannya.
Temuan-temuan ini diharapkan dapat membantu pengawasan lingkungan laut dalam di masa depan, penilaian dampak lingkungan untuk penambangan mineral di laut dalam, serta rencana penyelamatan jangka panjang bagi ekosistem laut dalam.
"Polusi plastik sekarang bahkan telah menyebar ke ekosistem ventilasi bawah laut yang dulu dianggap sebagai salah satu lingkungan paling terpencil di bumi," kata Kim, salah satu penulis utama penelitian ini.
"Temuan kami memberikan bukti ilmiah yang penting untuk membuat sistem pengawasan lingkungan dan kebijakan penyelamatan laut dalam di masa depan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya