Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air

Kompas.com, 28 April 2026, 19:48 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti dari Institute of Science and Technology of São Paulo State University (ICT-UNESP) di Brasil menemukan bahwa Moringa oleifera atau yang lebih kita kenal sebagai tanaman Kelor, ternyata bisa membantu membersihkan mikroplastik dalam air.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah ACS Omega.

Tanaman Kelor berasal dari India dan tumbuh subur di wilayah tropis termasuk Indonesia. Daun dan bijinya sering dimakan karena kandungan gizinya yang tinggi.

Melansir Science Daily, Senin (20/4/2026) para ilmuwan sendiri sudah bertahun-tahun meneliti biji kelor karena kemampuannya yang luar biasa dalam menjernihkan air.

"Kami menunjukkan bahwa ekstrak air garam dari biji kelor bekerja hampir sama baiknya dengan aluminium sulfat, yaitu bahan kimia yang biasanya digunakan di pabrik pengolahan air untuk mengikat mikroplastik. Pada air yang lebih basa, biji kelor bahkan bekerja lebih baik daripada bahan kimia tersebut," kata Gabrielle Batista, penulis utama penelitian ini.

Baca juga: Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan

"Satu-satunya kekurangan biji kelor dibandingkan bahan kimia sejauh ini adalah meningkatnya jumlah zat organik yang terlarut, yang jika harus dibersihkan bisa membuat prosesnya jadi lebih mahal. Namun, untuk skala kecil seperti di perkebunan atau komunitas warga yang kecil metode ini bisa digunakan dengan sangat murah dan efisien," papar Adriano Gonçalves dos Reis, profesor di ICT-UNESP yang juga pemimpin penelitian.

Penyaringan dengan kelor

Penelitian ini fokus pada metode penyaringan langsung, di mana air pertama-tama dicampur dengan bahan pengikat (koagulan) lalu dialirkan melalui filter pasir. Cara ini paling efektif untuk air yang sudah relatif jernih.

Bahan pengikat seperti seperti ekstrak garam biji kelor membantu mikroplastik akan saling menempel dan membentuk gumpalan yang lebih besar sehingga mudah disaring.

Penelitian sebelumnya oleh kelompok riset yang sama menunjukkan bahwa biji kelor sangat efektif dalam seluruh tahapan pengolahan air, mulai dari proses penggumpalan kotoran, pengendapan, hingga penyaringan akhir.

Untuk menguji metode ini, tim peneliti kemudian memasukkan mikroplastik jenis PVC (polyvinyl chloride) ke dalam air keran.

PVC dipilih karena dianggap sebagai salah satu plastik yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia, sebab memiliki sifat yang dapat memicu perubahan genetik dan kanker. Selain itu, PVC sering ditemukan di permukaan air dan sulit dihilangkan bahkan setelah melalui proses pengolahan air biasa.

Para peneliti juga menyinari PVC tersebut dengan radiasi ultraviolet (UV) untuk meniru proses penuaan alami, agar mikroplastik tersebut lebih mirip dengan kondisi plastik asli yang ada di alam.

Air yang tercemar tersebut kemudian diproses melalui tahap pengikatan (koagulasi) dan penyaringan menggunakan sistem Jar Test, yang meniru proses pengolahan air dalam skala kecil. Hasilnya lalu dibandingkan dengan sampel yang menggunakan bahan kimia aluminium sulfat.

Hasilnya, kedua cara tersebut baik itu biji kelor maupun bahan kimia menunjukkan tingkat keberhasilan yang sama dalam menghilangkan mikroplastik.

Baca juga: Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia

Pengujian di sumber air asli

Para peneliti juga tengah menguji ekstrak biji kelor pada air yang diambil langsung dari Sungai Paraíba do Sul, yang merupakan sumber air utama bagi kota São José dos Campos.

Sejauh ini, hasilnya menunjukkan bahwa metode ini juga efektif bekerja pada kondisi air alam yang nyata.

"Saat ini aturan semakin ketat dan kekhawatiran kesehatan meningkat terkait penggunaan bahan kimia berbahan dasar aluminium dan besi. Bahan-bahan tersebut tidak dapat terurai secara alami, meninggalkan sisa racun, dan berisiko memicu penyakit. Itulah mengapa pencarian alternatif yang lebih ramah lingkungan semakin diperkuat," papar Reis.

Temuan ini menyoroti kelor sebagai pilihan yang menjanjikan dan lebih berkelanjutan untuk mengurangi mikroplastik dalam air minum, terutama bagi komunitas kecil yang sangat mengutamakan biaya murah dan kemudahan akses.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau