Larcom dan rekan-rekan penelitinya berpendapat bahwa beban tanggung jawab ini harus ditanggung bersama oleh panitia dan penonton.
Lantas bagaimana bepergian yang lebih ramah lingkungan?
Hal ini bisa dilakukan dengan membujuk penonton untuk bepergian dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Misalnya dengan menggunakan aplikasi ponsel yang memberikan hadiah bagi penonton yang memilih perjalanan rendah polusi.
Selain itu juga faktor lokasi menjadi penentu terbesar.
Sekitar 40 persen penonton internasional berasal dari Eropa. Jadi, jika pertandingan Piala Dunia lebih banyak diadakan di sana, jumlah penerbangan jarak jauh yang sangat kotor bisa dipotong secara drastis.
Sementara itu, membayar ganti rugi polusi secara langsung lewat uang jauh lebih sulit dilakukan secara adil. Jika seluruh biaya kerugian lingkungan dimasukkan ke dalam harga tiket tiket Piala Dunia akan melonjak sekitar 114 dolar AS per kursi.
Baca juga: Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Tambahan biaya yang rata seperti itu akan sangat memberatkan pembeli tiket murah. Untuk kategori tiket Piala Dunia yang paling murah, biaya tambahan ini bahkan bisa melebihi harga yang sanggup dibayar oleh banyak penggemar.
Oleh karena itu, para peneliti menempatkan pilihan skema "tebus karbon" di urutan paling buncit. Cara ini dinilai hanya berguna untuk sisa polusi yang benar-benar tidak bisa dihilangkan dengan cara lain.
Penelitian ini memperjelas satu hal bahwa masalah polusi iklim pada acara-acara raksasa sebenarnya berada di kursi penonton, bukan di dalam lapangan pertandingan.
Kendati demikian temuan ini membuka jalan yang nyata untuk perubahan.
Salah satu yang bisa dilakukan, untuk acara-acara besar yang melibatkan manusia dari berbagai wilayah, cara paling ampuh adalah membantu penonton tersebut bepergian dengan cara ramah lingkungan atau mengadakan acara di tempat yang lebih dekat dengan lokasi tempat tinggal mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya