Tak kalah penting adalah perkuat program vaksinasi. Vaksin sudah tersedia untuk beberapa penyakit utama yang menular lewat air, seperti kolera, rotavirus, polio, hepatitis A, dan tipes.
Meningkatkan cakupan vaksin dapat menekan jumlah orang yang sakit. Namun, bencana akibat perubahan iklim bisa mengganggu pembagian vaksin seperti merusak fasilitas, menutup akses ke lokasi bencana, hingga merusak sistem pendingin tempat menyimpan vaksin.
Baca juga: Pemanasan Global Bikin Masyarakat Kurang Bergerak, Risiko Penyakit Kronis Naik
Strategi-strategi tersebut tidak hanya mengurangi penyakit lewat air saat ini, tetapi juga membantu masyarakat menjadi lebih kuat dan siap menghadapi dampak kesehatan akibat perubahan iklim di masa depan.
“Perubahan iklim mengubah aturan main bagaimana penyakit-penyakit ini menyebar. Kabar baiknya, kita sudah punya banyak alat dan cara yang dibutuhkan untuk menekan risikonya. Tantangannya sekarang adalah memastikan semua alat tersebut dirancang dan diterapkan sesuai dengan kondisi iklim yang kita hadapi saat ini dan di masa depan,” kata Carlton.
Para penulis menyimpulkan bahwa tidak ada satu cara tunggal yang bisa menangkal semua jenis penyakit menular lewat air. Sebaliknya, upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim harus memperhitungkan bagaimana setiap kuman bereaksi terhadap perubahan lingkungan. Dengan begitu, petugas kesehatan bisa memprediksi dan mencegah wabah di masa depan dengan lebih baik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya