"Khususnya pada stadion terbuka, aliran udara sangat terbatas. Di lapangan pemain tidak benar-benar mendapatkan angin alami dan terus menerima paparan sinar matahari langsung," kata Winkley, dikutip dari ABC.
Menurut dia, panas yang dipancarkan ribuan penonton serta material bangunan stadion menciptakan iklim mikro yang membuat suhu di dalam stadion lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Baca juga: Kurangi Emisi Pertanian, Pesan Kesehatan Dinilai Lebih Efektif ketimbang Isu Iklim
Winkley menambahkan, perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca telah meningkatkan peluang terjadinya suhu ekstrem yang dapat mengganggu performa atlet.
Ilmuwan spesialis panas olahraga, Matt Brearly, mengatakan atlet profesional memang memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap suhu tinggi dibandingkan masyarakat umum. Namun, kemampuan tersebut tetap memiliki batas.
Menurut Brearly, paparan panas berlebih dapat menurunkan konsentrasi, mengurangi intensitas aktivitas fisik, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas.
"Tanda-tanda awalnya antara lain pemain terlihat lesu, membungkuk, tersandung, dan mulai kesulitan berkomunikasi dengan rekan setim. Jika terus terpapar panas, mereka bahkan dapat pingsan," ujar Brearly.
Karena itu, para ahli menilai peningkatan ketahanan stadion terhadap suhu ekstrem akan menjadi bagian penting dari adaptasi infrastruktur olahraga di tengah meningkatnya frekuensi gelombang panas akibat perubahan iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya