KOMPAS.com - Stadion perlu direnovasi agar mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang memicu gelombang panas semakin sering dan intens.
Dibandingkan membongkar bangunan lama lalu membangun stadion baru, renovasi dinilai lebih hemat biaya sekaligus lebih ramah lingkungan.
CEO perusahaan konsultan lingkungan SaveMoneyCutCarbon, Mark Sait, mengatakan peningkatan performa bangunan seharusnya menjadi langkah pertama sebelum menambah penggunaan pendingin udara.
"Intinya, renovasi harus membuat stadion berkinerja lebih baik sebelum menambahkan lebih banyak pendingin udara. Jika dilakukan dengan benar, hal itu dapat mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu, menekan biaya operasional, serta menciptakan ruang yang lebih sejuk dan aman bagi penggemar, staf, dan pemain," ujar Sait, dikutip dari Euronews, Senin (20/7/2026).
Baca juga: Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Menurut dia, sejumlah teknologi bangunan dapat diterapkan untuk menurunkan suhu stadion. Salah satunya adalah penggunaan cool roof atau atap dingin, yaitu pelapisan atap menggunakan cat berwarna putih atau material reflektif yang mampu memantulkan panas matahari sehingga mengurangi penyerapan panas.
Teknologi lain yang dapat diterapkan ialah kaca pengontrol surya (solar control glass), yang memantulkan radiasi inframerah penyebab panas tetapi tetap memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam stadion.
Selain membantu menurunkan suhu, material tersebut juga dapat mengurangi silau tanpa menggelapkan lapangan.
Efektivitas teknologi atap reflektif sebelumnya juga ditunjukkan dalam studi University College London (UCL) dan Universitas Exeter pada 2024.
Penelitian itu menemukan bahwa penerapan cool roof secara luas berpotensi menurunkan suhu Kota London hingga sekitar 0,8 derajat Celsius selama gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi pada musim panas 2018.
Urgensi adaptasi stadion terhadap perubahan iklim semakin mengemuka setelah penyelenggaraan Piala Dunia 2026 bertepatan dengan gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah di Amerika Utara.
Amerika Serikat, salah satu tuan rumah turnamen tersebut, mengalami suhu udara yang dalam beberapa pekan mencapai hampir 40 derajat Celsius.
Menurut Sait, jika sebuah stadion tidak mampu memberikan kondisi yang aman bagi pemain maupun penonton pada jam tertentu, penyelenggara memang dapat memindahkan pertandingan ke malam hari. Namun, penyesuaian jadwal hanya menjadi solusi sementara.
"Jika sebuah stadion tidak dapat beroperasi dengan aman pada waktu tertentu dalam sehari, maka jadwal pertandingan memang perlu diubah. Namun, penjadwalan ulang hanyalah sebagian dari solusi," ujarnya.
Dampak suhu tinggi terlihat saat pertandingan Prancis melawan Paraguay di Stadion Philadelphia pada 5 Juli 2026. Saat itu suhu udara mencapai sekitar 38 derajat Celsius, sementara suhu di permukaan lapangan diperkirakan melebihi 43 derajat Celsius.
Ahli meteorologi Climate Central, Shel Winkley, mengatakan desain stadion terbuka justru dapat memperburuk paparan panas karena aliran udara terbatas, sementara permukaan beton dan baja menyerap panas dalam jumlah besar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya