Penulis
KOMPAS.com - Masalah sampah organik hingga kini masih menjadi tantangan mendasar bagi kawasan perkotaan di Indonesia.
Sisa makanan rumah tangga yang berakhir di TPA tidak hanya menumpuk secara kuantitas, tetapi juga memicu emisi gas rumah kaca, khususnya metana, yang mempercepat laju perubahan iklim.
Di tengah urgensi pengelolaan sampah dari sumbernya, inisiatif berbasis komunitas dengan pendekatan ekonomi sirkular menjadi jawaban yang kian relevan.
Salah satu praktik baik (best practice) ditunjukkan melalui peresmian Rumah Maggot Garudafood di Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat (21/7/2026).
Program yang diinisiasi oleh PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk bersama mitra pelaksana Biomagg dan pemerintah daerah setempat ini memperlihatkan bagaimana sinergi lintas sektor dapat mendorong kemandirian warga sekaligus membawa dampak lingkungan terukur.
Peresmian ini menjadi bagian dari keberlanjutan program Kampung Wirausaha Maggot Garudafood yang telah bergulir sejak 2024 dan terus menunjukkan perkembangan signifikan dari tahun ke tahun.
Selain di Depok Jaya, Rumah Maggot Garudafood juga dibangun di Kelurahan Jatijajar dan Sukmajaya.
Salah satu penerima manfaat program, sekaligus ketua kelompok budi daya maggot Depok Jaya, Hadijah, menuturkan perjalanan kelompoknya hingga bisa mendirikan rumah maggot tersebut.
“Awalnya kami menimba ilmu dari kelompok binaan Kelurahan Limo, hingga kemudian dikenalkan dengan Biomagg dan mendapat dukungan penuh dari Garudafood untuk mendirikan rumah maggot ini," ungkapnya.
"Panen perdana kami berhasil mencatatkan 20 kg maggot. Namun, yang paling mengharukan adalah melihat antusiasme warga sekitar yang kini secara mandiri membawa sampah organik mereka ke sini," tambahnya.
Hadijah menyampaikan, Rumah Maggot Garudafood hadir sebagai solusi dalam mengurai permasalahan sampah organik di lingkungan mereka.
Sejak diinisiasi pada tahun 2024, Program Kampung Wirausaha Maggot Garudafood telah berkembang hingga menjangkau tujuh kelurahan di Kota Depok, Jawa Barat, yaitu Jatijajar, Sukmajaya, Depok Jaya, Limo, Meruyung, Tanah Baru, dan Jatimulya, dengan melibatkan lebih dari 60 kepala keluarga.
Berawal dari proyek percontohan di Kelurahan Jatijajar, program ini kini telah bertransformasi menjadi gerakan masyarakat yang menginspirasi perluasan inisiatif serupa ke berbagai wilayah lainnya.
Hingga Juni 2026, program ini tercatat telah menghasilkan 9,7-ton maggot BSF, mengelola lebih dari 100-ton sampah organik rumah tangga, serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sebesar 325-ton CO2e.
Capaian ini menjadi bukti pendekatan berbasis komunitas mampu menghadirkan dampak lingkungan yang terukur sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Rumah Maggot Garudafood dirancang mendukung seluruh proses budi daya, dari fase pembesaran hingga reproduksi.
Bangunan ini terdiri dari rak-rak berisi wadah maggot usia 5–14 hari yang siap panen dan wadah khusus untuk maggot dewasa yang berubah menjadi pupa hingga berwarna hitam, tanda siap menjadi lalat dewasa.
Secara umum, rumah maggot terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah rak penyimpanan bak berisi maggot yang mengurai sampah sisa makanan rumah tangga.
Bagian kedua adalah insectarium, tempat lalat BSF tumbuh, kawin, dan bertelur, sehingga siklus budi daya bisa berlangsung mandiri tanpa perlu bibit dari luar.
Dengan desain yang matang dan pendampingan berkelanjutan, Rumah Maggot Garudafood diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi pengembangan kampung wirausaha maggot di wilayah-wilayah lain.
Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana menyampaikan, Rumah Maggot Garudafood menjadi wujud komitmen Garudafood menjalankan program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.
Pemberdayaan tersebut dilakukan melalui pendekatan creating shared value (CSV) dengan menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.
Dian Astriana menambahkan, pihaknya berkomitmen mereplikasi Program Kampung Wirausaha Maggot ke berbagai wilayah guna memperluas manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
Sejalan dengan itu, Garudafood juga akan membangun ekosistem maggot terintegrasi melalui penguatan budi daya dan pengembangan produk turunan, seperti pakan ternak dan pupuk organik.
"Langkah ini diharapkan dapat menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesejahteraan kelompok binaan secara berkelanjutan," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya