JAKARTA, KOMPAS.com – PT TBS Energi Utama Tbk menilai transisi menuju bisnis rendah karbon tidak lagi sekadar berkaitan dengan reputasi perusahaan, melainkan menjadi bagian dari strategi mengelola risiko finansial.
Senior Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk Triana Krisandini mengatakan analisis Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) yang dilakukan pihak ketiga menunjukkan perusahaan berpotensi menghadapi kerugian hingga 3,8 miliar dollar AS pada 2050 apabila tetap bergantung pada bisnis batu bara.
"Risiko iklim bukan lagi risiko reputasi semata, tetapi sudah menjadi risiko finansial yang nyata bagi neraca perusahaan," ujar Triana dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia
Menurut dia, temuan tersebut menjadi salah satu dasar bagi TBS untuk mempercepat transformasi bisnis menuju sektor-sektor rendah karbon.
Perusahaan menargetkan mencapai netralitas karbon pada 2030 melalui divestasi bertahap aset berbasis batu bara, termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 200 megawatt serta pengurangan produksi tambang.
Triana mengatakan tantangan terbesar bukan terletak pada penjualan aset, melainkan memastikan modal hasil divestasi dapat diinvestasikan kembali ke sektor yang mampu menciptakan pertumbuhan jangka panjang.
Saat ini, TBS memfokuskan pengembangan bisnis pada tiga sektor, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.
Di bidang pengelolaan limbah, perusahaan mengelola lebih dari satu juta ton sampah per tahun melalui sejumlah akuisisi. Sementara di sektor energi terbarukan, TBS mengembangkan pembangkit listrik tenaga minihidro dan pembangkit listrik tenaga surya terapung.
Adapun pada sektor mobilitas listrik, melalui perusahaan patungan dengan GoTo, Electrum, TBS telah mengoperasikan lebih dari 13.500 sepeda motor listrik yang telah menempuh jarak sekitar 240 juta kilometer.
Transformasi tersebut juga mulai tercermin pada struktur pendapatan perusahaan.
Triana mengatakan pada 2022 kontribusi bisnis nonbatu bara masih kurang dari 1 persen terhadap total pendapatan. Namun, pada kuartal I 2024 porsinya meningkat menjadi sekitar 65 persen.
Selain itu, hampir seluruh belanja modal (capital expenditure atau capex) perusahaan pada 2024 dialokasikan untuk pengembangan bisnis di luar batu bara.
Baca juga: Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
"Praktis, sudah tidak ada lagi pembangunan yang mengarah ke bisnis batu bara," kata Triana.
Ia menambahkan, transformasi tersebut turut memperkuat akses perusahaan terhadap pendanaan hijau. Setelah menyusun Climate Transition Plan dan melakukan verifikasi emisi oleh auditor independen, TBS memperoleh skema blended financing dari Asian Development Bank (ADB) untuk pengembangan bisnis kendaraan listrik.
Meski demikian, Triana mengakui proses transisi energi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perkembangan regulasi hingga kebutuhan membangun kepercayaan pasar terhadap arah baru bisnis perusahaan.
"Kami melangkah bukan dengan nekat, tetapi dengan tekad melalui pertimbangan yang matang," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya