Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNDP: Sekitar 70 Persen Ekonomi RI Bergantung pada SDA, Keberlanjutan Jadi Kunci Daya Saing

Kompas.com, 22 Juli 2026, 20:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – United Nations Development Programme (UNDP) menilai keberlanjutan (sustainability) telah menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing ekonomi Indonesia karena sekitar 70 persen aktivitas ekonomi nasional bergantung, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada sumber daya alam (SDA).

UNDP Resident Representative in Indonesia Sara Ferrer Olivella mengatakan ketergantungan tersebut membuat kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga terhadap mata pencaharian jutaan masyarakat.

"Sektor-sektor yang bergantung pada sumber daya alam menopang mata pencaharian jutaan warga Indonesia, baik di bidang pertanian, industri, maupun jasa," ujar Sara dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Baca juga: UNDP Kucurkan Rp 250 Miliar untuk Lindungi Satwa Liar di Indonesia

Menurut dia, sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, dan pertambangan menyumbang sekitar sepertiga perekonomian Indonesia secara langsung. Namun, jika memperhitungkan sektor turunannya, seperti manufaktur, logistik, dan pariwisata, kontribusinya meningkat hingga sekitar 70 persen.

Karena itu, Sara menilai keberlanjutan tidak lagi dapat dipandang semata sebagai agenda lingkungan, melainkan menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi.

"Sustainability tidak lagi hanya menjadi agenda lingkungan. Ini berkaitan dengan produktivitas, ketahanan, keamanan energi, dan daya saing," katanya.

Ia mengatakan perubahan tersebut juga didorong oleh pergeseran tuntutan pasar global. Menurut dia, pembeli, investor, hingga lembaga keuangan kini semakin memperhatikan bagaimana suatu produk dihasilkan, termasuk aspek ketertelusuran (traceability) serta risiko lingkungan yang menyertainya.

Sara mencontohkan penerapan European Union Deforestation Regulation* (EUDR) yang mewajibkan komoditas tertentu memenuhi persyaratan bebas deforestasi sebagai salah satu bentuk perubahan standar perdagangan internasional.

Untuk memperkuat daya saing sekaligus mencapai target pembangunan rendah karbon, UNDP mengusulkan tiga langkah strategis.

Pertama, memperkuat hilirisasi sehingga Indonesia tidak hanya mengekspor komoditas mentah, tetapi juga meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan di dalam negeri.

Kedua, mengarahkan pembiayaan agar lebih banyak mendukung petani kecil dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui akses terhadap kredit, modal kerja, dan instrumen pembiayaan lainnya untuk mendukung praktik usaha yang berkelanjutan.

Baca juga: UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha

Ketiga, menyelaraskan kebijakan dan insentif ekonomi dengan tujuan pelestarian lingkungan, termasuk mengevaluasi berbagai kebijakan yang masih mendorong aktivitas berintensitas karbon tinggi.

Penyusunan taksonomi

Sara juga mengapresiasi penyusunan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai salah satu instrumen yang dapat memperkuat arah investasi menuju pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, ia menilai transformasi menuju ekonomi hijau perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama bagi petani dan pekerja di sektor yang bergantung pada sumber daya alam.

Menurut Sara, Indonesia memiliki peluang besar meningkatkan daya saing global apabila mampu mengelola sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

"Pemenang di masa depan bukan hanya negara yang kaya sumber daya alam, tetapi mereka yang mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan tetap menjaga fondasi alamnya," ujar Sara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau