Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan Lambatnya Kemajuan Perbaikan Gizi Dunia

Kompas.com, 23 Juli 2026, 10:14 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 (SOFI 2026) yang dirilis PBB mengungkapkan perkembangan gizi ibu dan anak di seluruh dunia masih belum cukup untuk mencapai target internasional pada tahun 2030.

Penanganan masalah seperti anak kerdil (stunting), tubuh sangat kurus (wasting), kelebihan berat badan, bayi lahir dengan berat rendah, dan pemberian ASI eksklusif hanya sedikit membaik, serta jalannya terlalu lambat.

Di sisi lain, melansir Phys, Selasa (21/7/2026) masalah kurang darah pada perempuan usia 15–49 tahun justru makin memburuk.

Angka kegemukan pada orang dewasa juga terus naik, dari 12,1 persen pada tahun 2012 menjadi 16,2 persen pada tahun 2024, padahal target awalnya adalah menghentikan kenaikan ini di tahun 2025.

Lebih lanjut, hanya sekitar 30,8 persen anak usia 6–23 bulan di seluruh dunia yang mendapat makanan yang cukup bervariasi, dan masih ada 150 juta anak balita yang mengalami stunting.

Baca juga: Krisis Gizi Indonesia, Kuncinya Reformasi Agraria, Bukan Makan Gratis

Kemajuan perbaikan gizi ini juga berbeda jauh di tiap wilayah. Angka anak kerdil mulai turun di Afrika dan diperkirakan bisa mencapai target tahun 2030 di Asia.

Selain itu, tingkat pemberian ASI eksklusif juga makin membaik di semua wilayah yang memiliki data. Namun, hampir seluruh wilayah di dunia mengalami penanganan anemia pada perempuan yang makin memburuk, sementara angka anak kegemukan melonjak sangat cepat di kawasan Oseania.

Biaya untuk pola makan sehat

Laporan SOFI tahun ini menyoroti lebih dalam pula mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pola makan sehat. Itu merupakan perkiraan biaya terendah untuk membeli makanan lokal yang cukup energi dan nutrisinya.

Menurut FAO dan WHO, pola makan yang sehat adalah makanan yang cukup, seimbang, beragam, serta tidak berlebihan.

Laporan ini menegaskan bahwa tingginya harga makanan masih menjadi penghalang utama untuk mencapai target Bebas Kelaparan (SDG 2). Meski begitu, sekadar menurunkan harga makanan saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Pada tahun 2025, rata-rata biaya untuk makan sehat di dunia naik menjadi 4,28 dolar Purchasing Power Parity (PPP) per orang setiap harinya.

Angka ini meningkat dibanding tahun 2021 (3,44 dolar) dan 2017 (2,94 dolar), dengan biaya tertinggi tercatat di kawasan Amerika Latin dan Karibia (4,91 dolar).

Di sisi lain, jumlah orang yang tidak mampu membeli makanan sehat sebenarnya berkurang dari 2,97 miliar orang (37,4 persen penduduk dunia) pada tahun 2021 menjadi 2,69 miliar orang (32,7 persen) pada tahun 2025.

Namun, kondisi ini sangat tidak merata di tiap wilayah. Di Afrika, situasinya justru makin memburuk. Pada tahun 2025, sebanyak 66,6 persen penduduk Afrika tidak mampu membeli makanan sehat, jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia maupun Amerika Latin dan Karibia.

Biaya untuk pola makan sehat sangat berbeda di tiap wilayah karena perbedaan sistem pertanian dan pangannya. Bahan makanan dari hewan, buah, serta sayur menjadi komponen yang paling mahal, sementara makanan pokok berkarbohidrat menyumbang biaya yang relatif kecil.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau