KOMPAS.com - Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 (SOFI 2026) yang dirilis PBB mengungkapkan perkembangan gizi ibu dan anak di seluruh dunia masih belum cukup untuk mencapai target internasional pada tahun 2030.
Penanganan masalah seperti anak kerdil (stunting), tubuh sangat kurus (wasting), kelebihan berat badan, bayi lahir dengan berat rendah, dan pemberian ASI eksklusif hanya sedikit membaik, serta jalannya terlalu lambat.
Di sisi lain, melansir Phys, Selasa (21/7/2026) masalah kurang darah pada perempuan usia 15–49 tahun justru makin memburuk.
Angka kegemukan pada orang dewasa juga terus naik, dari 12,1 persen pada tahun 2012 menjadi 16,2 persen pada tahun 2024, padahal target awalnya adalah menghentikan kenaikan ini di tahun 2025.
Lebih lanjut, hanya sekitar 30,8 persen anak usia 6–23 bulan di seluruh dunia yang mendapat makanan yang cukup bervariasi, dan masih ada 150 juta anak balita yang mengalami stunting.
Baca juga: Krisis Gizi Indonesia, Kuncinya Reformasi Agraria, Bukan Makan Gratis
Kemajuan perbaikan gizi ini juga berbeda jauh di tiap wilayah. Angka anak kerdil mulai turun di Afrika dan diperkirakan bisa mencapai target tahun 2030 di Asia.
Selain itu, tingkat pemberian ASI eksklusif juga makin membaik di semua wilayah yang memiliki data. Namun, hampir seluruh wilayah di dunia mengalami penanganan anemia pada perempuan yang makin memburuk, sementara angka anak kegemukan melonjak sangat cepat di kawasan Oseania.
Laporan SOFI tahun ini menyoroti lebih dalam pula mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pola makan sehat. Itu merupakan perkiraan biaya terendah untuk membeli makanan lokal yang cukup energi dan nutrisinya.
Menurut FAO dan WHO, pola makan yang sehat adalah makanan yang cukup, seimbang, beragam, serta tidak berlebihan.
Laporan ini menegaskan bahwa tingginya harga makanan masih menjadi penghalang utama untuk mencapai target Bebas Kelaparan (SDG 2). Meski begitu, sekadar menurunkan harga makanan saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Pada tahun 2025, rata-rata biaya untuk makan sehat di dunia naik menjadi 4,28 dolar Purchasing Power Parity (PPP) per orang setiap harinya.
Angka ini meningkat dibanding tahun 2021 (3,44 dolar) dan 2017 (2,94 dolar), dengan biaya tertinggi tercatat di kawasan Amerika Latin dan Karibia (4,91 dolar).
Di sisi lain, jumlah orang yang tidak mampu membeli makanan sehat sebenarnya berkurang dari 2,97 miliar orang (37,4 persen penduduk dunia) pada tahun 2021 menjadi 2,69 miliar orang (32,7 persen) pada tahun 2025.
Namun, kondisi ini sangat tidak merata di tiap wilayah. Di Afrika, situasinya justru makin memburuk. Pada tahun 2025, sebanyak 66,6 persen penduduk Afrika tidak mampu membeli makanan sehat, jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia maupun Amerika Latin dan Karibia.
Biaya untuk pola makan sehat sangat berbeda di tiap wilayah karena perbedaan sistem pertanian dan pangannya. Bahan makanan dari hewan, buah, serta sayur menjadi komponen yang paling mahal, sementara makanan pokok berkarbohidrat menyumbang biaya yang relatif kecil.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya