Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif

Kompas.com, 23 Juli 2026, 18:50 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Lima abad lalu, dunia datang ke Nusantara Timur untuk mencari pala. Rempah-rempah itu menjadikan kepulauan Indonesia sebagai pusat perdagangan dunia.

Namun, di balik kejayaan tersebut, Indonesia hanya menjadi penghasil bahan mentah, sementara sebagian besar nilai tambah justru dinikmati bangsa lain.

Pelajaran sejarah itulah yang kini dijadikan pijakan pemerintah dalam menyusun arah pembangunan nasional.

Baca juga: Negara-negara di ASEAN Mulai Terapkan Standar Sustainability Report

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan Indonesia tidak boleh lagi mengulang pola lama, yakni mengekspor kekayaan alam tanpa menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

"Hutan yang menghasilkan rempah itu berada di negeri ini, masyarakat yang membudidayakannya juga berada di negeri ini. Akan tetapi, sebagian besar nilai tambah yang dihasilkan justru dinikmati di tempat lain," ujar Febrian dalam Lestari Summit 2026 di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, tantangan Indonesia saat ini bukan lagi soal seberapa besar sumber daya alam yang dimiliki, melainkan bagaimana mengolahnya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Karena itu, pemerintah mendorong kebijakan hilirisasi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.

Febrian mencontohkan komoditas nikel yang kini menjadi salah satu mineral strategis dunia seiring berkembangnya industri kendaraan listrik.

"Semua bicara tentang electric vehicle dan Indonesia juga berkomitmen menjadi pusat industri nikel," katanya.

Melalui hilirisasi, pemerintah ingin memastikan proses pengolahan dilakukan di dalam negeri sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Pembangunan berkelanjutan

Namun, menurut Febrian, hilirisasi saja tidak cukup. Ia menilai daya saing Indonesia ke depan juga akan ditentukan oleh kemampuan menjalankan pembangunan yang berkelanjutan.

Selama ini, keberlanjutan kerap dipandang sebagai beban biaya atau penghambat pertumbuhan ekonomi. Padahal, menurut dia, justru aspek tersebut akan menjadi keunggulan dalam persaingan global.

"Keberlanjutan bukanlah tentang memperlambat pembangunan, melainkan tentang peningkatan kualitas pembangunan," ujarnya.

Lebih jauh, Bappenas kini mulai mendorong paradigma Pembangunan Regeneratif (regenerative development), yakni pendekatan yang tidak hanya menjaga kondisi lingkungan tetap lestari, tetapi juga memulihkan dan memperbaikinya.

Baca juga: Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030

Dalam konsep tersebut, pembangunan tidak cukup hanya mempertahankan kualitas hutan, laut, atau tanah, melainkan harus meninggalkan kondisi yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

"Pembangunan regeneratif mengajukan satu pertanyaan mendalam: apakah setiap generasi mampu mewariskan fondasi yang lebih kuat daripada yang mereka terima dari generasi sebelumnya?" kata Febrian.

Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak lagi hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan memperbaiki kualitas lingkungan dan memperkuat ketahanan sumber daya alam.

Untuk mewujudkan transformasi tersebut, pemerintah juga menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas utama.

Transisi menuju ekonomi hijau dan digital diperkirakan akan mengubah kebutuhan tenaga kerja. Karena itu, investasi pada pendidikan, pelatihan vokasi, dan pengembangan talenta dinilai menjadi syarat agar Indonesia mampu bersaing.

Selain itu, pemerintah akan memperkuat pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), data geospasial, dan sistem data nasional yang terintegrasi untuk mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau