Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 23 Juli 2026, 10:02 WIB
Sri Noviyanti,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

REMBANG, KOMPAS.com - Matahari belum terlalu tinggi ketika sejumlah santri mulai beraktivitas di halaman pesantren.

Sebagian membawa karung berisi botol plastik dan kardus bekas, sementara yang lain sibuk memilah sampah organik yang nantinya diolah menjadi kompos. Tak jauh dari lokasi itu, beberapa tanaman terong, kangkung, hingga stroberi tumbuh di dalam pot-pot sederhana.

Bagi orang luar, aktivitas tersebut mungkin tampak seperti rutinitas membersihkan lingkungan. Namun, bagi para santri, setiap kegiatan memiliki makna yang lebih besar.

Dari sana mereka belajar bekerja sama, bertanggung jawab, mencari solusi, hingga memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama.

Pemandangan seperti itu menunjukkan bahwa proses belajar di pesantren kini tidak lagi hanya berlangsung di dalam ruang kelas.

Seiring berkembangnya tantangan yang dihadapi masyarakat, pesantren juga terus beradaptasi menjadi ruang belajar yang membantu anak-anak mengenal kehidupan melalui pengalaman sehari-hari.

Semangat tersebut sejalan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli. Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa membangun masa depan anak bukan hanya melalui pendidikan akademik, melainkan juga dengan menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara utuh.

Selain keluarga sebagai tempat pertama anak belajar, lingkungan pendidikan memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter. Sekolah dan pesantren menjadi ruang bagi anak untuk belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, memimpin, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Di tengah perubahan zaman, kemampuan tersebut menjadi bekal yang sama pentingnya dengan prestasi akademik.

Anak-anak membutuhkan kesempatan untuk belajar dalam menyelesaikan persoalan, berkolaborasi, dan berani mengambil inisiatif sejak dini. Pembelajaran seperti itu sering kali lahir bukan dari teori di dalam kelas, melainkan dari pengalaman yang mereka alami setiap hari.

Sebagai lembaga pendidikan berbasis asrama, salah satu keunggulan yang dimiliki oleh pesantren adalah proses pembelajaran yang berlangsung hampir sepanjang waktu. Interaksi antar santri, pembiasaan hidup mandiri, hingga kegiatan bersama menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dilakukan secara alami.

Tidak mengherankan jika banyak pesantren kini mulai mengembangkan berbagai aktivitas yang menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam, hingga melibatkan santri dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

Tempat untuk belajar lebih di luar ruangan kelas

Pesantren adalah salah satu pilar pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Agama, pada 2025 terdapat 42.435 pesantren dengan 3.164.986 santri yang tersebar di berbagai provinsi.

Dengan ekosistem pendidikan sebesar itu, pesantren memiliki potensi besar untuk tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang yang membentuk karakter, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membiasakan anak-anak menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam keseharian.

Besarnya ekosistem tersebut juga membuka peluang lahirnya berbagai kolaborasi untuk memperkuat proses pembelajaran di pesantren.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau