Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 24 Juli 2026, 11:56 WIB
Sri Noviyanti,
Yohanes Enggar Harususilo

Tim Redaksi

"Saya pulang ke kampung untuk menebus dosa saya."

KOMPAS.com - Kalimat itu diucapkan Trisno dengan tenang. Bukan untuk mencari simpati, melainkan sebagai pengingat atas masa kecil yang pernah ia jalani di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

"Dulu saya juga buang hajat di sungai," kenangnya berbicara di depan peserta Lestari Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Saat ia di jenjang sekolah dasar (SD), toilet hampir tidak ada di desanya. Sungai menjadi tempat mandi, mencuci, sekaligus buang air besar bagi warga. Kondisi tersebut begitu biasa hingga nyaris tak pernah dipertanyakan. Kata dia, desanya kala itu masuk kategori Inpres Desa tertinggal atau IDT dengan status ekonomi di bawah rata-rata.

Ketika berhasil menjadi sarjana pertama dari dusunnya pada 2005, Trisno sebenarnya memiliki kesempatan membangun karier di kota. Namun bayangan kampung halamannya terus mengikutinya. Ia merasa pendidikan yang telah diperoleh seharusnya membawa manfaat bagi tempat ia dibesarkan.

Baca juga: Lewat SATU Indonesia Awards, Astra Apresiasi Kontribusi Generasi Muda

"Saya berpikir, kalau ingin mengubah daerah saya, saya harus belajar. Setelah lulus, tantangannya justru muncul, berani atau tidak kembali ke kampung," lanjutnya.

Ia pun memilih pulang. Sesampainya di Tanon pada 2006, Trisno tidak langsung datang dengan proyek besar. Ia memilih mengamati.

Dari pengamatannya, ia menemukan sedikitnya 28 persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Baginya, setiap persoalan membutuhkan jalan keluar yang berbeda. Ia memulai dari masalah paling mendasar, yakni sanitasi juga hidup bersih.

Namun Trisno menyadari, mengubah kebiasaan masyarakat tidak cukup hanya dengan sosialisasi. Warga membutuhkan alasan yang membuat mereka mau berubah, dan alasan itu adalah kesejahteraan.

"Saya tidak hanya datang lalu bilang jangan buang hajat di sungai. Harus ada langkah konkret," ujarnya.

Baca juga: 16th Satu Indonesia Awards 2025, Jaring Inspirator di Tanah Papua

Alih-alih menggurui, ia mendekati warga melalui aktivitas yang mereka kenal sehari-hari. Ia berdiskusi dengan petani, peternak, dan kelompok masyarakat lain untuk mencari peluang meningkatkan pendapatan. Menurutnya, ketika kondisi ekonomi membaik, masyarakat akan lebih mudah menerima perubahan.

Proses itu berlangsung bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit, warga mulai membangun toilet di rumah masing-masing. Hingga akhirnya, lebih dari 100 toilet berdiri di Dusun Tanon dan kebiasaan buang air besar di sungai perlahan ditinggalkan.

Namun bagi Trisno, satu persoalan selesai berarti persoalan lain menunggu.
Mayoritas orang tua di desanya berharap anak-anak mereka bekerja di pabrik. Menjadi petani dianggap tidak menjanjikan karena pendapatannya tidak pasti.

"Saya berpikir, kalau semua orang meninggalkan profesi petani, suatu saat negara ini bisa kehilangan penyangga pangannya," jelasnya.

Dari kegelisahan itulah lahir gagasan yang kemudian dikenal sebagai Outbound Ndeso. Bukan outbound di kawasan wisata modern, melainkan aktivitas yang memanfaatkan kehidupan desa sebagai ruang belajar. Sawah, sungai, kebun, hingga keseharian warga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Meski masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan, Tanon memiliki latar pemandangan indah.

Baca juga: Kisah Seni Tani, Penerima SATU Indonesia Awards 2021 Ubah Lahan Tidur Jadi Kebun Pangan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
LSM/Figur
Harganya Mahal, Peduli Bumi Belum Tentu Beli Pakaian Ramah Lingkungan
Harganya Mahal, Peduli Bumi Belum Tentu Beli Pakaian Ramah Lingkungan
Pemerintah
Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2019, Puncaknya Bulan September di Kalbar
Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2019, Puncaknya Bulan September di Kalbar
LSM/Figur
Krisis Iklim Memburuk, PBB Soroti Kerusakan Parah pada Lapisan Es Dunia
Krisis Iklim Memburuk, PBB Soroti Kerusakan Parah pada Lapisan Es Dunia
Pemerintah
Perempuan Tani HKTI Kembangkan Smart Farming Berbasis IoT di Batam
Perempuan Tani HKTI Kembangkan Smart Farming Berbasis IoT di Batam
LSM/Figur
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Pemerintah
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
LSM/Figur
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
Swasta
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Pemerintah
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
LSM/Figur
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Pemerintah
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Pemerintah
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau