"Saya pulang ke kampung untuk menebus dosa saya."
KOMPAS.com - Kalimat itu diucapkan Trisno dengan tenang. Bukan untuk mencari simpati, melainkan sebagai pengingat atas masa kecil yang pernah ia jalani di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
"Dulu saya juga buang hajat di sungai," kenangnya berbicara di depan peserta Lestari Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Saat ia di jenjang sekolah dasar (SD), toilet hampir tidak ada di desanya. Sungai menjadi tempat mandi, mencuci, sekaligus buang air besar bagi warga. Kondisi tersebut begitu biasa hingga nyaris tak pernah dipertanyakan. Kata dia, desanya kala itu masuk kategori Inpres Desa tertinggal atau IDT dengan status ekonomi di bawah rata-rata.
Ketika berhasil menjadi sarjana pertama dari dusunnya pada 2005, Trisno sebenarnya memiliki kesempatan membangun karier di kota. Namun bayangan kampung halamannya terus mengikutinya. Ia merasa pendidikan yang telah diperoleh seharusnya membawa manfaat bagi tempat ia dibesarkan.
Baca juga: Lewat SATU Indonesia Awards, Astra Apresiasi Kontribusi Generasi Muda
"Saya berpikir, kalau ingin mengubah daerah saya, saya harus belajar. Setelah lulus, tantangannya justru muncul, berani atau tidak kembali ke kampung," lanjutnya.
Ia pun memilih pulang. Sesampainya di Tanon pada 2006, Trisno tidak langsung datang dengan proyek besar. Ia memilih mengamati.
Dari pengamatannya, ia menemukan sedikitnya 28 persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Baginya, setiap persoalan membutuhkan jalan keluar yang berbeda. Ia memulai dari masalah paling mendasar, yakni sanitasi juga hidup bersih.
Namun Trisno menyadari, mengubah kebiasaan masyarakat tidak cukup hanya dengan sosialisasi. Warga membutuhkan alasan yang membuat mereka mau berubah, dan alasan itu adalah kesejahteraan.
"Saya tidak hanya datang lalu bilang jangan buang hajat di sungai. Harus ada langkah konkret," ujarnya.
Baca juga: 16th Satu Indonesia Awards 2025, Jaring Inspirator di Tanah Papua
Alih-alih menggurui, ia mendekati warga melalui aktivitas yang mereka kenal sehari-hari. Ia berdiskusi dengan petani, peternak, dan kelompok masyarakat lain untuk mencari peluang meningkatkan pendapatan. Menurutnya, ketika kondisi ekonomi membaik, masyarakat akan lebih mudah menerima perubahan.
Proses itu berlangsung bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit, warga mulai membangun toilet di rumah masing-masing. Hingga akhirnya, lebih dari 100 toilet berdiri di Dusun Tanon dan kebiasaan buang air besar di sungai perlahan ditinggalkan.
Namun bagi Trisno, satu persoalan selesai berarti persoalan lain menunggu.
Mayoritas orang tua di desanya berharap anak-anak mereka bekerja di pabrik. Menjadi petani dianggap tidak menjanjikan karena pendapatannya tidak pasti.
"Saya berpikir, kalau semua orang meninggalkan profesi petani, suatu saat negara ini bisa kehilangan penyangga pangannya," jelasnya.
Dari kegelisahan itulah lahir gagasan yang kemudian dikenal sebagai Outbound Ndeso. Bukan outbound di kawasan wisata modern, melainkan aktivitas yang memanfaatkan kehidupan desa sebagai ruang belajar. Sawah, sungai, kebun, hingga keseharian warga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Meski masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan, Tanon memiliki latar pemandangan indah.
Baca juga: Kisah Seni Tani, Penerima SATU Indonesia Awards 2021 Ubah Lahan Tidur Jadi Kebun Pangan
Konsep itu kemudian berkembang menjadi Desa Wisata Menari Tanon, yang saat ini dikenal dengan Desa Sejahtera Astra Tanon. Wisatawan tidak hanya diajak bermain di alam, tetapi juga menikmati kehidupan desa, belajar bertani, mencicipi kuliner lokal, menginap di rumah warga, hingga menyaksikan pertunjukan seni tradisional.
Kesenian yang sempat redup pun kembali hidup. Para sesepuh desa mengajarkan tari keprajuritan, rodat, kuda lumping, dan kesenian lain kepada generasi muda. Di sisi lain, warga memperoleh penghasilan tambahan sebagai pemandu wisata, penari, pengelola homestay, penyedia konsumsi, hingga pelaku usaha kecil.
Bagi Trisno, pariwisata bukan tujuan akhir, justru ini jadi alat untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Baca juga: SATU Indonesia Awards 2025 Dibuka, Daftar dan Jadi Anak Muda Berdampak
Perjalanan panjang tersebut kemudian mengantarkan Trisno menerima SATU Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk pada 2015.
Menurutnya, dampak terbesar dari penghargaan itu bukan semata pengakuan, melainkan terbukanya akses kolaborasi. Desa Tanon semakin dikenal, lebih banyak media datang meliput, pemerintah daerah mulai memberi perhatian, dan berbagai pihak menawarkan kerja sama.
"Bagi kami, publikasi itu sangat berarti. Program-program yang sebelumnya berjalan lambat menjadi lebih cepat karena semakin banyak yang mendukung."
Salah satu contohnya adalah penyelesaian tata kelola distribusi air bersih yang baru rampung pada 2024. Persoalan yang selama bertahun-tahun memicu potensi konflik di masyarakat akhirnya dapat diatasi melalui kolaborasi berbagai pihak.
Kisah Trisno menjadi salah satu contoh yang disoroti dalam talkshow "SATU Indonesia Awards: Empowering Local Changemakers for Sustainable Impact", yang menghadirkan Head of Media Relations PT Astra International Tbk, Putri Permatasari.
Head of Media Relations PT Astra International Tbk, Putri Permatasari hadir dalam talkshow pada gelaran Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).Menurut Putri, banyak perubahan juga lahir dari desa, digerakkan oleh orang-orang yang memahami persoalan di lingkungannya sendiri.
"Ada banyak local champion yang bekerja dalam diam. Mereka mungkin tidak banyak dikenal, tetapi dampaknya sangat besar bagi masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Lewat SATU Indonesia Awards, Astra Apresiasi Kontribusi Generasi Muda
Karena itu, Astra memandang para local changemaker sebagai mitra pembangunan. Mereka tidak hanya penerima apresiasi, tetapi juga bagian dari ekosistem yang dapat menginspirasi daerah lain untuk melakukan perubahan serupa.
Hingga kini, SATU Indonesia Awards telah melahirkan ratusan penerima apresiasi dari berbagai bidang. Melalui jejaring yang dibangun, para penerima didorong untuk saling belajar, berkolaborasi, serta memperluas dampak program mereka ke wilayah lain.
Upaya tersebut juga diperkuat melalui program Desa Sejahtera Astra yang telah menjangkau sekitar 1.000 desa di berbagai daerah.
Baca juga: Astra Apresiasi 5 Pemuda Inspiratif di SATU Indonesia Awards 2024
Bagi Putri, filosofi itu sejalan dengan Catur Dharma Astra yang salah satunya adalah menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
"Kita tidak bisa membangun Indonesia hanya dengan satu tangan. Satu tangan akan lelah. Kita membutuhkan tangan-tangan lain, karena satu kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya," papar Putri.
Pesan itu terasa selaras dengan perjalanan Trisno selama hampir dua dekade terakhir.
Ia tidak mengubah desanya dalam semalam. Perubahan hadir melalui langkah-langkah kecil yang dikerjakan terus-menerus, dari memperbaiki sanitasi, menggerakkan ekonomi, menghidupkan kembali budaya, hingga membangun rasa percaya diri masyarakat terhadap kampungnya sendiri.
Di tengah derasnya arus urbanisasi, kisah Trisno menunjukkan bahwa memilih pulang bukan berarti mundur. Sebaliknya, dari satu dusun di lereng Gunung Telomoyo, ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari seseorang yang mengenal kampungnya, percaya pada warganya, dan bersedia berjalan bersama mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya