KOMPAS.com - Penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan akan meningkat pada tahun 2026. Hal ini dipicu oleh sulitnya pasokan dan melonjaknya harga gas alam akibat perang di Timur Tengah, menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA).
Melansir Phys, Kamis (23/7/2026) konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah menyebabkan pemblokiran rutin di Selat Hormuz sejak Maret 2026. Padahal, selat tersebut merupakan jalur lintasan bagi 20 persen gas alam cair (LNG) dunia. Kondisi ini memaksa sejumlah negara kembali berpaling ke batu bara.
"Akibatnya, pembangkit listrik batu bara secara global diperkirakan naik 1,4 persen pada tahun 2026, setelah sempat relatif stabil pada tahun 2025," tulis IEA dalam laporan terbarunya.
Baca juga: TBS Energi: Bertahan di Bisnis Batu Bara Bisa Timbulkan Kerugian 3,8 Miliar Dollar AS pada 2050
Peningkatan penggunaan pembangkit listrik batu bara ini juga disebabkan oleh lonjakan harga energi secara umum di tahun 2026.
Harga energi melonjak 30 persen dibandingkan paruh pertama tahun 2025 dan berada di level tertinggi sejak krisis energi tahun 2022 dan 2023 yang sempat dipicu oleh perang di Ukraina.
Dampaknya, emisi karbon dioksida (CO2) global dari pembangkit listrik diperkirakan akan naik 1 persen pada tahun 2026, dengan perbedaan yang cukup jauh di tiap wilayah.
Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami kenaikan emisi hingga 6 persen, sementara Uni Eropa justru mencatatkan penurunan emisi sebesar 5 persen.
Meski begitu, emisi CO2 diperkirakan akan kembali stabil pada tahun 2027 berkat pesatnya pertumbuhan pembangkit listrik energi terbarukan. Energi terbarukan ini mulai menyalip batu bara sebagai sumber listrik terbesar di dunia, setelah posisinya sempat hampir setara pada tahun 2025.
Pasokan energi terbarukan diperkirakan akan melonjak 8 persen pada tahun 2026. Porsinya dalam penyediaan listrik dunia juga diprediksi naik dari 33 persen di tahun 2025 menjadi 37 persen pada tahun 2027.
Pertumbuhan sektor ini terutama didorong oleh tenaga surya. Produksi listrik dari tenaga surya diperkirakan akan melampaui tenaga angin pada tahun 2026, sehingga menjadi sumber listrik terbarukan terbesar kedua di dunia setelah tenaga air.
Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia
Secara keseluruhan, permintaan listrik dunia diproyeksikan terus melonjak tajam, terutama dipicu oleh kebutuhan industri, mobil listrik, dan pusat data.
Laporan tersebut memperkirakan pertumbuhan permintaan listrik akan mencapai 3,6 persen pada tahun 2026 dan 3,8 persen pada tahun 2027, meningkat dibandingkan kenaikan sebesar 3 persen pada tahun 2025.
Selain itu, fenomena iklim alami El Niño yang meningkatkan suhu bumi dan mengubah pola angin berdampak lebih kuat dari yang diperkirakan pada tahun ini.
"Fenomena cuaca ini dapat memengaruhi permintaan listrik karena meningkatkan kebutuhan pendingin udara serta membatasi produksi listrik dari tenaga air dan tenaga angin," ungkap IEA.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya