Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI

Kompas.com, 27 Juli 2026, 13:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Riset menunjukkan bahwa sebanyak 92 persen direktur keuangan (CFO) dan petinggi bidang keuangan merasa tertekan untuk membuktikan bahwa investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Hal itu terungkap dari hasil survei Avalara, penyedia perangkat lunak kepatuhan pajak berbasis AI. Hasil lainnya, hanya 7 persen yang mengaku perusahaan mereka lebih mengutamakan pengawasan dan aturan AI dibandingkan kecepatan pengadopsiannya, .

Melansir ESG Dive, Kamis, (23/7/2026) Avalara, menyampaikan bahwa 44 persen responden hanya "agak yakin" mampu menjelaskan cara kerja sistem AI mereka kepada auditor atau regulator.

Sementara itu, 76 persen menyatakan perusahaan mereka masih kekurangan tenaga ahli internal yang benar-benar memahami cara kerja AI tersebut.

Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi

“Hampir semua pemimpin yang kami survei merasakan tekanan pribadi untuk membuktikan bahwa investasi AI ini memberikan hasil nyata,” ujar Jayme Fishman, Wakil Presiden Eksekutif Avalara.

“Sementara itu, sistem pengawasan, tenaga ahli, dan pertanggungjawaban yang seharusnya menopang teknologi tersebut masih dalam tahap dibangun,” paparnya lagi.

Pengeluaran dunia untuk AI diperkirakan melonjak 47 persen tahun ini menjadi 2,6 triliun dolar AS dari 1,76 triliun dolar AS pada tahun 2025, menurut Gartner.

Nilai ini bahkan melebihi total pendapatan ekonomi (PDB) negara Kanada dan Australia. Pada tahun 2030, investasi AI diproyeksikan bakal naik lagi hingga 120 persen menjadi 5,62 triliun dolar AS.

Kepanikan untuk segera memakai AI, menempatkan para CFO dalam posisi dilematis. Mereka harus menjadi benteng utama agar perusahaan tidak boros, tetapi di sisi lain terus ditekan oleh investor dan persaingan bisnis untuk mendanai proyek-proyek AI yang terlihat menjanjikan untung besar.

“Hal yang paling menarik perhatian saya adalah dilema besar yang harus dihadapi para pimpinan keuangan setiap hari,” ujar CEO Avalara, Hugo Sarrazin.

“Mereka diminta bergerak cepat, membuktikan hasil kerja, dan memodernisasi proses penting, sambil tetap harus menjaga sistem pengawasan dan aturan yang menjadi tumpuan bisnis mereka,” tambahnya.

Pengawasan AI masih tertinggal

Sebagai tanda bahwa pengawasan AI masih tertinggal dibanding pengadopsiannya, 30 persen responden menyatakan bahwa perusahaan mereka belum memperbarui aturan dan pengawasan internal selama satu tahun terakhir, berdasarkan survei Avalara terhadap 1.505 CFO dan eksekutif keuangan senior.

Selain itu, separuh dari responden mengungkapkan bahwa penggunaan AI di perusahaan mereka baru menghasilkan imbal hasil (ROI) yang sangat terbatas.

Tanggung jawab atas kesalahan yang dibuat AI juga masih belum jelas. Sebanyak 23 persen responden mengaku bahwa jika terjadi masalah, tidak ada yang bertanggung jawab atau pelakunya tidak pasti, menurut Avalara.

Baca juga: Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen

Selain itu, 46 persen responden menyatakan bahwa rencana penanganan masalah AI di perusahaan mereka belum pernah diuji atau masih dalam tahap pembuatan. Hanya 28 persen perusahaan yang mewajibkan adanya catatan jejak audit resmi untuk menunjukkan bagaimana AI membuat suatu keputusan.

Sebab itu, perusahaan seharusnya membangun dan mengoperasikan AI menggunakan data spesifik yang sudah terverifikasi, serta memastikan proses pengambilan keputusannya bisa dipahami secara transparan.

Aturan pengawasan dan tanggung jawab yang jelas seharusnya disiapkan sebelum AI resmi digunakan, bukan setelahnya. Selain itu, perusahaan yang mulai memakai AI sebaiknya memilih mitra yang berpengalaman di bidang keuangan dan kepatuhan aturan, ujarnya.

Survei Avalara ini mengumpulkan tanggapan pada bulan Juni dari para CFO dan pimpinan senior keuangan di perusahaan-perusahaan dengan pendapatan tahunan minimal 10 juta dolar AS di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan India.

Seluruh responden telah menggunakan, menguji, atau mengevaluasi teknologi AI di organisasi mereka setidaknya selama 12 bulan terakhir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau